Bulog: Impor 100 ribu ton kedelai terealisasi akhir 2013
Rabu, 04 September 2013 - 16:09 WIB
Bulog: Impor 100 ribu ton kedelai terealisasi akhir 2013
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Utama (Dirut) PT Perum Bulog, Soetarto Alimoeso tidak yakin dapat mengimpor kedelai sebanyak 100 ribu ton dalam waktu dekat, meski sudah dapat izin dari pemerintah.
Dia menuturkan, rentang waktu antara pemberian izin impor dengan realisasi impr biasanya memakan waktu 6-7 bulan. Karena izin impor baru diberikan, maka dia menjanjikan paling cepat kedelai impor tersebut baru bisa masuk pada akhir 2013.
"Kalau izin (impor) diberikan pada Maret atau April, maka Oktober baru bisa masuk. Tapi karena izin baru keluar, otomatis mundur, paling cepat akhir tahun," ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (4/9/2013).
Soetarto juga mengaku, pihaknya telah menjalin kemungkinan impor kedelai dari Brazil, selain Amerika Serikat (AS) untuk meminimalisir dampak melemahnya rupiah terhadap USD. Namun, hal tersebut terkendala jarak yang lebih jauh dari Indonesia.
"Negara lain seperti Brazil juga ada kemungkinan, tapi akan lebih lama. Kalau bisa langsung ke produsen merangkap eksportir itu bisa lebih murah," jelasnya.
Dia juga sedang melihat negara lainnya seperti India dan Myanmar sebagai negara yang bisa mengimpor kedelai ke Indonesia. Namun, pihaknya akan lebih dulu melihat kedelai dua negara tersebut bisa diolah menjadi tempe dan tahu atau tidak.
"India, bahkan Myanmar kita lihat cocok enggak dengan kebutuhan produsen tahu dan tempe. Kita sudah melakukan penjajakan, jadi melakukan ulang kontak bisnis," pungkas Soetarto.
Dia menuturkan, rentang waktu antara pemberian izin impor dengan realisasi impr biasanya memakan waktu 6-7 bulan. Karena izin impor baru diberikan, maka dia menjanjikan paling cepat kedelai impor tersebut baru bisa masuk pada akhir 2013.
"Kalau izin (impor) diberikan pada Maret atau April, maka Oktober baru bisa masuk. Tapi karena izin baru keluar, otomatis mundur, paling cepat akhir tahun," ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (4/9/2013).
Soetarto juga mengaku, pihaknya telah menjalin kemungkinan impor kedelai dari Brazil, selain Amerika Serikat (AS) untuk meminimalisir dampak melemahnya rupiah terhadap USD. Namun, hal tersebut terkendala jarak yang lebih jauh dari Indonesia.
"Negara lain seperti Brazil juga ada kemungkinan, tapi akan lebih lama. Kalau bisa langsung ke produsen merangkap eksportir itu bisa lebih murah," jelasnya.
Dia juga sedang melihat negara lainnya seperti India dan Myanmar sebagai negara yang bisa mengimpor kedelai ke Indonesia. Namun, pihaknya akan lebih dulu melihat kedelai dua negara tersebut bisa diolah menjadi tempe dan tahu atau tidak.
"India, bahkan Myanmar kita lihat cocok enggak dengan kebutuhan produsen tahu dan tempe. Kita sudah melakukan penjajakan, jadi melakukan ulang kontak bisnis," pungkas Soetarto.
(izz)
Lihat Juga :