Akhir pekan, rupiah diproyeksi kembali tertekan
Jum'at, 06 September 2013 - 08:23 WIB
Akhir pekan, rupiah diproyeksi kembali tertekan
A
A
A
Sindonews.com - Rupiah terus menunjukkan tren pelemahan di tengah semakin optimisnya pemerintah Amerika mengurangi stimulus ekonominya, yang ditafsirkan akan menyebabkan peredaran dolar Amerika Serikat (USD) semakin terbatas.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memproyeksikan, pergerakan nilai tukar rupiah pada hari terakhir pekan ini akan berada pada kisaran Rp11.095-11.155/USD berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) setelah pada hari kemarin sempat menyentuh level Rp11.650/USD.
"Rupiah kembali mendekati target support kami di Rp11.170/USD seiring dengan respon negatif pasar terhadap rilis kenaikan data-data dalam redbook dan beige book AS yang menunjukkan perbaikan perekonomian AS," kata Reza, Jumat (6/9/2013).
Rilis tersebut, lanjut Reza, memberikan kesan bahwa The Fed merasa optimis terhadap kondisi perekonomiannya dan nantinya terkait dengan penarikan stimulus The Fed.
Di sisi lain, pelaku pasar juga sedikit menahan diri jelang pertemuan BoJ. Lalu, juga ada pertermuan ECB. Masing-masing pertemuan tersebut akan membahas mengenai suku bunga acuan dan keberlanjutan tingkat bunga rendahnya.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memproyeksikan, pergerakan nilai tukar rupiah pada hari terakhir pekan ini akan berada pada kisaran Rp11.095-11.155/USD berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) setelah pada hari kemarin sempat menyentuh level Rp11.650/USD.
"Rupiah kembali mendekati target support kami di Rp11.170/USD seiring dengan respon negatif pasar terhadap rilis kenaikan data-data dalam redbook dan beige book AS yang menunjukkan perbaikan perekonomian AS," kata Reza, Jumat (6/9/2013).
Rilis tersebut, lanjut Reza, memberikan kesan bahwa The Fed merasa optimis terhadap kondisi perekonomiannya dan nantinya terkait dengan penarikan stimulus The Fed.
Di sisi lain, pelaku pasar juga sedikit menahan diri jelang pertemuan BoJ. Lalu, juga ada pertermuan ECB. Masing-masing pertemuan tersebut akan membahas mengenai suku bunga acuan dan keberlanjutan tingkat bunga rendahnya.
(rna)