Kembangkan sapi, BUMN bertekad beli lahan di Australia
Rabu, 11 September 2013 - 14:02 WIB
Kembangkan sapi, BUMN bertekad beli lahan di Australia
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan mengatakan, pemerintah siap membeli lahan untuk pengembangan sapi. Tak tanggung-tanggung, dalam waktu dekat pemerintah akan membeli lahan seluas 1 juta hektare di Australia.
"Untuk mengatasi masalah ternak, kita harus beli lahan 1 juta hektare di Australia. Tapi hanya khusus untuk melahirkan sapi," ucap Dahlan di Kampus Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/9/2013).
Teknisnya, sapi dari Indonesia akan dibawa ke Australia. Di sana sapi akan dikembangkan untuk pembibitan. Bibit sapi yang baru berusia beberapa bulan kemudian akan dibawa ke Indonesia.
"Setelah sapi lahir dan berusia beberapa bulan, dibawa ke Indonesia, digemukkan di Indonesia," jelasnya.
Alasan rencana pembelian lahan salah satu pertimbangannya adalah proses melahirkan bayi sapi di Australia lima kali lebih murah ketimbang di Indonesia. Sebab di sana sapi dibiarkan berkembang biak secara alami di padang rumput yang luas. Gen sapi pun terpelihara dengan baik.
Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia. Ia mengaku pernah berusaha mengembangbiakkan sapi di Sumba dan Sumatera Selatan di padang seluas 10 ribu hektare. Hasilnya, gen sapi mengalami penurunan kualitas karena sapi-sapi itu lahir dari perkawinan inses atau sedarah.
"Kalau di Indonesia, sapi dibiarkan liar, maka terjadi pernikahan inses, jantan bisa kawini ibunya, kakaknya, sehingga terjadi penurunan gen atau keturunannya jelek. Sedangkan di Australia tidak terjadi seperti itu karena ketika lahir, (sapi) jantan itu langsung dikebiri," tutur Dahlan.
Sementara untuk proses penggemukan sapi, hal itu jauh lebih murah dilakukan di Indonesia. "Biaya penggemukan sapi di Indonesia lebih murah tiga kali lipat dibanding di Australia," kata Dahlan.
Dengan pengembangbiakan sapi di Australia, kualitas sapi untuk dikonsumsi diharapkan tetap terjaga. Di sisi lain, kebutuhan konsumsi daging sapi bagi warga Indonesia juga akan tetap terpenuhi.
"Untuk mengatasi masalah ternak, kita harus beli lahan 1 juta hektare di Australia. Tapi hanya khusus untuk melahirkan sapi," ucap Dahlan di Kampus Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/9/2013).
Teknisnya, sapi dari Indonesia akan dibawa ke Australia. Di sana sapi akan dikembangkan untuk pembibitan. Bibit sapi yang baru berusia beberapa bulan kemudian akan dibawa ke Indonesia.
"Setelah sapi lahir dan berusia beberapa bulan, dibawa ke Indonesia, digemukkan di Indonesia," jelasnya.
Alasan rencana pembelian lahan salah satu pertimbangannya adalah proses melahirkan bayi sapi di Australia lima kali lebih murah ketimbang di Indonesia. Sebab di sana sapi dibiarkan berkembang biak secara alami di padang rumput yang luas. Gen sapi pun terpelihara dengan baik.
Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia. Ia mengaku pernah berusaha mengembangbiakkan sapi di Sumba dan Sumatera Selatan di padang seluas 10 ribu hektare. Hasilnya, gen sapi mengalami penurunan kualitas karena sapi-sapi itu lahir dari perkawinan inses atau sedarah.
"Kalau di Indonesia, sapi dibiarkan liar, maka terjadi pernikahan inses, jantan bisa kawini ibunya, kakaknya, sehingga terjadi penurunan gen atau keturunannya jelek. Sedangkan di Australia tidak terjadi seperti itu karena ketika lahir, (sapi) jantan itu langsung dikebiri," tutur Dahlan.
Sementara untuk proses penggemukan sapi, hal itu jauh lebih murah dilakukan di Indonesia. "Biaya penggemukan sapi di Indonesia lebih murah tiga kali lipat dibanding di Australia," kata Dahlan.
Dengan pengembangbiakan sapi di Australia, kualitas sapi untuk dikonsumsi diharapkan tetap terjaga. Di sisi lain, kebutuhan konsumsi daging sapi bagi warga Indonesia juga akan tetap terpenuhi.
(gpr)
Lihat Juga :