Produksi sawit RI masih kalah dari Malaysia

Senin, 16 September 2013 - 15:41 WIB
Produksi sawit RI masih...
Produksi sawit RI masih kalah dari Malaysia
A A A
Sindonews.com - Deputi Teknologi Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto mengatakan, produksi sawit dalam negeri masih kalah dari Malaysia.

Menurutnya, rata-rata hasil produksi sawit dalam negeri dari lahan produksi mencapai 3 ton per hektare (ha). Angka ini masih tertinggal dari Malaysia yang sudah mampu menghasilkan 5 ton dari setiap satu ha.

"Malaysia menggunakan teknologi pertanian yang tinggi seperti pembibitan dan teknologi penanaman yang lebih baik dari kita," kata dia saat ditemui di kantor BPPT di Jakarta, Senin (16/9/2013).

Sebelumnya, dia mengatakan, BPPT mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Sementara, hasil produksi kelapa sawit Indonesia saat ini sebesar 23 juta ton atau setara dengan 25 juta kiloliter.

Dari jumlah tersebut diambil untuk kebutuhan pangan maksimum 8 juta kiloliter. Dengan jumlah seperti itu, masih tersedia 17 juta kiloliter. Sedangkan total konsumsi solar dalam negeri mencapai 31 juta kiloliter.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi BPPT, Adiarso mengatakan, pabrik Biofuel untuk Biodiesel idealnya terintegrasi dengan kebun dan lahannya sendiri. Karena biaya produksinya hanya sekitar 4.000 per liter.

Menurutnya, jika biaya produksi mengalami kenaikan tidak akan mengalami masalah berarti, karena ketersediaan bahan baku terjamin, biaya produksi yang lebih rendah dan adanya distribusi BBN yang lebih baik.

Selain itu, pemerintah sudah menerapkan pajak ekspor yang floating atau berubah mengikuti harga CPO (crude palm oil). Jika dikumpulkan tahun lalu bea ekspor sawit mencapai Rp30 triliun. Dengan demikian, besaran subsidi untuk CPO seharusnya tidak dipatok tetapi mengikuti harga bahan baku. Misalnya harga dipatok, saat harga CPO naik maka akan sulit.

Seharusnya, kata dia, pemerintah tidak mematok harga subsidi BBM sebesar Rp3000, namun mengikuto floting. Hal ini dikarenakan 75-85 persen adalah harga bahan baku. "Diperlukan kebijakan fiskal untuk harga CPO karena kalau harga CPO naik maka harga lainnya naik," ujarnya.

Selain itu, kata Adiarso pemerintah dapat memberikan konsesi pembukaan lahan sawit untuk penanaman biodiesel, peningkatan jumlah mandatori untuk meningkatkan prosentasi pemakaian BBN dari 10 persen juga dapat dilakukan.

"Intinya adalah komitmen nasional yang harus kuat untuk mengaplikasikan yang telah di dibuat," tegasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah Diminta Gulirkan...
Pemerintah Diminta Gulirkan Gerakan Hemat BBM
Rahasia Hemat Energi...
Rahasia Hemat Energi Ternyata Ada di Dapur! Ini Cara Masak yang Efisien
Perhatikan, Ini 5 Cara...
Perhatikan, Ini 5 Cara Biar Mobil Hemat Bahan Bakar
Harga BBM Naik, Begini...
Harga BBM Naik, Begini 10 Tips Menghemat BBM pada Mobil
Inilah Tips Hemat BBM...
Inilah Tips Hemat BBM Ketika Terjebak Macet Mudik Lebaran 2022
Dukung Imbauan Prabowo...
Dukung Imbauan Prabowo Subianto untuk Hemat BBM, Guru Besar Unand:  Konsumsi Sewajarnya Saja
Berita Terkini
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
13 menit yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
26 menit yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
10 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
11 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
13 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved