Pasca mogok, penjualan tahu-tempe turun 20%

Senin, 16 September 2013 - 16:57 WIB
Pasca mogok, penjualan...
Pasca mogok, penjualan tahu-tempe turun 20%
A A A
Sindonews.com - Setelah para pedagang tahu dan tempe melakukan mogok produksi pada pekan lalu akibat kenaikan harga kedelai impor, kini penjualannya mengalami penurunan hingga 20 persen.

Berdasarkan pantauan Sindonews di sejumlah pasar di Kota Bandung, penjualan tahu-tempe menurun 20 persen. Di Pasar Cihaurgeulis, Bandung, para pedagang mengeluhkan turunnya angka penjualan. Dari biasanya 2.500 sampai 3.000 tahu terjual per hari di setiap pedagang. Kini hanya sekitar 2.000 tahu.

Begitu pun di Pasar Kosambi dan Pasar Simpang Dago yang dikeluhkan pembeli akibat kenaikan tersebut. Seorang pedagang di Pasar Cihaurgeulis, Oo Rohana mengatakan dalam sehari biasanya bisa menjual 3.000 tahu. Namun pasca kenaikan kedelai penjualannya menurun menjadi 2.400 tahu.

"Biasanya jam segini sudah habis, tapi sekarang masih ada sisa. Padahal jumlahnya sudah dikurangi," kata Oo, Senin (16/9/13).

Dia mengaku tidak menaikkan harga terlalu jauh, yakni hanya Rp100. Namun tetap saja banyak yang urung membeli. "Ya ini bisa dibilang barang ada tapi pembeli kurang. Kalau kemarin pedagang tidak ada, yang mau beli banyak. Itu pun sama saja dengan tempe," ungkap pria 58 tahun itu.

Hal yang sama diungkapkan Samha, pedagang tahu di Pasar Kosambi yang mengaku penjualannya menurun hingga 20 persen sejak harga tahu dan tempe dinaikkan. Padahal, sejumlah cara telah dilakukan untuk menekan harga tersebut.

"Agar tidak naik terlalu jauh, saya coba buat ukuran yang sedikit lebih kecil. Tapi tetap saja pembeli banyak yang mengeluh. Katanya sekarang mahal padahal hanya naik Rp50," kata Samha.

Menurutnya, saat mogok produksi, para pembeli menyangka harga akan turun, tapi keinginan itu tidak tercapai. "Ya mungkin pembeli kecewa karena ternyata naik. Tapi bagaimana lagi, terpaksa dinaikan karena memang harga kedelai sekarang sudah Rp9.300 per kg, padahal pas Ramadan hanya Rp7.600," tuturnya.

Kenaikan tersebut, kata Samha, jelas berpengaruh. Karena jumlah kedelai yang digunakan tidak sedikit. "Biasanya sekali belanja itu satu ton atau paling sedikit lima kuintal. Maka jelas jika ini berpengaruh besar buat kami," tambahnya.

Sejauh ini permasalahan kedelai masih didiskusikan pihak pemerintah pusat melalui Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Kesediaan kedelai yang terbatas masih menjadi kendala tinggi harga kedelai.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Kedelai Meroket,...
Harga Kedelai Meroket, Disperindag dan Polda Banten Sidak Gudang
Mencari Solusi Meredam...
Mencari Solusi Meredam Gejolak Harga Kedelai
Abai dengan Impor Kedelai,...
Abai dengan Impor Kedelai, Sampai Kapan?
Masih Ada Peluang Indonesia...
Masih Ada Peluang Indonesia Tak Bergantung pada Kedelai Impor
Ironi Tanaman Kedelai...
Ironi Tanaman Kedelai di Indonesia: Tanahnya Terbaik, tapi Impor Terus
Solutif! Harga Kedelai...
Solutif! Harga Kedelai Melonjak, Partai Perindo: Perbaiki Tata Kelola Impor & Tingkatkan Produksi Lokal
Berita Terkini
Hasilkan Riset Berkelanjutan,...
Hasilkan Riset Berkelanjutan, Kayla Raih Pendanaan Global Youth Action Fund
5 jam yang lalu
Potensi Tambahan Penerimaan...
Potensi Tambahan Penerimaan Negara dari DSI Masih Dihitung, Purbaya: Belum Ketemu Angkanya
6 jam yang lalu
BRImo Raih Penghargaan...
BRImo Raih Penghargaan Digital Innovation in Business Transformation di Ajang Digital Innovation Awards 2026
6 jam yang lalu
Atasi Kebocoran Data...
Atasi Kebocoran Data Ekspor, Mahfud MD Dorong Penguatan PT DSI
6 jam yang lalu
Tok! Eksportir SDA Wajib...
Tok! Eksportir SDA Wajib Pulangkan 100% Devisa Hasil Ekspor ke Dalam Negeri Mulai Juni 2026
10 jam yang lalu
BUMN Ekspor Resmi Beroperasi...
BUMN Ekspor Resmi Beroperasi Besok 1 Juni 2026! Terbagi 2 Fase, Eksportir Wajib Lapor DSI
10 jam yang lalu
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved