PLN akui sulit move on dari BBM

Kamis, 19 September 2013 - 17:29 WIB
PLN akui sulit move...
PLN akui sulit move on dari BBM
A A A
Sindonews.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengklaim masih kesulitan terlepas dari ketergantungannya terhadap bahan bakar minyak (BBM) non subsidi untuk membangkitkan pembangkit listriknya di daerah terpencil. Padahal, saat ini impor BBM cukup menggerus anggaran negara.

Kepala Divisi Energi Baru Terbarukan dan konversi energi PLN Mochamad Sofyan mengatakan, perbedaan harga antara daerah terpencil dengan di Jawa sangatlah jauh. Harga BBM non subsidi saat ini mencapai Rp9.000-10.000 per liter.

"Coba bayangkan saja jika di pelosok seperti Papua sangatlah berbeda lebih mahal, mencapai Rp16.000 per liter," kata dia saat bincang-bincang bersama wartawan di Gedung PLN Pusat, Jakarta, Kamis (19/9/2013).

Padahal, lanjut dia, untuk produksi per 1 kwh menggunakan BBM non subsidi sebesar 0,3 liter belum ditambah dengan biaya perawatan pembangkit maka biaya pokok produksi (bpp) mencapai Rp4.000 per kwh.

Sampai saat ini pembangkit listrik yang masih menggunakan BBM hampir mencapai 23 persen. Maka dari itu, penggunaan BBM masih sangat tinggi sekali dalam memproduksi listrik ke daerah-daerah di Indonesia dan akhirnya perseroan kemudian harus menjual listrik ke masyarakat seharga Rp700 per kwh.

"Tapi kami akan mencoba tidak lagi menggunakan BBM pada pembangkit listrik yang baru, tetapi menggunakan energi yang terbarukan," ucap dia.

Kendati begitu, Sofyan mengaku pemakaian energi baru dan terbarukan lebih sulit jika dibanding membangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Perjalanan waktu yang dibutuhkan cukup lama 7-8 tahun. "Jika dibangun sekarang maka akan mengalir listriknya 2018-2019 itu kalau lancar," kata dia.

Melihat kondisi tersebut, PLN mengaku perlu ada langkah antisipasi khusus yang dilakukan agar kebutuhan listrik bagi masyarakat masih dapat terus diberikan.

"Perlu diingat, kebutuhan minyak kita di tahun 2025 juga akan habis, maka harus ada langkah dan antisipasi agar kebutuhan listrik masih bisa terpenuhi," ujarnya.

Data PLN menunjukan, hampir 88 persen pembangkit listrik milik PLN masih menggunakan energi yang tidak terbarukan (fosil). Dari porsi tersebut, 44 persen di antaranya masih menggunakan batu bara, 23 persen BBM, 21 persen gas, dan 3,5 persen energi terbarukan.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kompor Induksi Buat...
Kompor Induksi Buat Hidup Jadi Lebih Praktis, Nyaman dan Hemat
PLN Runners Bertekad...
PLN Runners Bertekad Sukseskan PLN Mobile Color Run 2025 di Palembang
Program Ikatan Kerja...
Program Ikatan Kerja PT PLN (Persero) Resmi Dibuka, Ini Persyaratannya!
Alasan PLN Matikan Listrik...
Alasan PLN Matikan Listrik Pelanggan saat Hujan Deras
PLN Startup Day 2025...
PLN Startup Day 2025 Dukungan Kembangkan Startup Greentech Indonesia
Viral, Tiang Listrik...
Viral, Tiang Listrik Berdiri di Tanah Warga, Mau Dipindah PLN Minta Rp12,6 Juta
Berita Terkini
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
37 menit yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
3 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
10 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
10 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
11 jam yang lalu
Infografis
5 Fakta Jeffrey Epstein:...
5 Fakta Jeffrey Epstein: dari Guru Tanpa Ijazah hingga Dugaan Agen Mossad
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved