Pertumbuhan ekonomi dipatok 6%, masih tertinggi di dunia

Senin, 28 Oktober 2013 - 11:00 WIB
Pertumbuhan ekonomi...
Pertumbuhan ekonomi dipatok 6%, masih tertinggi di dunia
A A A
Sindonews.com - Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah menilai ada optimisme di antara pemerintah dan DPR dengan mematok angka pertumbuhan 6 persen. Ia mengakui, target pertumbuhan ini cukup tinggi bila melihat nilai PDB nominal sampai akhir 2013 diproyeksikan di atas USD900 miliar.

Meskipun target pertumbuhan ekonomi tidak setinggi periode sebelumnya, namun target 6 persen pada 2014, kata Firmanzah, menempatkan Indonesia sebagai negara emerging-countries dengan pertumbuhan tertinggi di dunia setelah Tiongkok.

“Pertumbuhan ekonomi penting untuk mendorong daya tahan ekonomi. Selain itu, anggaran belanja dialokasikan pada sektor-sektor produktif dan memberi efek pengganda tinggi pada peningkatan daya beli masyarakat, penyerapan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan,” jelas Firmanzah dikutip dari Situs Setkab, Senin (28/10/2013).

Ia menegaskan, APBN merupakan alat negara untuk mencapai target-target pembangunan utamanya peningkatan kesejahteraan. APBN 2014 dirancang untuk menjaga momentum pertumbuhan ditengah dinamika ekonomi global dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian.

Menurut Firmanzah, pertumbuhan ekonomi pada 2014 akan dikontribusikan oleh sejumlah sektor seperti industri pengolahan, sektor jasa perdagangan-hotel-restauran, pengangkutan dan komunikasi, jasa keuangan, konstruksi dan sektor pertanian-peternakan-kehutanan dan perikanan.

“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi nasional 2014 lebih didorong konsumsi domestik antara lain konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Firmanzah menilai, penyusunan serta pembahasan APBN 2014 sarat dengan menjaga momentum kinerja perekonomian nasional serta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gejolak perekonomian dunia yang masih belum stabil.

Ia menyebutkan, dalam 5 tahun terakhir, perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahan terhadap sejumlah krisis ekonomi global. Alokasi dan prioritas pembiayaan fiskal dalam APBN menjadi salah satu kunci ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif.

Selain itu juga, prinsip kehati-hatian menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen terhadap PDB juga berkontribusi pada penguatan fundamental ekonomi nasional.

“Selain itu juga, sejumlah konflik dan resiko perubahan iklim berpotensi mengganggu pasokan pangan dan energi dunia. Tekanan inflasi ke banyak negara berkembang juga masih akan tinggi,” papar Firmanzah.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
6 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
7 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
7 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
8 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
8 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved