Hadapi AEC 2015, RI harus optimalkan pertanian
Kamis, 14 November 2013 - 16:26 WIB
Hadapi AEC 2015, RI harus optimalkan pertanian
A
A
A
Sindonews.com - ASEAN Economic Community (AEC) 2015 bisa menjadi berkah bagi Indonesia, sekaligus menjadi petaka jika produk pertanian dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk pertanian negara ASEAN.
Guru Besar Pertanian Unhas, Saleh Ali menjelaskan, aliran modal dan investasi dari luar hanya mengeruk hasil bumi dan tenaga kerja terdidik menjadi penonton di negaranya sendiri.
Karena itu, dia mengungkapkan perlunya mengoptimalisasi sektor pertanian Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 dengan cara memperkokoh konektivitas antar wilayah untuk menjadi bagian di tingkat ASEAN, dan selanjutnya di tingkat global.
Selain itu, memberi ruang bagi setiap daerah untuk berkembang sesuai dengan keunikan dan comparative advantage yang dimilikinya. Langkah lain, kata dia, pengembangan inovasi teknologi dan penyiapan infrastruktur pendukung dalam rangka meningkatkan daya saing.
"Jadi ada harmonisasi prosedur, peraturan, dan standar yang menuju pada peningkatan kualitas dan keamanan pangan yang mengacu pada AEC Blueprint, serta memasyarakatkan AEC sampai ke tingkat grass-root society," katanya saat Seminar Persaingan Usaha dengan tema "Ketahanan Pangan dan Kebijakan Persaingan Dalam Menghadapi Pasar Bersama ASEAN" di Gedung Rektorat Unhas, Kamis (14/11/2013).
Diketahui, sektor pertanian memegang peranan penting untuk pertumbuhan ekonomi Sulsel yang mencapai 10,75 persen. Untuk kinerja perekonomian pun sektor pertanian berkontribusi 25,43 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan capaian Rp12,510 miliar dari total pencapain Rp49,189 miliar atau merupakan sektor terbesar.
Sejalan dengan itu, Anggota Komisi VI DPR, Emil Abeng mengungkapkan kekhawatirannya melihat kondisi Indonesia saat AEC 2015. Menurutnya, saat ini Indonesia berada pada kondisi defisit. Kinerjanya semakin menurun, dan lebih banyak impor dari pada ekspor. Untuk menghadapi hal tersebut diperlukan persiapan dan peran generasi muda.
"Untuk menghadapi pasar bebas tersebut generasi muda harus menjadi titik tumpu pembentukan generasi pemimpin ekonomi di masa depan yang berwawasan politik global dan paham dengan konteks lokal. Selain itu, generasi muda harus mampu melihat ke luar dan menyadari potensi di dalam. Misalnya di Sulsel," ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Ketua Kadin Sulsel, Zulkarnain Arief mengatakan, sekonomi Sulsel salah satunya berbasis pertanian. Dia berharap sektor ini bisa digarap lebih maksimal seperti penggarapan buah lokal dan pengembangan rumput laut.
"Sekarang ini rumput laut kita baru diolah menjadi tiga jenis. Harapan kita ke depan bisa dijadikan sampai 15 jenis dengan mendirikan pabrik pengolahan langsung di daerah ini. Ini yang harus didorong pemerintah," jelasnya.
Guru Besar Pertanian Unhas, Saleh Ali menjelaskan, aliran modal dan investasi dari luar hanya mengeruk hasil bumi dan tenaga kerja terdidik menjadi penonton di negaranya sendiri.
Karena itu, dia mengungkapkan perlunya mengoptimalisasi sektor pertanian Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 dengan cara memperkokoh konektivitas antar wilayah untuk menjadi bagian di tingkat ASEAN, dan selanjutnya di tingkat global.
Selain itu, memberi ruang bagi setiap daerah untuk berkembang sesuai dengan keunikan dan comparative advantage yang dimilikinya. Langkah lain, kata dia, pengembangan inovasi teknologi dan penyiapan infrastruktur pendukung dalam rangka meningkatkan daya saing.
"Jadi ada harmonisasi prosedur, peraturan, dan standar yang menuju pada peningkatan kualitas dan keamanan pangan yang mengacu pada AEC Blueprint, serta memasyarakatkan AEC sampai ke tingkat grass-root society," katanya saat Seminar Persaingan Usaha dengan tema "Ketahanan Pangan dan Kebijakan Persaingan Dalam Menghadapi Pasar Bersama ASEAN" di Gedung Rektorat Unhas, Kamis (14/11/2013).
Diketahui, sektor pertanian memegang peranan penting untuk pertumbuhan ekonomi Sulsel yang mencapai 10,75 persen. Untuk kinerja perekonomian pun sektor pertanian berkontribusi 25,43 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan capaian Rp12,510 miliar dari total pencapain Rp49,189 miliar atau merupakan sektor terbesar.
Sejalan dengan itu, Anggota Komisi VI DPR, Emil Abeng mengungkapkan kekhawatirannya melihat kondisi Indonesia saat AEC 2015. Menurutnya, saat ini Indonesia berada pada kondisi defisit. Kinerjanya semakin menurun, dan lebih banyak impor dari pada ekspor. Untuk menghadapi hal tersebut diperlukan persiapan dan peran generasi muda.
"Untuk menghadapi pasar bebas tersebut generasi muda harus menjadi titik tumpu pembentukan generasi pemimpin ekonomi di masa depan yang berwawasan politik global dan paham dengan konteks lokal. Selain itu, generasi muda harus mampu melihat ke luar dan menyadari potensi di dalam. Misalnya di Sulsel," ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Ketua Kadin Sulsel, Zulkarnain Arief mengatakan, sekonomi Sulsel salah satunya berbasis pertanian. Dia berharap sektor ini bisa digarap lebih maksimal seperti penggarapan buah lokal dan pengembangan rumput laut.
"Sekarang ini rumput laut kita baru diolah menjadi tiga jenis. Harapan kita ke depan bisa dijadikan sampai 15 jenis dengan mendirikan pabrik pengolahan langsung di daerah ini. Ini yang harus didorong pemerintah," jelasnya.
(izz)
Lihat Juga :