Pemerintah klaim pertumbuhan ekonomi RI sesuai perkiraan

Jum'at, 15 November 2013 - 10:57 WIB
Pemerintah klaim pertumbuhan...
Pemerintah klaim pertumbuhan ekonomi RI sesuai perkiraan
A A A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi dan defisit transaksi berjalan tahun anggaran 2013 masih sesuai perkiraan.

Menteri Keuangan (Menkeu) M Chatib Basri dalam penjelasannya mengatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi di dalam triwulan III tumbuh 5,6 persen, sehingga dari triwulan I-III itu rata-ratanya 5,8 persen.

"Dengan kondisi seperti ini, maka perkiraannya pertumbuhan ekonomi pada 2013 ini ada pada kisaran 5,6–5,8 persen seperti apa yang disampaikan oleh pemerintah sebelumnya," kata Chatib dikutip dari situs Setkab, Jumat (15/11/2013).

Adapun yang berkaitan dengan neraca pembayaran, Menkeu menjelaskan, mengalami penurunan yang cukup besar dari USD9,9 miliar menjadi USD8,4 miliar di triwulan III.

"Ada penurunan sekitar 16 persen dan kalau kita lihat sebetulnya capital account-nya itu masih mengalami surplus sebesar 4 miliar," jelas Chatib.

Penurunan dari defisit transaksi berjalan ini, jelas Menkeu, sebetulnya sejalan dengan perkiraan pemerintah dan Bank Indonesia. Hanya saja pertanyaannya adalah ketika prosentase terhadap PDB karena presentase terhadap PDB-nya pada waktu lalu disampaikan adalah 3,4-3,5 persen tapi sekarang 3,8 persen.

Menkeu menjelaskan, bahwa itu masalah simpel statistik karena kalau misalnya current account dibagi dengan GDP (Growt Domestic Product), GDP-nya itu dalam rupiah.

Kalau kemudian asumsi dolarnya berubah, lanjut Menkeu, maka dengan sendirinya, maka dolarnya menjadi lebih kecil sehingga current account terhadap GDP-nya itu kemudian seolah-olah mengalami peningkatan, padahal ini yang perlu dilihat sebetulnya adalah nominalnya.

"Jadi kalau saya ambil contoh, ini saya bacakan saja angkanya ya, pada triwulan I itu defisitnya 5,8, triwulan II 9,9, triwulan III 8,4. Kalau triwulan IV bisa lebih rendah lagi di bawah 8 maka defisit transaksi berjalan kita itu pada kisaran 30-31, kira-kira angkanya seperti itu dan itu adalah sejalan dengan proyeksi baik pemerintah maupun Bank Indonesia," papar Chatib Basri.

Jadi, lanjut Menkeu, harapannya, bahwa di dalam policy yang dilakukan ini ada gejala penurunan. "Memang kita harus mengakui bahwa keberhati-hatian tetap perlu dilakukan terutama berkaitan dengan tekanan di dalam impor migas," ungkap Menkeu.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
52 menit yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
1 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
2 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
3 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved