Ini saran Kadin agar BI Rate tidak naik lagi

Senin, 18 November 2013 - 09:41 WIB
Ini saran Kadin agar...
Ini saran Kadin agar BI Rate tidak naik lagi
A A A
Sindonews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) berharap agar Bank Indonesia (BI) tidak menaikkan BI Rate lagi. Pasalnya, kenaikan BI Rate menjadi 7,5 persen dari 7,25 persen, yang baru saja dilakukan Bank Sentral dinilai bisa mengganggu target pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha.

Wakil Ketua Kadin bidang UKM dan Koperasi Erwin Aksa mengatakan, sebaikanya kebijakan menaikkan BI Rate sebaiknya hanya bersifat sementara untuk memperkuat rupiah.

“Kita berharap ini (BI Rate) bersifat sementara. Jangan dinaikkan lagi,” kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Senin (18/11/2013).

Kadin mengingatkan bahwa masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk menguatkan rupiah. Adapun saran dari Kadin kepada BI dan pemerintah, seperti memerangi ketergantungan impor dengan menggenjot industri dalam negeri dan peningkatkan ekspor non minyak dan gas (migas), termasuk ekspor dari Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta mengurangi ketergantungan terhadap valuta asing (valas).

“Misalnya, dengan menurunkan ketergantungan kita kepada impor melalui penguatan industri di dalam negeri," ujar dia.

menurut dia, itu merupakan tugas pemerintah untuk segera mengeksekusi berbagai program infrastruktur untuk mendukung tumbuhnya industri di dalam negeri. Kalau industri di dalam negeri kuat, otomatis Indonesia bisa memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficient) tanpa terlalu tergantung (addicted) dengan impor.

Selain itu, Kadin juga mendorong agar ekspor non migas dari UKM dapat terus digenjot. Pasalnya, kontribusi UKM saat ini baru 14,1 persen atau senilai Rp166,6 triliun.

"Nah, ekspor ini masih didominasi oleh usaha besar, yakni sebesar 85,9 persen dari total nilai ekspor non migas. Masih besar peluang ekspor dari UKM. Ini yang harus kita dorong terus,” ujar dia.

Erwin mencontohkan, UKM negara-negara seperti China dan Taiwan memiliki andil besar terhadap besaran ekspor non migas negara-negara tersebut. pasalnya, UKM kedua negara itu sudah berorientasi pada teknologi tinggi dan memberi nilai tambah pada perekonomian.

Sementara itu, kontribusi UMKM bagi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 57,5 persen atau senilai Rp1.451,4 trilun, sedangkan sisanya sebesar 42,5 persen dari usaha besar. UMKM juga menyerap tenaga kerja sangat signifikan mencapai 97,2 persen atau sebanyak 107 juta orang, sedangkan usaha besar hanya 2,8 persen.

Di sisi lain lain, Kadin juga berharap agar Bank Sentral dan pemerintah mengkaji berbagai kebijakan terkait lalu-lintas devisa yang saat ini dinilainya membuat perekonomian mudah terombang-ambing oleh nilai tukar rupiah dan ketergantungan kepada dolar Amerika Serikat (USD).

“Saya kira pendekatannya tidak bisa hanya melulu pada monetary policy atau naik-turun BI Rate saja. Harus ada unconventional policy, misalnya kebijakan buat industri dalam negeri, sektor keuangan, infrastruktur, semuanya integratif, tidak satu instrumen saja,” papar Erwin.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI-Rate Tetap di Level...
BI-Rate Tetap di Level 6,25 Persen
Tok! BI Turunkan Suku...
Tok! BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,75 Persen
Perry Warjiyo Ungkap...
Perry Warjiyo Ungkap Ada Ruang Penurunan BI Rate di Penutup Tahun 2024
Breaking News! BI Pangkas...
Breaking News! BI Pangkas Suku Bunga Jadi 6%
4 Kali Pangkas Suku...
4 Kali Pangkas Suku Bunga Acuan, Gubernur Perry: BI Rate Masih Bisa Turun Lagi
Ekonom: BI Berpeluang...
Ekonom: BI Berpeluang Lanjutkan Pemangkasan BI Rate hingga 5,50% Akhir 2024
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
6 jam yang lalu
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
6 jam yang lalu
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
6 jam yang lalu
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
7 jam yang lalu
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
8 jam yang lalu
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
8 jam yang lalu
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved