Harga Serat Naik, Pemilik Brand Lokal Mulai Menghitung Ulang Pilihan Kainnya
Rabu, 15 Juli 2026 - 12:23 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Di ruang produksi konveksi skala menengah, hal yang paling menentukan untung rugi bukan desain. Untungnya sudah ditentukan jauh sebelum jarum menyentuh kain, yaitu saat pemilik brand memutuskan membeli bahan dari siapa. Tahun ini, keputusan itu terasa jauh lebih berat.
Tekanan Ini Datang dari Luar Industri Fashion
Polyester, serat yang mendominasi rak bahan di hampir semua toko, dibuat dari turunan minyak bumi. Jadi ketika harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik di jalur pelayaran utama, efeknya tidak berhenti di kilang. Ia merambat ke pabrik benang, lalu ke produsen kain, lalu ke nota yang diterima pemilik usaha kaos di akhir bulan.
Masalahnya, kenaikan biaya ini datang bersamaan dengan daya beli yang melemah. Konsumen menunda membeli pakaian yang tidak mendesak. Produsen menahan harga jual selama mungkin agar tidak ditinggal pelanggan. Terjepit di antara keduanya, banyak pelaku usaha akhirnya sadar bahwa memilih pemasok bahan bukan lagi urusan teknis, melainkan soal bisa bertahan atau tidak.
Angka yang Jarang Masuk Hitungan Pemilik Brand
Industri tekstil dan produk tekstil menyerap sekitar 3,6 juta tenaga kerja nasional. Namun kontribusinya terhadap PDB terus menyusut, dari kisaran 1,4 persen pada 2010 menjadi di bawah 1 persen pada 2024, sementara volume impor tekstil justru naik. Produsen lokal kini berebut pasar yang sama dengan barang impor yang lebih murah.
Efeknya terasa sampai ke usaha paling kecil. Pelaku UMKM yang dulu memilih toko kain berdasarkan harga per kilogram kini mulai menanyakan hal lain: apakah ketebalan kainnya sama di setiap pengiriman, apakah warnanya masih sama saat restock tiga bulan kemudian, apakah ada dokumen mutu yang bisa ditunjukkan ke calon pembeli besar.
Tekanan Ini Datang dari Luar Industri Fashion
Polyester, serat yang mendominasi rak bahan di hampir semua toko, dibuat dari turunan minyak bumi. Jadi ketika harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik di jalur pelayaran utama, efeknya tidak berhenti di kilang. Ia merambat ke pabrik benang, lalu ke produsen kain, lalu ke nota yang diterima pemilik usaha kaos di akhir bulan.
Masalahnya, kenaikan biaya ini datang bersamaan dengan daya beli yang melemah. Konsumen menunda membeli pakaian yang tidak mendesak. Produsen menahan harga jual selama mungkin agar tidak ditinggal pelanggan. Terjepit di antara keduanya, banyak pelaku usaha akhirnya sadar bahwa memilih pemasok bahan bukan lagi urusan teknis, melainkan soal bisa bertahan atau tidak.
Angka yang Jarang Masuk Hitungan Pemilik Brand
Industri tekstil dan produk tekstil menyerap sekitar 3,6 juta tenaga kerja nasional. Namun kontribusinya terhadap PDB terus menyusut, dari kisaran 1,4 persen pada 2010 menjadi di bawah 1 persen pada 2024, sementara volume impor tekstil justru naik. Produsen lokal kini berebut pasar yang sama dengan barang impor yang lebih murah.
Efeknya terasa sampai ke usaha paling kecil. Pelaku UMKM yang dulu memilih toko kain berdasarkan harga per kilogram kini mulai menanyakan hal lain: apakah ketebalan kainnya sama di setiap pengiriman, apakah warnanya masih sama saat restock tiga bulan kemudian, apakah ada dokumen mutu yang bisa ditunjukkan ke calon pembeli besar.
Lihat Juga :