KDS: Embargo boleh, asal ada solusi
Kamis, 21 November 2013 - 14:31 WIB
KDS: Embargo boleh, asal ada solusi
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Komite Daging Sapi (KDS) Sarman Simanjorang menyampaikan dukungannya kepada pemerintah Indonesia yang menyatakan sikap untuk melakukan embargo daging sapi dari Australia sebagai langkah tegas menyikapi isu penyadapan yang dilakukan oleh intelejen negeri kangguru tersebut.
Namun demikian, Sarman mengatakan, perlu ada langkah antisipasi terlebih dahulu dari pemerintah atas potensi terjadinya krisis daging sapi di tanah air karena kurangnya pasokan daging sapi akibat embargo tersebut.
"Pengaruh pasti besar kalau kita harus memutuskan hubungan dagang dengan Australia apa lagi soal urusan daging sapi, karena kita masih tergantung suplai daging dari impor," kata Sarman kepada Sindonews, Kamis (21/11/2013).
Sarman mengatakan, besarnya dampak yang akan dialami Indonesia akibat embargo tersebut, lantaran saat ini Impor sapi ke Indonesia hanya bersumber dari dua negara yaitu dari Australia dan Selandia Baru. "Tapi dominasinya tetap dari Australia sekitar 75 persen (dari total pasokan impor daging sapi ke Indonesia)," tegas dia.
Sebenarnya, lanjut Sarman, ada dua negara lain yang bisa dianadalkan oleh Indonesia sebagai sumber alternatif penyuplai daging sapi yaitu India dan Brazil. Tetapi ada permasalahan mendasar dimana sapi-sapi di sana belum terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK/antrax). "Kita tidak mau kan makan daging tidak sehat," ujarnya.
Untuk itu, menurut Sarman, Pemerintah perlu melakukan riset karena tentu penyakit PMK tidak terjadi di seluruh wilayah peternakan di India dan Brazil. Mungkin hanya beberapa provinsi saja.
"Tapi hal itu (riset) harus cepat dilakukan agar jangan sampai kita memutuskan hubungan dagang dengan Australia tapi kita tidak punya solusi," sambung dia.
Pentingnya respon cepat dari Pemerintah ini sangat penting lantaran persoalan ketersediaan daging sapi menurut Sarman, bukan hanya menyangkut permasalahan pangan saja. Karena bila suplai daging sapi tersendat banyak industri yang bakal gulung tikar.
Hotel, restauran belum lagi sektor industri daging olahan seperti sosis dan bakso pasti akan terganggu karena mereka membutuhkan pasokan daging sapi setiap hari.
"Embargo ini menyangkut harga diri bangsa, jadi embargo ini perlu dilakukan. Tapi tetap kita harus cari solusi. Karena pasokan sapi dari dalam negeri kita belum bisa memenuhi permintaan," tandasnya.
Namun demikian, Sarman mengatakan, perlu ada langkah antisipasi terlebih dahulu dari pemerintah atas potensi terjadinya krisis daging sapi di tanah air karena kurangnya pasokan daging sapi akibat embargo tersebut.
"Pengaruh pasti besar kalau kita harus memutuskan hubungan dagang dengan Australia apa lagi soal urusan daging sapi, karena kita masih tergantung suplai daging dari impor," kata Sarman kepada Sindonews, Kamis (21/11/2013).
Sarman mengatakan, besarnya dampak yang akan dialami Indonesia akibat embargo tersebut, lantaran saat ini Impor sapi ke Indonesia hanya bersumber dari dua negara yaitu dari Australia dan Selandia Baru. "Tapi dominasinya tetap dari Australia sekitar 75 persen (dari total pasokan impor daging sapi ke Indonesia)," tegas dia.
Sebenarnya, lanjut Sarman, ada dua negara lain yang bisa dianadalkan oleh Indonesia sebagai sumber alternatif penyuplai daging sapi yaitu India dan Brazil. Tetapi ada permasalahan mendasar dimana sapi-sapi di sana belum terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK/antrax). "Kita tidak mau kan makan daging tidak sehat," ujarnya.
Untuk itu, menurut Sarman, Pemerintah perlu melakukan riset karena tentu penyakit PMK tidak terjadi di seluruh wilayah peternakan di India dan Brazil. Mungkin hanya beberapa provinsi saja.
"Tapi hal itu (riset) harus cepat dilakukan agar jangan sampai kita memutuskan hubungan dagang dengan Australia tapi kita tidak punya solusi," sambung dia.
Pentingnya respon cepat dari Pemerintah ini sangat penting lantaran persoalan ketersediaan daging sapi menurut Sarman, bukan hanya menyangkut permasalahan pangan saja. Karena bila suplai daging sapi tersendat banyak industri yang bakal gulung tikar.
Hotel, restauran belum lagi sektor industri daging olahan seperti sosis dan bakso pasti akan terganggu karena mereka membutuhkan pasokan daging sapi setiap hari.
"Embargo ini menyangkut harga diri bangsa, jadi embargo ini perlu dilakukan. Tapi tetap kita harus cari solusi. Karena pasokan sapi dari dalam negeri kita belum bisa memenuhi permintaan," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :