Ekspor Jatim ke Australia terancam anjlok

Kamis, 21 November 2013 - 17:43 WIB
Ekspor Jatim ke Australia...
Ekspor Jatim ke Australia terancam anjlok
A A A
Sindonews.com - Ketegangan antara Indonesia dan Australia akibat penyadapan berimbas pada sektor perdagangan di Jawa Timur (Jatim).

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim memprediksi dalam dua bulan ke depan akan mengalami penurunan. Kepala Disperindag Jatim, Budi Setiawan mengatakan, meski ketegangan dua negara ini sudah terjadi, tidak serta merta menyebabkan kinerja Ekspor Jatim turun.

Dampak dari kasus penyadapan terhadap kinerja ekspor Jatim akan terasa dalam dua bulan mendatang. Prediksi penurunan ini tidak terjadi ketika hubungan dua negara ini membaik. "Situasinya saat ini kan tidak menentu. Siapa tahu pekan depan atau bulan depan hubungan dua negara ini kembali baik," kata Budi di Surabaya, Kamis (21/11/2013).

Hubungan perdagangan yang bersifat Business to Business (B to B) kemungkinan tidak banyak terdampak. Pasalnya, para pengusaha sudah ada perjanjian kontrak dagang dalam kurun waktu tertentu.

Kemungkinan yang mengalami penurunan adalah yang bersifat hubungan bisnis Government to Government (G to G) seperti kerja sama pembelian persenjataan dengan Australia atau juga pertukaran pelajar antar kedua negara.

Budi mengatakan, neraca perdagangan antara Jatim dan Australia mengalami defisit. Per Agustus 2013, ekspor Australia ke Jatim sekitar USD960 juta lebih. Sedangkan impor Australia dari Jatim sebesar USD530 juta lebih. Sehingga, masih ada defisit perdagangan sekitar USD330 juta.

"Komoditas impor dari Australia mayoritas berupa gandum-ganduman, bahan kimia organik, bahan makanan ternak, aluminium, olahan tepung, produk kimia, mesin dan beberapa produk lainnya," terangnya.

Dia menuturkan, untuk mengatisipasi penurunan kinerja ekspor ke Australia, pihaknya mencari sasaran ekspor baru. Ada sejumlah negara di Afrika Selatan yang cukup potensial.

Di kawasan itu terdapat 11 negara dengan penduduk di atas 300 juta. Sementara nilai perdagangannya diperkirakan mencapai USD600 miliar. "Yang potensial untuk diekspor ke sana adalah furniture, perhiasan, garmen, kaos kaki, alas kaki dan juga produk-produk kerajinan," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
AS Perpanjang Pembebasan...
AS Perpanjang Pembebasan Tarif Bea Masuk bagi Indonesia
Mendag Sebut Top 10...
Mendag Sebut Top 10 Destinasi Ekspor Utama RI Tumbuh 71,65%
Merosot 5,79% Ekspor...
Merosot 5,79% Ekspor RI pada Februari 2024 Turun Jadi USD19,31 Miliar
RI dan Australia Jalin...
RI dan Australia Jalin Kerjasama Pengembangan Energi Hijau
RI harus Jeli Melihat...
RI harus Jeli Melihat Peluang Ekspor
Capai USD18,85 Miliar,...
Capai USD18,85 Miliar, Ekspor RI Bulan Juni Melejit 54,4%
Berita Terkini
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
6 menit yang lalu
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
54 menit yang lalu
Transformasi IFG Tak...
Transformasi IFG Tak Hanya Streamlining, Tapi Perkuat Tata Kelola Investasi
1 jam yang lalu
Danantara Pangkas Ribuan...
Danantara Pangkas Ribuan BUMN Jadi 200-300 Entitas, Langkah Rasional Selamatkan Aset Negara
1 jam yang lalu
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
1 jam yang lalu
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved