Banyak negara iri dengan ekonomi Indonesia

Minggu, 24 November 2013 - 16:29 WIB
Banyak negara iri dengan...
Banyak negara iri dengan ekonomi Indonesia
A A A
Sindonews.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten dengan rata-rata berada di level 5,9 persen sepanjang 2008-2012 masih ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga. China bahkan telah merubah format untuk mendorong pertumbuhan ekonominya ke depan.

Wakil Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro menyatakan, pertumbuhan berbasis konsumsi rumah tangga sangat penting untuk menopang perekonomian sebuah negara jika tidak ada dukungan dari faktor eksternal.

Laju konsumsi rumah tangga Indonesia pada kuartal II 2013 menyumbang 55,6 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi di periode yang sama. Sedangkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun lalu sebesar 54,6 persen.

"Konsumsi rumah tangga kita sangat stabil dan cukup kuat menopang pertumbuhan ekonomi, karena tidak ada daya dorong dari eksternal yakni investasi dan ekspor. Sedangkan ekonomi Thailand, Singapura, Malaysia tumbuh negatif karena mereka sangat mengandalkan eksternal," jelas dia di Subang, Jawa Barat, Minggu (24/11/2013).

Konsumsi, menurutnya, menjadi faktor internal dan mendasar untuk mendorong pertumbuhan. Sedangkan investasi dan ekspor merupakan cara untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Sebuah negara, dikatakan Bambang, tidak melulu mengandalkan faktor eksternal untuk mengerek pertumbuhan ekonomi karena sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Contohnya Singapura dan Thailand yang tidak memiliki daya dorong internal (konsumsi) sehingga tak mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang positif.

"Investasi, ekspor dan konsumsi rumah tangga kita di tahun 2011 sangat bagus sehingga kita bisa bertumbuh 6,5 persen lalu turun karena faktor eksternal tidak mendukung. Tapi kita masih bisa bertumbuh karena punya konsumsi rumah tangga sehingga negara lain iri dengan ekonomi Indonesia," klaim dia.

Indonesia, tambahnya, mempunyai aset jumlah penduduk yang besar, bonus demograsi, dan peningkatan pendapatan per kapita maupun kalangan menengah. Sehingga dia menilai, negara ini masih dicari banyak negara untuk menanamkan modalnya.

Bambang menjelaskan, China telah merubah format berbasis konsumsi untuk memaksimalkan potensi pasar karena memiliki basis penduduk lebih dari satu miliar jiwa.

"China tak lagi berorientasi investasi gila-gilaan. Mereka justru ingin menciptakan fundamental yang kuat karena kalau memaksakan investasi terus masuk bisa kepanasan (overheating) sebab masa-masa mempercepat pertumbuhan ekonomi di China sudah lewat," tandas dia.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
1 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
8 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
8 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
8 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
10 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
10 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved