Rupiah terjungkal ke level Rp11.886/USD
Rabu, 27 November 2013 - 16:36 WIB
Rupiah terjungkal ke level Rp11.886/USD
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sore terjungkal di tengah positifnya penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir perdagangan.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg sore ini ditutup pada level Rp11.886/USD. Posisi ini terjungkal 124 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.765/USD.
Masih berdasarkan data Bloomberg, rupiah pagi tadi dibuka pada level Rp11.818/USD. Adapun, posisi rupiah terlemah hari ini di level Rp11.886/USD dan terkuat di level Rp11.650/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI hari ini di level Rp11.813/USD atau terdepresiasi 48 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.765/USD.
Data yahoofinance juga mencatat, mata uang domestik hari ini berakhir di level Rp11.885/USD, dengan kisaran Rp11.635-11.885/USD. Posisi ini merosot 115 poin dibanding Selasa (26/11/2013) di level Rp11.770/USD.
Sementara data Sindonews bersumber dari Limas mencatat bahwa rupiah hari ini pada level Rp11.778/USD atau terdepresiasi 5 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.773/USD.
Head of Research & Analysis BNI Nurul Eti Nurbaeti mengatakan, menguatnya IHSG pada perdagangan hari ini tidak mampu memberi imbas positif terhadap rupiah lantaran meningkatnya permintaan dolar oleh korporasi menjelang akhir bulan.
"Selain itu, sentimen global terkait ekspektasi The Fed yang akan segera memulai pengurangan stimulus akan terus menambah tekanan terhadap rupiah," kata dia, Rabu (27/11/2013).
Sementara itu Gubernur Bank Indonenesia Agus Martowardojo mengatakan beberapa hal yang terjadi di pasar domestik yang menyebabkan rupiah kembali terjerembab.
"Ada permintaan menjelang akhir bulan untuk repatriasi keuntungan dan pembayaran utang serta bunga. Lihat juga jumlah pembayaran utang November lebih tinggi dari Oktober. Jadi, ada kebutuhan dolar swasta," ujar dia.
Kendati demikian, Agus menerangkan kondisi ini merupakan kondisi fundamental yang mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia sesungguhnya.
"Ini adalah satu kondisi yang sudah dipahami oleh BI dan ini faktor-faktornya eksternal, ada yang risk on dan risk off," pungkasnya.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg sore ini ditutup pada level Rp11.886/USD. Posisi ini terjungkal 124 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.765/USD.
Masih berdasarkan data Bloomberg, rupiah pagi tadi dibuka pada level Rp11.818/USD. Adapun, posisi rupiah terlemah hari ini di level Rp11.886/USD dan terkuat di level Rp11.650/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI hari ini di level Rp11.813/USD atau terdepresiasi 48 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.765/USD.
Data yahoofinance juga mencatat, mata uang domestik hari ini berakhir di level Rp11.885/USD, dengan kisaran Rp11.635-11.885/USD. Posisi ini merosot 115 poin dibanding Selasa (26/11/2013) di level Rp11.770/USD.
Sementara data Sindonews bersumber dari Limas mencatat bahwa rupiah hari ini pada level Rp11.778/USD atau terdepresiasi 5 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.773/USD.
Head of Research & Analysis BNI Nurul Eti Nurbaeti mengatakan, menguatnya IHSG pada perdagangan hari ini tidak mampu memberi imbas positif terhadap rupiah lantaran meningkatnya permintaan dolar oleh korporasi menjelang akhir bulan.
"Selain itu, sentimen global terkait ekspektasi The Fed yang akan segera memulai pengurangan stimulus akan terus menambah tekanan terhadap rupiah," kata dia, Rabu (27/11/2013).
Sementara itu Gubernur Bank Indonenesia Agus Martowardojo mengatakan beberapa hal yang terjadi di pasar domestik yang menyebabkan rupiah kembali terjerembab.
"Ada permintaan menjelang akhir bulan untuk repatriasi keuntungan dan pembayaran utang serta bunga. Lihat juga jumlah pembayaran utang November lebih tinggi dari Oktober. Jadi, ada kebutuhan dolar swasta," ujar dia.
Kendati demikian, Agus menerangkan kondisi ini merupakan kondisi fundamental yang mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia sesungguhnya.
"Ini adalah satu kondisi yang sudah dipahami oleh BI dan ini faktor-faktornya eksternal, ada yang risk on dan risk off," pungkasnya.
(rna)