Laju rupiah diprediksi belum bergairah
Senin, 02 Desember 2013 - 08:35 WIB
Laju rupiah diprediksi belum bergairah
A
A
A
Sindonews.com - Mengawali perdagangan pekan perdana bulan Desember 2013 ini, tampak rupiah belum menemukan kekuatannya untuk melawan arus pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, rilis akselerasi inflasi zona Eropa yang telah membuat laju nilai tukar euro mampu bergerak lebih tinggi dari USD, seharusnya bisa menjadi sentimen positif bagi laju rupiah.
"Dengan rilis akselerasi tersebut memberikan persepsi nantinya ECB akan menahan stimulusnya, sehingga nilai tukar euro dapat menguat. Akan tetapi, sentimen positif tersebut tidak banyak berimbas pada laju nilai tukar rupiah yang masih dalam tren pelemahannya," kata Reza, Senin (2/12/2013).
Sementara itu, sentimen yang sering kali datang di akhir bulan berupa perkiraan kondisi rilis data neraca pembayaran dan perdagangan diprediksi akan kembali mewarnai sekaligus turut mempengaruhi laju nilai tukar rupiah.
Dengan adanya kondisi makro ekonomi yang demikian, Reza memprediksikan laju rupiah akan terbatas diwarnai aksi tunggu hasil pengumuman neraca perdagangan yang akan dirilis hari ini.
"Diperkirakan laju rupiah dapat bertahan di atas target support Rp12.070 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.000-11.950 per USD mengacu kurs tengah BI," tutur Reza.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pada penutupan Jumat (29/11/2013) berada di level Rp11.965/USD, menguat 53 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp12.018/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp11.977/USD atau terdepresiasi 47 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.930/USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, rilis akselerasi inflasi zona Eropa yang telah membuat laju nilai tukar euro mampu bergerak lebih tinggi dari USD, seharusnya bisa menjadi sentimen positif bagi laju rupiah.
"Dengan rilis akselerasi tersebut memberikan persepsi nantinya ECB akan menahan stimulusnya, sehingga nilai tukar euro dapat menguat. Akan tetapi, sentimen positif tersebut tidak banyak berimbas pada laju nilai tukar rupiah yang masih dalam tren pelemahannya," kata Reza, Senin (2/12/2013).
Sementara itu, sentimen yang sering kali datang di akhir bulan berupa perkiraan kondisi rilis data neraca pembayaran dan perdagangan diprediksi akan kembali mewarnai sekaligus turut mempengaruhi laju nilai tukar rupiah.
Dengan adanya kondisi makro ekonomi yang demikian, Reza memprediksikan laju rupiah akan terbatas diwarnai aksi tunggu hasil pengumuman neraca perdagangan yang akan dirilis hari ini.
"Diperkirakan laju rupiah dapat bertahan di atas target support Rp12.070 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.000-11.950 per USD mengacu kurs tengah BI," tutur Reza.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pada penutupan Jumat (29/11/2013) berada di level Rp11.965/USD, menguat 53 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp12.018/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp11.977/USD atau terdepresiasi 47 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.930/USD.
(rna)