IHSG berpotensi anjlok lagi

Kamis, 05 Desember 2013 - 08:11 WIB
IHSG berpotensi anjlok...
IHSG berpotensi anjlok lagi
A A A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus mengencangkan sabuk pengamannya seiring makin dekatnya keputusan mendebarkan tapering off pada pertengahan Desember ini ditambah kembali melemahnya rupiah atas Dolar Amerika Serikat (USD) yang kembali mendekat ke level Rp12.000.

"Saya memperkirakan IHSG berpotensi kembali turun dalam perdagangan Kamis ini merujuk kejatuhan Dow Jones serta laju USD yang kembali menguat atas rupiah sebesar Rp95 (0,8 persen) ditutup di level Rp11.975," kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang, Kamis (5/12/2013).

Penguatan USD, menurut Edwin, berpotensi menambah defisit current account (CAD) Indonesia dari sisi naiknya impor bahan bakar di tengah kembali naiknya harga minyak Nymex 1,19 persen ditutup di harga USD97,18.

"Saya memperkirakan BI Rate berpotensi naik kembali 50 bps ke depannya mencapai level 8 persen untuk menghadang naiknya CAD, tapering dan melemahnya rupiah yang berpotensi menuju 12.500-13.000," prediksi Edwin.

Selain sentimen yang begitu tidak kondusif, bila memperhatikan lajunya secara teknikal tampak IHSG tengah dirundung kedukaan bergerak di lajur merahnya dengan tren melanjutkan pelemahannya di Kamis ini.

"Rentang IHSG 4.206-4.277. Pola two black crows terbentuk atas IHSG mengindikasikan bearish continuation," ujar Edwin.

Dari luar negeri, tampak Dow Jones kembali turun di hari ke-4 sebesar 24,85 poin (0,16 persen) ditutup di level 15.889,77 disertai naiknya The Vix 1,03 persen ditutup di level 14,7 di tengah laporan ISM nonmanufacturing index bulan November yang turun menjadi 53,9 dibandingkan laporan bulan Oktober di level 55,4.

Pelemahan Dow terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran The Fed mempercepat dilakukannya tapering off dalam pertemuan The Fed tanggal 17-18 Desember 2013.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah diumumkannya laporan ADP National Employment Private Sector Employers yang bertambah 215.000 pekerjaan di bulan November dan mengecilnya US trade deficit di bulan Oktober sebesar USD40,6 miliar.

Selain itu, naiknya laporan US home sales di bulan Oktober tertinggi selama 33-1/2 tahun terakhir walaupun terjadi kenaikan suku bunga KPR semakin memberikan sinyal terjadinya perbaikan kondisi ekonomi yang diartikan menjadi faktor tapering off akan direalisasikan dalam waktu singkat.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Lanjutkan Penguatan...
Lanjutkan Penguatan di Pagi Hari, IHSG Sentuh Level 6.085
IHSG Tidak Terbendung,...
IHSG Tidak Terbendung, Pagi Ini Dibuka Terus Menguat ke Level 6.018
Tembus USD16,54 Miliar,...
Tembus USD16,54 Miliar, Ekspor Desember 2020 Tertinggi Sejak 2013
Bergerak Dua Arah, IHSG...
Bergerak Dua Arah, IHSG Akhir Pekan Ditutup Melemah ke Level 6.104
236 Saham Menguat, IHSG...
236 Saham Menguat, IHSG Dibuka Meluncur ke Level 6.158
Mainkan 8 Saham Ini...
Mainkan 8 Saham Ini Saat IHSG Bakal Melanjutkan Tren Penguatan
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
24 menit yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
1 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
1 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
1 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
2 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved