Rupiah terus melemah, pemerintah dinilai cuek
Jum'at, 06 Desember 2013 - 10:04 WIB
Rupiah terus melemah, pemerintah dinilai cuek
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat ekonomi Syaifuddin berharap pemerintah segera melakukan langkah-langkah strategis sesuai mekanisme pasar untuk menahan pelamahan rupiah lebih lanjut. Pasalnya, langkah sebelumnya belum menunjukkan hasil yang diharapkan.
Dia menilai, pemerintah terkesan cuek melihat kejatuhan rupiah. Padahal, menurut dia, seharusnya pemerintah segera melakukan langkah-langkah strategis.
"Saat ini, pemerintah tidak bisa mencari solusi persoalan pada mekanisme pasar. Pasar liberal tergantung pada tren, sehingga langkah yang ditempuh pemerintah kini dinilai sebagai tanda menyerah pada penyelamatan rupiah," kata dia di Depok, Jawa Barat, Jumat (6/12/2013).
Dia menilai, langkah pemerintah yang tidak berupaya mengendalikan jatuhnya rupiah berdampak pada psikologi pasar. Investor akan menilai iklim investasi di Indonesia tidak menguntungkan, sehingga berakibat pada menurunnya investasi.
"Akibatnya investasi dan saham Indonesia tersandera sentimen negatif. Perdagangan di bursa melemah karena arus uang yang keluar dari Indonesia cukup besar," kata dia.
Dia menambahkan, melemahnya rupiah juga berdampak pada utang luar negeri Indonesia yang otomatis mengalami kenaikan akibat situasi ini. Untuk itu, diperlukan dorongan laju ekspor untuk mengimbangi neraca akibat impor yang tinggi.
"Rakyat yang paling menderita akibat menurunnya rupiah," ujar dia.
Dia menilai, pemerintah terkesan cuek melihat kejatuhan rupiah. Padahal, menurut dia, seharusnya pemerintah segera melakukan langkah-langkah strategis.
"Saat ini, pemerintah tidak bisa mencari solusi persoalan pada mekanisme pasar. Pasar liberal tergantung pada tren, sehingga langkah yang ditempuh pemerintah kini dinilai sebagai tanda menyerah pada penyelamatan rupiah," kata dia di Depok, Jawa Barat, Jumat (6/12/2013).
Dia menilai, langkah pemerintah yang tidak berupaya mengendalikan jatuhnya rupiah berdampak pada psikologi pasar. Investor akan menilai iklim investasi di Indonesia tidak menguntungkan, sehingga berakibat pada menurunnya investasi.
"Akibatnya investasi dan saham Indonesia tersandera sentimen negatif. Perdagangan di bursa melemah karena arus uang yang keluar dari Indonesia cukup besar," kata dia.
Dia menambahkan, melemahnya rupiah juga berdampak pada utang luar negeri Indonesia yang otomatis mengalami kenaikan akibat situasi ini. Untuk itu, diperlukan dorongan laju ekspor untuk mengimbangi neraca akibat impor yang tinggi.
"Rakyat yang paling menderita akibat menurunnya rupiah," ujar dia.
(rna)