Rupiah diprediksi masih dalam tekanan
Kamis, 12 Desember 2013 - 08:49 WIB
Rupiah diprediksi masih dalam tekanan
A
A
A
Sindonews.com - Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus saja berulah dengan menunjukkan tren pelemahannya jelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang akan digelar hari ini.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, hal ini mungkin karena pelaku pasar tidak terlalu merespon belum jelasnya sentimen penentuan arah BI Rate.
"Atau lebih memilih sentimen yang lebih jelas dari kemungkinan tapering off stimulus the Fed di bulan ini yang berimbas pada kenaikan laju nilai tukar USD," ujar Reza, Kamis (12/12/2013).
Belum cukup dengan itu, Reza menjelaskan, sentimen jelang akhir tahun dari pertemuan the Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan yang dibarengi dengan sentimen kesepakatan anggaran AS yang akan dibahas kembali seolah memberi amunisi bagi USD untuk kembali perkasa.
"Bahkan berhasil mengalahkan kenaikan euro yang juga sedang naik seiring membaiknya perekonomian zona Eropa," papar dia.
Pada perdagangan hari ini, rupiah diperdiksi kembali gontai lantaran tak kuasa menahan laju penguatan USD yang sudah terlanjur terlampau tinggi.
"Laju rupiah berada tipis di target support Rp12.000 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.105-11.987 per USD mengacu kurs tengah BI," tutur Reza.
Kemarin, Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp11.991/USD. Posisi ini terdepresiasi 71 poin dibanding penutupan Selasa (10/12/2013) di level Rp11.920/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.005/USD atau melemah 20 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.985/USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, hal ini mungkin karena pelaku pasar tidak terlalu merespon belum jelasnya sentimen penentuan arah BI Rate.
"Atau lebih memilih sentimen yang lebih jelas dari kemungkinan tapering off stimulus the Fed di bulan ini yang berimbas pada kenaikan laju nilai tukar USD," ujar Reza, Kamis (12/12/2013).
Belum cukup dengan itu, Reza menjelaskan, sentimen jelang akhir tahun dari pertemuan the Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan yang dibarengi dengan sentimen kesepakatan anggaran AS yang akan dibahas kembali seolah memberi amunisi bagi USD untuk kembali perkasa.
"Bahkan berhasil mengalahkan kenaikan euro yang juga sedang naik seiring membaiknya perekonomian zona Eropa," papar dia.
Pada perdagangan hari ini, rupiah diperdiksi kembali gontai lantaran tak kuasa menahan laju penguatan USD yang sudah terlanjur terlampau tinggi.
"Laju rupiah berada tipis di target support Rp12.000 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.105-11.987 per USD mengacu kurs tengah BI," tutur Reza.
Kemarin, Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp11.991/USD. Posisi ini terdepresiasi 71 poin dibanding penutupan Selasa (10/12/2013) di level Rp11.920/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.005/USD atau melemah 20 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.985/USD.
(rna)