IHSG diperkirakan melemah hingga pemilu berakhir
Minggu, 15 Desember 2013 - 16:21 WIB
IHSG diperkirakan melemah hingga pemilu berakhir
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang memprediksi, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2014 akan terus melemah hingga pemilihan umum (pemilu) berakhir.
Hal ini terimbas sentimen dari luar negeri, yakni Amerika Serikat(AS) dan Eropa serta pengaruh dalam negeri yaitu current account deficit (defisit transksi berjalan), nilai tukar rupiah dan tahun politik.
"Dari luar negeri ini dipengaruhi oleh Amerika dan Eropa, yang kalau kita lihat dari data-data ekonomi mereka, mereka sudah menunjukkan perbaikan," kata dia saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Minggu (15/12/2013).
Dia mengatakan, isu pemangkasan stimulus (tapering off) Amerika Serikat yang akan dilaksanakan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan, serta Eropa yang menunjukkan perbaikan cukup tinggi akan memberi imbas negatif pada pasar bursa dalam negeri.
Sementara dari dalam negeri, laju IHSG akan dipengaruhi current account deficit, dimana kuartal I dan II/2014 diperkirakan cukup mengkhawatirkan.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga akan memberikan pengaruh pada laju IHSG. Pada semester I/2014, rupiah diperkirakan akan mengalami gejolak yang tinggi, sehingga diperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan BI Rate.
Edwin menambahkan, sentimen negatif berikutnya adalah faktor pemilu. "Pemilu 2014 memiliki pola yang sama dengan pemilu 2004 yang tidak bisa dipastikan siapa majority party-nya dan siapa presidennya, sehingga akan terjadi fluktuasi di bulan April, Mei dan Juli," ujar dia.
Namun setelah bulan Juli, Edwin memperkirakan, pasar saham akan bergerak naik. Jika memakai skenario konservatif, dia memprediksi, inflasi tahun depan sebesar 5 persen, BI Rate 8 persen, current account decisit 2,6-2,7 persen, nilai tujak rupiah sekitar Rp10.500-12.200/USD dan IHSG dalam kisaran 4.735 an.
Hal ini terimbas sentimen dari luar negeri, yakni Amerika Serikat(AS) dan Eropa serta pengaruh dalam negeri yaitu current account deficit (defisit transksi berjalan), nilai tukar rupiah dan tahun politik.
"Dari luar negeri ini dipengaruhi oleh Amerika dan Eropa, yang kalau kita lihat dari data-data ekonomi mereka, mereka sudah menunjukkan perbaikan," kata dia saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Minggu (15/12/2013).
Dia mengatakan, isu pemangkasan stimulus (tapering off) Amerika Serikat yang akan dilaksanakan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan, serta Eropa yang menunjukkan perbaikan cukup tinggi akan memberi imbas negatif pada pasar bursa dalam negeri.
Sementara dari dalam negeri, laju IHSG akan dipengaruhi current account deficit, dimana kuartal I dan II/2014 diperkirakan cukup mengkhawatirkan.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga akan memberikan pengaruh pada laju IHSG. Pada semester I/2014, rupiah diperkirakan akan mengalami gejolak yang tinggi, sehingga diperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan BI Rate.
Edwin menambahkan, sentimen negatif berikutnya adalah faktor pemilu. "Pemilu 2014 memiliki pola yang sama dengan pemilu 2004 yang tidak bisa dipastikan siapa majority party-nya dan siapa presidennya, sehingga akan terjadi fluktuasi di bulan April, Mei dan Juli," ujar dia.
Namun setelah bulan Juli, Edwin memperkirakan, pasar saham akan bergerak naik. Jika memakai skenario konservatif, dia memprediksi, inflasi tahun depan sebesar 5 persen, BI Rate 8 persen, current account decisit 2,6-2,7 persen, nilai tujak rupiah sekitar Rp10.500-12.200/USD dan IHSG dalam kisaran 4.735 an.
(rna)