Mandiri perkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 hanya 5,6%
Jum'at, 20 Desember 2013 - 16:15 WIB
Mandiri perkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 hanya 5,6%
A
A
A
Sindonews.com - Berbagai macam rencana pengetatan ekonomi yang akan dan telah dilakukan oleh pemerintah pada akhir tahun ini dan tahun depan membuat Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 hanya mencapai 5,6 persen, atau turun dari kemungkinan realisasi 2013 sebesar 5,7 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti mengatakan, hal ini dikarenakan banyak indikator perekonomian yang secara umum masih mengalami perlambatan.
"Defisit neraca berjalan juga masih berada pada kisaran 2,5 sampai 2,7 persen," terang Destry di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (20/12/2013).
Dia juga menyebut secara keseluruhan angka inflasi pada tahun politik 2014 juga diperkirakan sebesar 6,28 persen atau berbeda dengan asumsi APBN 2014 milik pemerintah.
Bahkan dengan likuiditas bank yang masih terbatas dan kemungkinan kenaikan imbal balik (yield), dia juga memperkirakan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) naik 50 basis pin menjadi 8 persen di 2014.
"Ini tanda pertumbuhan sektor riil kita masih akan terbatas, bahkan pertumbuhan investasi masih terbatas, hanya mencapai 5 sampai 6 persen di semester II-2014 pasca Pemilu," lanjut Destry.
Sedangkan nilai tukar rupiah, diperkirakan masih tetap tertekan pada 2014. Atau secara rata-rata mencapai Rp11.800 per dolar Amerika Serikat (AS).
"Kebijakan pemerintah dan BI pada tahun depan tema besarnya bergeser dari tahun kemarin dimana semua pihak akan concern melakukan stabilisasi ketimbang pertumbuhan," pungkas Destry.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti mengatakan, hal ini dikarenakan banyak indikator perekonomian yang secara umum masih mengalami perlambatan.
"Defisit neraca berjalan juga masih berada pada kisaran 2,5 sampai 2,7 persen," terang Destry di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (20/12/2013).
Dia juga menyebut secara keseluruhan angka inflasi pada tahun politik 2014 juga diperkirakan sebesar 6,28 persen atau berbeda dengan asumsi APBN 2014 milik pemerintah.
Bahkan dengan likuiditas bank yang masih terbatas dan kemungkinan kenaikan imbal balik (yield), dia juga memperkirakan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) naik 50 basis pin menjadi 8 persen di 2014.
"Ini tanda pertumbuhan sektor riil kita masih akan terbatas, bahkan pertumbuhan investasi masih terbatas, hanya mencapai 5 sampai 6 persen di semester II-2014 pasca Pemilu," lanjut Destry.
Sedangkan nilai tukar rupiah, diperkirakan masih tetap tertekan pada 2014. Atau secara rata-rata mencapai Rp11.800 per dolar Amerika Serikat (AS).
"Kebijakan pemerintah dan BI pada tahun depan tema besarnya bergeser dari tahun kemarin dimana semua pihak akan concern melakukan stabilisasi ketimbang pertumbuhan," pungkas Destry.
(gpr)
Lihat Juga :