Rupiah diperkirakan masih terseok
Jum'at, 27 Desember 2013 - 08:45 WIB
Rupiah diperkirakan masih terseok
A
A
A
Sindonews.com - Sentimen positif yang datang dari luar negeri tampaknya tidak berdampak cukup signifikan pada laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini.
Sentimen dari internal China, dimana bank sentralnya mencoba melonggarkan krisis kas dengan mengucurkan dana ke sistem perbankan senilai 29 miliar yuan atau setara USD4,78 miliar turut direspon positif oleh pelaku pasar.
Sentimen lainnya datang dari rilis turunnya klaim tunjangan pengangguran minggun menjadi 338.000 serta naiknya penjualan retail bulan November dan Desember.
Sayangnya, dampak positif tersebut tak terefleksi pada laju rupiah. Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, adanya rilis kenaikan personal income dan spending AS pun tidak banyak berimbas pada laju rupiah.
"Laju rupiah di atas target resisten Rp12.238. Rentang rupiah berada di kisaran Rp12.225-12.206 per USD mengacu kurs tengah BI," kata dia, Jumat (27/12/2013).
Padahal, setelah sehari sebelumnya rupiah masih terpuruk, jelang libur Natal laju rupiah mulai menguat seiring mulai berkurangnya aktivitas transaksi di pasar uang untuk spekulasi jual rupiah.
Sementara, Kepala Riset MNC Securies Edwin Sebayang memproyeksikan, laju rupiah masih akan terseok pada dua hari perdagangannya jelang penutupan tahun 2013.
"Akibat perbedaan makanan dan cuaca, nampaknya Santa Claus dan Piet Hitam tidak jadi mampir di market Indonesia merujuk sisa dua hari perdagangan menjelang penutupan tahun 2013 belum ada tanda-tanda kedatangan mereka ditengah makin sepinya perdagangan membuat USD tetap gagah perkasa atas rupiah di atas level Rp12.175," tutur dia.
Pada perdagangan Selasa (24/12/2013), nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp12.201 per USD. Posisi ini terdepresiasi 6 poin dibanding penutupan Senin (23/12/2013) di level Rp12.195 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.215 per USD atau terapresiasi 31 poin dibanding hari sebelumnya di level Rp12.246 per USD.
Sentimen dari internal China, dimana bank sentralnya mencoba melonggarkan krisis kas dengan mengucurkan dana ke sistem perbankan senilai 29 miliar yuan atau setara USD4,78 miliar turut direspon positif oleh pelaku pasar.
Sentimen lainnya datang dari rilis turunnya klaim tunjangan pengangguran minggun menjadi 338.000 serta naiknya penjualan retail bulan November dan Desember.
Sayangnya, dampak positif tersebut tak terefleksi pada laju rupiah. Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, adanya rilis kenaikan personal income dan spending AS pun tidak banyak berimbas pada laju rupiah.
"Laju rupiah di atas target resisten Rp12.238. Rentang rupiah berada di kisaran Rp12.225-12.206 per USD mengacu kurs tengah BI," kata dia, Jumat (27/12/2013).
Padahal, setelah sehari sebelumnya rupiah masih terpuruk, jelang libur Natal laju rupiah mulai menguat seiring mulai berkurangnya aktivitas transaksi di pasar uang untuk spekulasi jual rupiah.
Sementara, Kepala Riset MNC Securies Edwin Sebayang memproyeksikan, laju rupiah masih akan terseok pada dua hari perdagangannya jelang penutupan tahun 2013.
"Akibat perbedaan makanan dan cuaca, nampaknya Santa Claus dan Piet Hitam tidak jadi mampir di market Indonesia merujuk sisa dua hari perdagangan menjelang penutupan tahun 2013 belum ada tanda-tanda kedatangan mereka ditengah makin sepinya perdagangan membuat USD tetap gagah perkasa atas rupiah di atas level Rp12.175," tutur dia.
Pada perdagangan Selasa (24/12/2013), nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp12.201 per USD. Posisi ini terdepresiasi 6 poin dibanding penutupan Senin (23/12/2013) di level Rp12.195 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.215 per USD atau terapresiasi 31 poin dibanding hari sebelumnya di level Rp12.246 per USD.
(rna)