Emas rebound dari harga terburuk sejak 1981

Kamis, 02 Januari 2014 - 13:00 WIB
Emas rebound dari harga...
Emas rebound dari harga terburuk sejak 1981
A A A
Sindonews.com - Pada awal 2014, emas reli dari tahun terburuk dalam lebih dari tiga dekade (penurunan ke posisi terendah dalam enam bulan terlihat memacu pembelian fisik), berpotensi mendorong beberapa investor membalikkan taruhan di harga lebih rendah.

Bullion untuk pengiriman segera diperdagangkan di angka USD1.224,09 pada pukul 12.03 di Singapura, dari USD1.205,65 pada 31 Desember, ketika harga merosot ke USD1,182.27, level terendah sejak 28 Juni. Emas merosot 28 persen pada 2013 sebagai kerugian tahunan terbesar sejak 1981.

Emas menghentikan bull run 12 tahun, dalam produk yang diperdagangkan di bursa, menyusut untuk tahun pertama kalinya sejak produk diperkenalkan pada 2003.

Sementara kepemilikan di 14 ETPS yang didukung bullions terbesar dilacak Bloomberg kontraksi 33 persen pada 2013, di mana US Mint menjual 14 persen lebih banyak koin emas American Eagle pada tahun lalu.

Di Shanghai Gold Exchange, volume bullion untuk kemurnian 99,99 persen naik ke level tertinggi dalam satu pekan dari 13.144 kilogram pada 30 Desember lalu. Sementara premium untuk pengiriman segera di China naik menjadi USD29,63 per ounce, dari rata-rata USD18,71 tahun lalu.

"Pasar telah memegang jauh di atas USD1.200 dan itu didorong oleh permintaan fisik," kata Wallace Ng, pedagang di Gensha Metals Ltd, Shanghai, seperti dilansidr dari Bloomberg, Kamis (2/1/2014).

"Kami melihat permintaan fisik di China sangat baik pada Desember lalu, yang kemungkinan akan berlanjut sebagai patokan kita di Tahun Baru Imlek pada 31 Januari," tambahnya.

Emas untuk pengiriman Februari naik 1,7 persen menjadi USD1.222,70 per ounce di Comex, New York, dalam volume perdagangan 106 persen di atas rata-rata 100 (data yang dikumpulkan Bloomberg).

Kepemilikan emas jangka pendek naik 1,1 persen ke level tertinggi dalam tiga pekan dari 76,052 dan opsi dalam pekan yang berakhir 24 Desember. Posisi pendek mengacu pada taruhan harga yang lebih rendah.

Perak untuk pengiriman segera diperdagangkan di USD20,1429 per ons dari USD19,4717 pada 31 Desember, ketika harga jatuh ke USD18,8266, level terendah sejak 8 Juli. Perak merosot 36 persen tahun lalu, sebagai kerugian tahunan terbesar sejak 1981.

Platinum diperdagangkan USD1.383,88 per ons dari USD1.371 pada 31 Desember, ketika harga dibatasi penurunan tahunan 11 persen. Palladium berada di USD719,05 per ons dari USD716,38 pada 31 Desember , memperpanjang kenaikan tahunan kedua.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ramalan Goldman Sachs:...
Ramalan Goldman Sachs: Harga Emas Bakal Sentuh USD4.900 di 2026
Bappebti Dorong Transaksi...
Bappebti Dorong Transaksi Fisik Emas Secara Digital
Dear Investor! Tren...
Dear Investor! Tren Naiknya Harga Emas Diyakini Berlanjut di 2021
Pasar Emas Menggeliat,...
Pasar Emas Menggeliat, Transaksi Multilateral ICDX Melonjak 43,9%
Purbaya Bakal Putuskan...
Purbaya Bakal Putuskan Bea Keluar Emas hingga 15 Persen, PMK Hampir Rampung
Penjualan Komoditas...
Penjualan Komoditas Berjangka Emas Tumbuh di Tengah Pandemi
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
6 jam yang lalu
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
7 jam yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
7 jam yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
7 jam yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
8 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
8 jam yang lalu
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved