Tarif hotel di Semarang naik 10-15%
Sabtu, 11 Januari 2014 - 13:42 WIB
Tarif hotel di Semarang naik 10-15%
A
A
A
Sindonews.com - Tarif hotel di Kota Semarang, di awal 2014 ini mengalami kenaikan. Kenaikan rata-rata mencapai 10-15 persen dari tarif normal tahun sebelumnya. Kenaikan tarif ini dikarenakan target pendapatan hotel meningkat.
Di Best Western Star Hotel Semarang misalnya. Pada tahun 2014 ini, manajemen hotel menaikkan tarif sekitar 10-15 persen dari tarif normal tahun lalu.
Marketing Communication Best Western Star Hotel Semarang, Denish Ardhaneswara mengatakan, kenaikan tarif sebesar 10-15 persen masih pada batas wajar, dan tidak akan banyak berpengaruh.
Apalagi, iklim politik dengan berlangsungnya Pemilu diprediksi akan membawa dampak positif bagi ekonomi Indonesia, yang tentunya berimbas pada bisnis perhotelan.
“Kami menaikkan tarif sedikit dari harga tahun lalu karena kebutuhan-kebutuhan untuk operasional hotel yang meningkat. Faktor kenaikan
tarif antara lain karena naiknya tarif listrik serta LPG, yang memiliki efek langsung pada kegiatan operasional rutin hotel,” katanya.
Dikatakan Denish, tahun ini Best Western memiliki target okupansi di kisaran 70 persen. Target ini tidak berbeda dari tahun sebelumnya.
Sama halnya di hotel Dafam, dari 10 jaringan hotel Dafam yang ada di Solo, Semarang, Yogyakarta, Pekalongan, Cilaca dan Pekanbaru, seluruhnya juga menaikan tarif mencapai 10 persen.
“Kenaikan tarif merupakan tren di awal tahun, yang dilakukan sekali dalam setahun. Adapun faktor yang menunjang kenaikan antara lain target pendapatan yang meningkat, kenaikan tarif listrik dan harga gas, serta PTEB karyawan,” Kata Corporate Public Relation Manager Dafam Hotel Semarang, Ninik Haryanti.
Ninik mengungkapkan, dengan semakin banyaknya hotel di Kota Semarang, membuat persaingan antar hotel untuk mendapatkan pelanggan semakin ketat. Oleh karena itu, pelayanan, harus menjadi nomer satu untuk bisa memikat pelanggan. kenaikan tarif ini secara konsekuensi, pelayanan yang diberikan kepada tamu pun terus ditingkatkan.
“Dengan persaingan yang ketat, termasuk persaingan tarif, maka pelayanan juga harus makin ditingkatkan, termasuk memberikan promo-promo menarik,” katanya.
Proyeksi pertumbuhan di 2014 ditargetkan sebesar 15-20 persen. Di tahun ini jaringan Dafam juga akan membuka jaringan baru Q Grand Dafam Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Maret), disusul proyek selanjutnya di Subang, Lampung, Semarang, Bandung dan kota-kota lainnya yang saat ini masih tahap final meeting.
“Dafam Hotels sendiri pada tahun ini mentargetkan okupansi rata-rata pada jaringan hotelnya sekitar 79 persen. Adapun dari sisi kinerja, pada 2014 diharapkan bisa meningkat antara 15-20 persen,” ujarnya.
Di Best Western Star Hotel Semarang misalnya. Pada tahun 2014 ini, manajemen hotel menaikkan tarif sekitar 10-15 persen dari tarif normal tahun lalu.
Marketing Communication Best Western Star Hotel Semarang, Denish Ardhaneswara mengatakan, kenaikan tarif sebesar 10-15 persen masih pada batas wajar, dan tidak akan banyak berpengaruh.
Apalagi, iklim politik dengan berlangsungnya Pemilu diprediksi akan membawa dampak positif bagi ekonomi Indonesia, yang tentunya berimbas pada bisnis perhotelan.
“Kami menaikkan tarif sedikit dari harga tahun lalu karena kebutuhan-kebutuhan untuk operasional hotel yang meningkat. Faktor kenaikan
tarif antara lain karena naiknya tarif listrik serta LPG, yang memiliki efek langsung pada kegiatan operasional rutin hotel,” katanya.
Dikatakan Denish, tahun ini Best Western memiliki target okupansi di kisaran 70 persen. Target ini tidak berbeda dari tahun sebelumnya.
Sama halnya di hotel Dafam, dari 10 jaringan hotel Dafam yang ada di Solo, Semarang, Yogyakarta, Pekalongan, Cilaca dan Pekanbaru, seluruhnya juga menaikan tarif mencapai 10 persen.
“Kenaikan tarif merupakan tren di awal tahun, yang dilakukan sekali dalam setahun. Adapun faktor yang menunjang kenaikan antara lain target pendapatan yang meningkat, kenaikan tarif listrik dan harga gas, serta PTEB karyawan,” Kata Corporate Public Relation Manager Dafam Hotel Semarang, Ninik Haryanti.
Ninik mengungkapkan, dengan semakin banyaknya hotel di Kota Semarang, membuat persaingan antar hotel untuk mendapatkan pelanggan semakin ketat. Oleh karena itu, pelayanan, harus menjadi nomer satu untuk bisa memikat pelanggan. kenaikan tarif ini secara konsekuensi, pelayanan yang diberikan kepada tamu pun terus ditingkatkan.
“Dengan persaingan yang ketat, termasuk persaingan tarif, maka pelayanan juga harus makin ditingkatkan, termasuk memberikan promo-promo menarik,” katanya.
Proyeksi pertumbuhan di 2014 ditargetkan sebesar 15-20 persen. Di tahun ini jaringan Dafam juga akan membuka jaringan baru Q Grand Dafam Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Maret), disusul proyek selanjutnya di Subang, Lampung, Semarang, Bandung dan kota-kota lainnya yang saat ini masih tahap final meeting.
“Dafam Hotels sendiri pada tahun ini mentargetkan okupansi rata-rata pada jaringan hotelnya sekitar 79 persen. Adapun dari sisi kinerja, pada 2014 diharapkan bisa meningkat antara 15-20 persen,” ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :