Pertamina keluhkan campur tangan politik

Selasa, 14 Januari 2014 - 15:23 WIB
Pertamina keluhkan campur...
Pertamina keluhkan campur tangan politik
A A A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) mengeluhkan hingar bingar politik dalam polemik harga elpiji 12 kilogram (kg) beberapa waktu lalu menimbulkan ketidakkonsistenan seluruh pemangku kebijakan perseroan.

VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir menyayangkan terjadinya kekisruhan kenaikan harga elpiji 12 kg tersebut akibat campur tangan politik ke dalam komoditas ekonomi.

"Ini persis seperti lempar mercon ketika sudah meledak semua lari. Ini repotnya kalau komoditas ekonomi jadi komoditas politik," ujar Ali di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/1/2013).

Beberapa stakeholder tersebut, rinci Ali, adalah DPR, pemerintah, masyarakat sampai insan media. "Hebohnya luar biasa dan perlu ketegasan termasuk masyarakat. Bahkan harga sudah diturunkan masih dibikin ramai," keluh Ali.

Ali mengungkapkan, apabila harga elpiji 12 kg dinaikkan sampai dengan keekonomian, maka kenaikannya bisa mencapai Rp5.000 per kilogram. Namun mengingat Pertamina adalah BUMN yang sahamnya dimilikki oleh pemerintah, maka pihaknya tidak dapat menaikkan harga sesukanya.

"Sebagai korporasi idealnya seperti itu, tapi kita kan BUMN yang dimiliki oleh pemerintah juga," tandasnya.

Seperti diketahui, PT Pertamina akhirnya mengumumkan adanya revisi kenaikan harga elpiji ukuran 12 kilogram (kg) yang semula naik Rp3.500 per kg, menjadi hanya Rp1.000 per kg.

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan mengatakan, dengan demikian maka harga per tabungnya menjadi sebesar Rp91.600 untuk elpiji non subsidi.

"Kami setelah mengikuti perkembangan di masyarakat dan mengikuti rapat di tempat Pak Wapres dan pertemuan lain serta hasil RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) memutuskan ada revisi kenaikan harga elpiji 12 kg, berlaku besok jam 00.00. Yang tadi Rp3.500 per kg, menjadi Rp1.000," kata Karen di Gedung Pertamina Pusat beberapa waktu lalu.

Atas revisi ini, lanjut Karen, maka Pertamina akan mengalami kenaikan potensi kerugian dari semula Rp2,2 triliun menjadi Rp5,3 triliun.

"Kerugian Pertamina di akhir 2014 kalau naiknya Rp3.500 per kg adalah sebesar Rp2,2 triliun. Sementara dengan kenaikan harga hanya sebesar Rp1.000 per kg maka kerugian kita menjadi Rp5,355 triliun (di kurs Rp10.000/USD) sampai Rp6,247 triliun (di kurs Rp12,250/USD)," pungkas dia.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tips Menghemat LPG,...
Tips Menghemat LPG, Dijamin Awet Meski Masak Setiap Hari
31 Mei 2024, Akhir Pendaftaran...
31 Mei 2024, Akhir Pendaftaran Beli LPG 3 Kg Pakai KTP
Harga Gas Elpiji Non...
Harga Gas Elpiji Non Subsidi di Maros Naik Rp15 Ribu
Kecanduan LPG, Impor...
Kecanduan LPG, Impor 2021 Naik Jadi 7,2 Juta Ton
Harga Elpiji Non-Subsidi...
Harga Elpiji Non-Subsidi 2 Kali Naik, Siap-siap Gas Melon Jadi Langka
Istana Pastikan Warung...
Istana Pastikan Warung Kelontong Bisa Kembali Jual Gas LPG 3 Kg Hari Ini
Berita Terkini
7 Tahun Pimpin BI Sebelum...
7 Tahun Pimpin BI Sebelum Mundur, Perry Warjiyo Punya Karir Panjang dan Cemerlang
34 menit yang lalu
Ribuan Sengketa Pajak...
Ribuan Sengketa Pajak Bermunculan, Perbedaan Tafsir Masih Jadi Pemicu Utama
55 menit yang lalu
Pj Gubernur BI: Proses...
Pj Gubernur BI: Proses Pergantian Perry Warjiyo Ikuti Mekanisme UU, Belum Ada Nama Calon
1 jam yang lalu
Resmi Beroperasi, Bali...
Resmi Beroperasi, Bali Gapura Marina Siap Tampung 180 Yacht Standar Global
2 jam yang lalu
Menko Airlangga Soal...
Menko Airlangga Soal Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo: Yang Penting Institusinya
2 jam yang lalu
Prabowo Pimpin Rapat...
Prabowo Pimpin Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan usai Bos BI Mundur, Begini Arahannya
3 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved