Ekonomi dunia didukung negara maju dan berkembang

Kamis, 23 Januari 2014 - 15:53 WIB
Ekonomi dunia didukung...
Ekonomi dunia didukung negara maju dan berkembang
A A A
Sindonews.com - Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim mengatakan, ekonomi global siap mendapatkan momentum tahun ini didukung "dua mesin", yaitu negara berkembang dan maju yang tumbuh bersamaan.

Dia menyebutkan, negara-negara berkembang harus menggunakan jendela waktu dari pengurangan kebijakan stimulus moneter AS, dengan memfasilitasi reformasi struktural dalam negeri.

"Ini pertama kalinya sejak bertahun-tahun kita melihat Jepang, Amerika Serikat dan kawasan (Zona) Euro semua tumbuh pada saat bersamaan. Ini adalah kabar baik bagi dunia," ujar Kim kepada Xinhua, seperti dilansir dari China Daily, Kamis (23/1/2014).

Produk domestik bruto (PDB) global diperkirakan memperluas 3,2 persen tahun ini, naik dari 2,4 persen pada 2013, dengan dorongan kecepatan pertumbuhan di negara berkembang dan negara-negara berpenghasilan tinggi.

"Sepertinya di semua daerah, baik negara-negara berpenghasilan tinggi dan negara-negara berkembang kita melihat kenaikan," kata Kim, sambil menambahkan gambaran pertumbuhan global secara keseluruhan terlihat sangat baik meskipun ada beberapa risiko penurunan.

Rasio utang utang terhadap PDB dan tingkat pengangguran kaum muda yang tinggi di beberapa negara Eropa menunjukkan, bahwa perlu beberapa fundamental perbaikan. Wilayah tersebut memiliki banyak yang harus dilakukan dalam reformasi struktural untuk memecahkan masalah tersebut.

Pertumbuhan di negara-negara berpendapatan tinggi bermanfaat bagi negara-negara berkembang, tetapi unwinding kebijakan moneter tidak konvensional di negara maju dapat membawa beberapa tantangan untuk pasar negara berkembang.

"Pada saat itu kita berpikir arus modal masuk ke negara-negara berkembang bisa menurun sebanyak 50 persen. Jika itu terjadi, tidak baik untuk ekonomi pasar negara berkembang," terang Kim.

Mengatasi fundamental ekonomi, mempertahankan kebijakan ekonomi makro yang stabil dan menggunakan small window untuk mengadopsi berbagai jenis reformasi struktural, termasuk meningkatkan lingkungan bisnis, dapat membantu negara-negara berkembang mengatasi dampak tapering off kebijakan moneter Federal Reserve AS.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
8 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
9 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
9 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
9 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
10 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
10 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved