Inflasi Januari di Sulampua diprediksi tembus 1,18%
Kamis, 23 Januari 2014 - 15:54 WIB
Inflasi Januari di Sulampua diprediksi tembus 1,18%
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) Wilayah I Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua) memprediksi inflasi yang terjadi pada awal tahun akan cukup tinggi, yakni berada pada level 1,18 persen.
Kepala Divisi Assessment, Ekonomi, dan Keuangan BI Wilayah I Sulampua, Noor Yudanto mengatakan, angka tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Di mana pada Januari 2013, inflasi di Sulsel berada di level 1,13 persen.
Menurutnya, berdasarkan pola musiman, curah hujan yang meningkat akan mengganggu produksi tanaman pangan, yakni bumbu-bumbuan serta sayuran dan berpotensi menghambat kegiatan penangkapan ikan.
"Cuaca buruk memberi pengaruh cukup besar dalam memicu inflasi. Sebab terkait dengan bahan makanan yang andilnya cukup besar sebagai penyumbang inflasi terutama untuk jenis ikan tangkap, bawang merah, ikan layang, dan daging ayam," kata dia, Kamis (23/1/2014).
Selain cuaca, perayaan maulid juga diyakini mampu memantik tingginya permintaan daging ayam, sehingga ada sumbangan inflasi untuk jenis bahan makanan ini. Begitupula dengan harga elpiji yang meski sudah terkoreksi, tetap saja mengalami kenaikan. "Untuk elpiji memberikan andil inflasi sekitar 0,3 persen," ujarnya.
Sementara, Deputi Kepala Perwakilan BI Wilayah I Sulampua Grup Ekonomi dan Keuangan, Causa Iman Karana mengatakan, selain bahan makanan, tekanan inflasi datang dari sisi distribusi barang.
"Kalau faktor musiman seperti cuaca inflasi memang naik. Harga barang-barang kebutuhan mahal karena supply yang sedikit. Dengan kondisi cuaca seperti ini, kapal juga urung berangkat sembari menunggu gelombang cukup bagus," jelasnya.
Kepala Divisi Assessment, Ekonomi, dan Keuangan BI Wilayah I Sulampua, Noor Yudanto mengatakan, angka tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Di mana pada Januari 2013, inflasi di Sulsel berada di level 1,13 persen.
Menurutnya, berdasarkan pola musiman, curah hujan yang meningkat akan mengganggu produksi tanaman pangan, yakni bumbu-bumbuan serta sayuran dan berpotensi menghambat kegiatan penangkapan ikan.
"Cuaca buruk memberi pengaruh cukup besar dalam memicu inflasi. Sebab terkait dengan bahan makanan yang andilnya cukup besar sebagai penyumbang inflasi terutama untuk jenis ikan tangkap, bawang merah, ikan layang, dan daging ayam," kata dia, Kamis (23/1/2014).
Selain cuaca, perayaan maulid juga diyakini mampu memantik tingginya permintaan daging ayam, sehingga ada sumbangan inflasi untuk jenis bahan makanan ini. Begitupula dengan harga elpiji yang meski sudah terkoreksi, tetap saja mengalami kenaikan. "Untuk elpiji memberikan andil inflasi sekitar 0,3 persen," ujarnya.
Sementara, Deputi Kepala Perwakilan BI Wilayah I Sulampua Grup Ekonomi dan Keuangan, Causa Iman Karana mengatakan, selain bahan makanan, tekanan inflasi datang dari sisi distribusi barang.
"Kalau faktor musiman seperti cuaca inflasi memang naik. Harga barang-barang kebutuhan mahal karena supply yang sedikit. Dengan kondisi cuaca seperti ini, kapal juga urung berangkat sembari menunggu gelombang cukup bagus," jelasnya.
(izz)
Lihat Juga :