Indonesia berpotensi bisa jualan air

Kamis, 23 Januari 2014 - 21:40 WIB
Indonesia berpotensi...
Indonesia berpotensi bisa jualan air
A A A
Sindonews.com - Indonesia masih membutuhkan banyak waduk-waduk untuk menampung air. Namun, biaya yang tidak murah memaksa pemerintah untuk menerapkan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Dedy S Priatna menjelaskan, bisa saja waduk yang nanti dibangun milik swasta 100 persen atau bisa dam multipurpose. Hal itu, tergantung dengan perjanjian yang akan dibuat nantinya.

Dia melanjutkan, jika sudah dibangun, maka waduk tersebut dapat dimanfaatkan untuk irigasi pertanian atau listrik. Jika miliki swasta, nantinya pemanfaatan air akan dikenakan biaya yang disebut biaya pengelolaan sumber daya air (BPDSA).

"Itu bayar, berapa per kubiknya kayak DKI. Kayaknya yang di Jatiluhur itu DKI bayar Rp160-Rp175 per meter kubik (m3), atau PLN menggunakan air di Jatiluhur itu Rp165 per kwh," tutur dia di kantornya, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Meski demikian, dia mengkhawatirkan ide ini akan mendapat pertentangan dari pihak-pihak tertentu. "Karena nanti muncul kritik, lah air kan karunia gusti Allah kenapa saya harus bayar," jelasnya.

"Padahal bayar adalah untuk memelihara hulu, sungai supaya tidak terjadi sedementasi, banjir, juga tidak kotor, agar airnya tidak kotor. Karena kalau tersedimentasi kan airnya jadi sedikit, karena tanah sungainya menjadi dangkal, volume air berkurang, yah akhirnya melebar ke penduduk," tutur dia.

Dia melanjutkan, anggaran tersebut juga akan dipakai untuk mengatasi sedimentasi. Pasalnya, saat ini banyak dam yang tidak pernah dikeruk alias dragging.

"Bayangkan di Indonesia ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sekarang punya 261 dam, PLN 12, swasta 11, PU lah yang paling gede, itu dam-damnya enggak pernah dikeruk, itu tersedemintasi karena air. Terus karena di hulunya pasir dan segala macam, kalau sungai dikeruk, kalaupun dengan terbatas, tapi waduk enggak pernah dikeruk, sampai sekarang ada yang sedimentasinya mencapai 85 persen," tukas dia.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementerian PPN/Bappenas...
Kementerian PPN/Bappenas Tekankan Pentingnya Program Pemberdayaan Berbasis Data
Partisipasi Kementerian...
Partisipasi Kementerian PPN/Bappenas - Pavillion Indonesia di GPDRR 2022
Kementerian PPN/Bappenas...
Kementerian PPN/Bappenas Buka Lowongan Kerja, Yuks Cek Posisi dan Persyaratannya!
Masuk 10 Besar, Tim...
Masuk 10 Besar, Tim PPD Kementerian PPN-Bappenas Mulai Nilai Sulsel
Menteri PPN/Bappenas...
Menteri PPN/Bappenas Ungkap Pentingnya Reindustrialisasi
Pemprov DKI dan Kementerian...
Pemprov DKI dan Kementerian PPN/Bappenas Bahas Rencana Tata Ruang Jakarta Pasca-Ibu Kota Pindah
Berita Terkini
Japan-ASEAN Startup...
Japan-ASEAN Startup Business Matching Fair 2026, Danamon Dukung Pertumbuhan Startup RI
22 menit yang lalu
Said Iqbal Berhasil...
Said Iqbal Berhasil Bertemu Purbaya: Sodorkan Draf Reformasi Pajak JHT, Buruh Batal Demo Besok
1 jam yang lalu
Maskapai Wajib Pakai...
Maskapai Wajib Pakai Avtur Campuran Minyak Nabati 1% Mulai 2027, Apa Efeknya ke Harga Tiket?
2 jam yang lalu
Fokus Tumbuh Berkelanjutan,...
Fokus Tumbuh Berkelanjutan, Pegadaian Perkuat Strategi Lewat Sales Town Hall 2026
3 jam yang lalu
Rebut Harta Karun Dinasti...
Rebut Harta Karun Dinasti Assad, Prancis Pulangkan Aset Rp1 Triliun ke Suriah!
3 jam yang lalu
Harga Emas Jatuh Rp14...
Harga Emas Jatuh Rp14 Ribu per Rabu 8 Juli 2026, Buyback Ambrol Rp21.000
5 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved