Harga minyak dunia jatuh di tengah pasar ketat
Kamis, 13 Februari 2014 - 20:12 WIB
Harga minyak dunia jatuh di tengah pasar ketat
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak mentah di perdagangan dunia hari ini jatuh, namun kerugian diatasi sentimen optimis permintaan di Amerika Serikat (AS) dan China.
Kontrak berjangka utama AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, turun 58 sen menjadi USD99,79 per barel dibandingkan penutupan Rabu (13/2/2014). Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk Maret merosot 41 sen menjadi USD108,38 per barel di London.
Analis telah memperingatkan kekenyangan minyak dan penurunan harga selama berbulan-bulan. Tetapi Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, kenaikan permintaan di negara-negara maju, yang dipimpin Amerika Serikat, lebih dari kompensasi perlambatan konsumsi yang terjadi di emerging market.
Dilansir dari AFP, Kamis (13/2/2014), Sanjeev Gupta, analis di perusahaan konsultan Ernst & Young (EY) mengatakan, harga juga tetap mendapat dukungan dari kepercayaan investor bahwa Federal Reserve AS akan melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif.
Dukungan juga datang dari kenaikan impor minyak mentah China, serta rilis data yang menunjukkan konsumen energi terbesar di dunia itu membukukan rekor impor minyak mentah sebesar 6,63 juta barel per hari pada Januari, naik 5,2 persen dari Desember 2013.
Cuaca musim dingin yang parah di Amerika Utara juga telah meningkatkan prospek permintaan untuk bahan bakar pemanas.
Kontrak berjangka utama AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, turun 58 sen menjadi USD99,79 per barel dibandingkan penutupan Rabu (13/2/2014). Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk Maret merosot 41 sen menjadi USD108,38 per barel di London.
Analis telah memperingatkan kekenyangan minyak dan penurunan harga selama berbulan-bulan. Tetapi Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, kenaikan permintaan di negara-negara maju, yang dipimpin Amerika Serikat, lebih dari kompensasi perlambatan konsumsi yang terjadi di emerging market.
Dilansir dari AFP, Kamis (13/2/2014), Sanjeev Gupta, analis di perusahaan konsultan Ernst & Young (EY) mengatakan, harga juga tetap mendapat dukungan dari kepercayaan investor bahwa Federal Reserve AS akan melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif.
Dukungan juga datang dari kenaikan impor minyak mentah China, serta rilis data yang menunjukkan konsumen energi terbesar di dunia itu membukukan rekor impor minyak mentah sebesar 6,63 juta barel per hari pada Januari, naik 5,2 persen dari Desember 2013.
Cuaca musim dingin yang parah di Amerika Utara juga telah meningkatkan prospek permintaan untuk bahan bakar pemanas.
(dmd)
Lihat Juga :