Peluang penguatan IHSG dibayangi profit taking
Jum'at, 21 Februari 2014 - 08:30 WIB
Peluang penguatan IHSG dibayangi profit taking
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan terakhir pekan ini diproyeksi bergerak menguat berada pada support 4.568-4.581 dan resistance 4.615-4.625, namun dibayangi aksi ambil untung (profit taking).
"IHSG sempat berada di kisaran support 4.542-4.578 dan juga sempat mampir ke target resisten 4.595-4.610, sehingga memberikan gambaran IHSG masih akan sideways dengan kecenderungan naik tipis dan diselingi pelemahan. Tetap waspadai potensi downreversal karena aksi profit taking (bila ada)," kata Kepala Riset Trus Securities Reza Priyambada, Jumat (21/2/2014).
Menilik lajunya pada perdagangan kemarin, kembali IHSG menunjukkan kemampuannya untuk tetap bertahan di zona hijau meski telah banyak penilaian sudah overbought-nya posisi IHSG. Apalagi angin profit taking kian berhembus kencang yang membuat kenaikan IHSG mulai tertahan.
"Itulah mengapa kami tulis dalam ulasan sebelumnya bahwa masih adanya harapan positif membuat IHSG bertahan di zona hijau dan meski ada peluang kenaikan lanjutan, namun berharap tidak langsung dimanfaatkan untuk profit taking," kata dia.
Hal ini sesuai dengan riilnya, di mana laju IHSG memang sempat terkoreksi setelah terimbas laju bursa saham AS karena melemahnya sektor perumahan.
Di sisi lain, rilis negatif dari Asia turut menahan dan cenderung melemahkan IHSG. Tetapi masih menguatnya saham-saham di sektor keuangan dan infrastruktur serta masih bertahannya asing untuk nett buy mampu membuat IHSG berbalik hijau di akhir sesi.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.598,22 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.574,97 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.598,22.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, rilis kenaikan defisit perdagangan dan penurunan nilai pertumbuhan ekspor Jepang serta dibarengi dengan rilis masih melemahnya data HSBC manufacturing PMI China membuat laju bursa saham Asia melemah.
Apalagi juga terimbas oleh pelemahan laju bursa saham AS karena penurunan pada sektor perumahannya. Rilis penurunan tersebut memunculkan spekulasi nantinya para lembaga penilai global akan menurunkan outlook-nya terhadap Jepang dan China serta dimungkinkan global karena masih melemahnya kondisi makro ekonomi Asia.
Laju bursa saham Eropa mulai variatif dimana beberapa diantaranya mulai ada yang melemah.Pelaku pasar merespon negatif melemahnya rilis data-data China dan Jepang serta spekulasi hasil rilis pertemuan The Fed yang mengindikasikan akan berlanjutnya tapering stimulus The Fed.
"IHSG sempat berada di kisaran support 4.542-4.578 dan juga sempat mampir ke target resisten 4.595-4.610, sehingga memberikan gambaran IHSG masih akan sideways dengan kecenderungan naik tipis dan diselingi pelemahan. Tetap waspadai potensi downreversal karena aksi profit taking (bila ada)," kata Kepala Riset Trus Securities Reza Priyambada, Jumat (21/2/2014).
Menilik lajunya pada perdagangan kemarin, kembali IHSG menunjukkan kemampuannya untuk tetap bertahan di zona hijau meski telah banyak penilaian sudah overbought-nya posisi IHSG. Apalagi angin profit taking kian berhembus kencang yang membuat kenaikan IHSG mulai tertahan.
"Itulah mengapa kami tulis dalam ulasan sebelumnya bahwa masih adanya harapan positif membuat IHSG bertahan di zona hijau dan meski ada peluang kenaikan lanjutan, namun berharap tidak langsung dimanfaatkan untuk profit taking," kata dia.
Hal ini sesuai dengan riilnya, di mana laju IHSG memang sempat terkoreksi setelah terimbas laju bursa saham AS karena melemahnya sektor perumahan.
Di sisi lain, rilis negatif dari Asia turut menahan dan cenderung melemahkan IHSG. Tetapi masih menguatnya saham-saham di sektor keuangan dan infrastruktur serta masih bertahannya asing untuk nett buy mampu membuat IHSG berbalik hijau di akhir sesi.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.598,22 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.574,97 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.598,22.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, rilis kenaikan defisit perdagangan dan penurunan nilai pertumbuhan ekspor Jepang serta dibarengi dengan rilis masih melemahnya data HSBC manufacturing PMI China membuat laju bursa saham Asia melemah.
Apalagi juga terimbas oleh pelemahan laju bursa saham AS karena penurunan pada sektor perumahannya. Rilis penurunan tersebut memunculkan spekulasi nantinya para lembaga penilai global akan menurunkan outlook-nya terhadap Jepang dan China serta dimungkinkan global karena masih melemahnya kondisi makro ekonomi Asia.
Laju bursa saham Eropa mulai variatif dimana beberapa diantaranya mulai ada yang melemah.Pelaku pasar merespon negatif melemahnya rilis data-data China dan Jepang serta spekulasi hasil rilis pertemuan The Fed yang mengindikasikan akan berlanjutnya tapering stimulus The Fed.
(rna)
Lihat Juga :