Tahun ini BPJS Ketenagakerjaan target 6 juta peserta
Minggu, 23 Februari 2014 - 20:59 WIB
Tahun ini BPJS Ketenagakerjaan target 6 juta peserta
A
A
A
Sindonews.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan menargetkan dapat mencatat penambahan jumlah peserta penerima jaminan sosial di sepanjang 2014 mencapai 6 juta orang. Semantara untuk 2015, peningkatan jumlah pesertanya diharapkan dapat mencapai 7 juta orang sepanjang tahun.
Kepala Biro SDM BPJS Ketenagakerjaan Abdul Latif Algaff menjelaskan, target tersebut tampaknya sangat realistis mengingat jumlah angkatan kerja Indonesia saat ini mencapai 118,2 juta orang, namun baru 12 juta tenaga kerja yang tercatat sebagai penerima jaminan sosial yang diberikan Jamsostek (sebelum berganti menjadi BPJS Ketenagakerjaan) hingga Desember 2013.
"Dari jumlah itu berarti hanya 10 persen pekerja di Indonesia dilindungi Jamsostek," papar dia saat dalam rangkaian workshop bertajuk Keberlangsungan BPJS Ketenagakerjaan dalam Mewujudkan Kesejahteraan Pekerja di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.
Sementara itu, Direktur Kepesertaan dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan, Junaedi mengatakan, masih rendahnya kepesertaan pekerja terutama dilatarbelakangi masih minimnya distribusi informasi yang masih lemah.
Diakuinya, BPJS ketenagakerjaan hanya memiliki 121 kantor cabang dan mayoritas hanya berada di daerah industri.
"Di daerah lain kita tidak dikenal, mereka hanya dengar di TV dan radio, sehingga tidak bisa mengakses kanal distribusi," jelasnya dalam kesempatan yang sama.
Untuk itu, sejalan dengan peningkatan target jumlah peserta, BPJS Ketenagakerjaan juga akan terus melakukan sosialisasi soal manfaat kepesertaan dan risiko kecelakaan kerja yang dihadapi.
Pada akhirnya, diharapkan di 2014, BPJS Ketenagakerjaan dapat mengelola jaminan sosial hingga mencapai Rp200 triliun yang berasal dari 17 juta perserta penerima layanan jaminan sosial.
"Di pelosok itu, mereka belum berpikir kebutuhan jaminan. Belum sadar bagaimana cara untuk meminimalisir risiko yang terjadi, penyadaran masyarakat akan risiko belum terjadi," pungkasnya.
Kepala Biro SDM BPJS Ketenagakerjaan Abdul Latif Algaff menjelaskan, target tersebut tampaknya sangat realistis mengingat jumlah angkatan kerja Indonesia saat ini mencapai 118,2 juta orang, namun baru 12 juta tenaga kerja yang tercatat sebagai penerima jaminan sosial yang diberikan Jamsostek (sebelum berganti menjadi BPJS Ketenagakerjaan) hingga Desember 2013.
"Dari jumlah itu berarti hanya 10 persen pekerja di Indonesia dilindungi Jamsostek," papar dia saat dalam rangkaian workshop bertajuk Keberlangsungan BPJS Ketenagakerjaan dalam Mewujudkan Kesejahteraan Pekerja di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.
Sementara itu, Direktur Kepesertaan dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan, Junaedi mengatakan, masih rendahnya kepesertaan pekerja terutama dilatarbelakangi masih minimnya distribusi informasi yang masih lemah.
Diakuinya, BPJS ketenagakerjaan hanya memiliki 121 kantor cabang dan mayoritas hanya berada di daerah industri.
"Di daerah lain kita tidak dikenal, mereka hanya dengar di TV dan radio, sehingga tidak bisa mengakses kanal distribusi," jelasnya dalam kesempatan yang sama.
Untuk itu, sejalan dengan peningkatan target jumlah peserta, BPJS Ketenagakerjaan juga akan terus melakukan sosialisasi soal manfaat kepesertaan dan risiko kecelakaan kerja yang dihadapi.
Pada akhirnya, diharapkan di 2014, BPJS Ketenagakerjaan dapat mengelola jaminan sosial hingga mencapai Rp200 triliun yang berasal dari 17 juta perserta penerima layanan jaminan sosial.
"Di pelosok itu, mereka belum berpikir kebutuhan jaminan. Belum sadar bagaimana cara untuk meminimalisir risiko yang terjadi, penyadaran masyarakat akan risiko belum terjadi," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :