IHSG diprediksi di kisaran 4.525-4.589
Jum'at, 28 Februari 2014 - 08:48 WIB
IHSG diprediksi di kisaran 4.525-4.589
A
A
A
Sindonews.com - Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berada pada rentang support 4.525-4.557 dan resisten 4.578-4.589.
Hal ini merujuk lajunya pada perdagangan kemarin, di mana IHSG menyentuh level 4.575,33 (level tertingginya) di pertengahan sesi dua dan menyentuh level 4.530,14 (level terendahnya) di awal sesi I dan berakhir di level 4.568,94.
"IHSG cenderung bertahan di kisaran target resisten (4.550-4.578) meski sempat di bawahnya," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (28/2/2014).
Jika sebelumnya penguatan pada mayoritas laju bursa saham Asia tidak membuat IHSG turut berada di jalur hijau, justru pada perdagangan kemarin, di mana laju bursa saham Asia kembali variatif yakni beberapa indeks saham China terkoreksi bersama dengan Sensex, Nikkei, dan beberapa lainnya, laju IHSG justru mampu berada di zona hijau meski hanya naik tipis.
Pelaku pasar memanfaatkan rebound-nya laju bursa saham AS untuk kembali masuk pasar. "Dan bagusnya adalah IHSG tidak melaju seperti yang kami khawatirkan sebelumnya, di mana masih ada potensi IHSG menutup gap di level 4.512-4.524," kata Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing kembali mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dengan laju IHSG yang mencoba untuk tidak melemah seharusnya membuka peluang kenaikan lanjutan pada perdagangan hari ini. "Tetapi, harus didukung dengan sentimen yang ada. Jika tidak, maka waspada akan berbalik melemahnya laju IHSG, sehingga jemuran dapat kembali diangkat," ujarnya.
Dari luar negeri terlihat, laju bursa saham Asia variatif dengan kecenderungan naik tipis setelah terimbas laju kenaikan bursa saham AS.
Di sisi lain, penguatan laju bursa saham Asia turut ditopang terapresiasinya saham-saham teknologi setelah dirilisnya data kenaikan pertumbuhan penjualan rumah baru AS yang berimbas positif pada saham-saham pendukung properti.
Namun, penguatan tersebut tertahan sentimen dari upaya penyelesaian konflik di Ukraina dan rilis kenaikan suku bunga acuan Brasil yang dikhawatirkan akan memicu kenaikan suku bunga di negara-negara emerging market.
Belum tuntasnya penyelesaian konflik di Ukraina tidak hanya menghambat kenaikan laju bursa saham Asia. Namun, juga memengaruhi laju bursa saham Eropa yang justru cenderung berada di zona merah. Rilis kinerja dari WPP Plc, dan Allianz SE yang di bawah estimasi turut menekan laju bursa saham Eropa.
Laju bursa saham AS nanti akan ditentukan oleh sikap pelaku pasar yang merespon meningkatnya ekskalasi politik di Ukraina karena melibatkan pihak Rusia, Uni Eropa, dan AS.
Selain itu, juga akan merespon testimoni lanjutan dari Gubernur The Fed terpilih Janet Yellen yang sebelumnya sempat tertunda karena badai.
Hal ini merujuk lajunya pada perdagangan kemarin, di mana IHSG menyentuh level 4.575,33 (level tertingginya) di pertengahan sesi dua dan menyentuh level 4.530,14 (level terendahnya) di awal sesi I dan berakhir di level 4.568,94.
"IHSG cenderung bertahan di kisaran target resisten (4.550-4.578) meski sempat di bawahnya," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (28/2/2014).
Jika sebelumnya penguatan pada mayoritas laju bursa saham Asia tidak membuat IHSG turut berada di jalur hijau, justru pada perdagangan kemarin, di mana laju bursa saham Asia kembali variatif yakni beberapa indeks saham China terkoreksi bersama dengan Sensex, Nikkei, dan beberapa lainnya, laju IHSG justru mampu berada di zona hijau meski hanya naik tipis.
Pelaku pasar memanfaatkan rebound-nya laju bursa saham AS untuk kembali masuk pasar. "Dan bagusnya adalah IHSG tidak melaju seperti yang kami khawatirkan sebelumnya, di mana masih ada potensi IHSG menutup gap di level 4.512-4.524," kata Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing kembali mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dengan laju IHSG yang mencoba untuk tidak melemah seharusnya membuka peluang kenaikan lanjutan pada perdagangan hari ini. "Tetapi, harus didukung dengan sentimen yang ada. Jika tidak, maka waspada akan berbalik melemahnya laju IHSG, sehingga jemuran dapat kembali diangkat," ujarnya.
Dari luar negeri terlihat, laju bursa saham Asia variatif dengan kecenderungan naik tipis setelah terimbas laju kenaikan bursa saham AS.
Di sisi lain, penguatan laju bursa saham Asia turut ditopang terapresiasinya saham-saham teknologi setelah dirilisnya data kenaikan pertumbuhan penjualan rumah baru AS yang berimbas positif pada saham-saham pendukung properti.
Namun, penguatan tersebut tertahan sentimen dari upaya penyelesaian konflik di Ukraina dan rilis kenaikan suku bunga acuan Brasil yang dikhawatirkan akan memicu kenaikan suku bunga di negara-negara emerging market.
Belum tuntasnya penyelesaian konflik di Ukraina tidak hanya menghambat kenaikan laju bursa saham Asia. Namun, juga memengaruhi laju bursa saham Eropa yang justru cenderung berada di zona merah. Rilis kinerja dari WPP Plc, dan Allianz SE yang di bawah estimasi turut menekan laju bursa saham Eropa.
Laju bursa saham AS nanti akan ditentukan oleh sikap pelaku pasar yang merespon meningkatnya ekskalasi politik di Ukraina karena melibatkan pihak Rusia, Uni Eropa, dan AS.
Selain itu, juga akan merespon testimoni lanjutan dari Gubernur The Fed terpilih Janet Yellen yang sebelumnya sempat tertunda karena badai.
(izz)
Lihat Juga :