Indonesia diminta tak menunggu kedatangan MEA

Jum'at, 28 Februari 2014 - 14:52 WIB
Indonesia diminta tak...
Indonesia diminta tak menunggu kedatangan MEA
A A A
Sindonews.com - Sebagai negara yang paham soal ekonomi kerakyatan, Indonesia diharapkan tidak menunggu datangnya ASEAN Economic Community (AEC) 2015 atau yang biasa dikenal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"MEA pada dasarnya bersifat kapitalisme dan kebijakan-kebijakan yang diatur di dalamnya juga liberal. Seperti membebaskan produk-produk luar dan para pekerja asing masuk serta bekerja di Indonesia. Indonesia seharusnya tidak mendukung MEA. MEA tidak sesuai dengan sistem ekonomi dalam UU kita," ujar Pakar Ekonomi, Revrisond Baswir, Jumat (28/2/2014).

Saat kuliah umum Kemandirian Ekonomi dan Keuangan Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN di UMY, Revrisond mengatakan, MEA tidak semata-mata berbicara soal kemandirian. Masyarakat Indonesia perlu mengambil langkah nyata agar dapat bekerja dan membangun usahanya sesuai UU yang berlaku, bukan mengacu pada sistem kapitalis.

"Kebanyakan orang belum pernah berpikir lebih jauh mengenai MEA. Kita jangan dulu terlalu gembira dengan datangnya MEA. Tapi lihat dulu maunya MEA apa, mau di bawa kemana kita dengan kebijakan-kebijakannya dan siapa penggagasnya. Pernah tidak kita merenungkan kalau MEA neokolonialisme? Harusnya yang kita lakukan sekarang adalah kembali melanjutkan perjuangan kemerdekaan khususnya dalam bidang ekonomi," terangnya.

Menurutnya, langkah konkret yang perlu dilakukan untuk melanjutkan perjuangan Indonesia adalah memperjelas perbedaan antara sistem ekonomi Islam dan kapitalis. Hal tersebut bisa menjadi langkah awal karena faktanya masyarakat Indonesia hidup di tempat yang didominasi kapitalis.

Selain itu, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini menganjurkan agar sistem ekonomi kerakyatan yang diterapkan koperasi harus menjadi bahan pembelajaran bersama.

Tidak hanya mengenai keberadaan koperasi yang telah ditentukan UU negara, pelaksanaan ekonomi dalam koperasi juga berdasarkan kepemilikan bersama, yaitu rakyat.

"Jadi kita bisa menerapkan sistem ekonomi seperti koperasi tersebut. Hal ini juga sesuai dengan UU negara kita, dan tidak bersifat kapitalis," ujar Revrisond.

Langkah konkret lainnya yang bisa dilakukan mahasiswa, lanjut dia yakni mulai berpikir setelah lulus kuliah mau kemana. Institusi pendidikan atau fakultas juga harus bertanggung jawab memberikan petunjuk pada mahasiswanya supaya terhindar dari kapitalisme.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Gaet Mea Shahira, Eka...
Gaet Mea Shahira, Eka Winky Project Lahirkan Karya Baru
Transformasi Digital...
Transformasi Digital dan Keberlanjutan Kunci Pencapaian Target Cetak Biru MEA 2025
Subholding Gas Pertamina,...
Subholding Gas Pertamina, MEA dan WLI Baku Gandeng Penuhi Kebutuhan Listrik 30 MW
Berita Terkini
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
8 menit yang lalu
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Dorong Pensiunan Tetap Produktif dan Sejahtera
14 menit yang lalu
Personal Branding Berbasis...
Personal Branding Berbasis Kepercayaan Jadi Kunci Peluang Bisnis
30 menit yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
36 menit yang lalu
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
40 menit yang lalu
Concord Industry Tegaskan...
Concord Industry Tegaskan Komitmen Perkuat Industri Keramik di Keramika 2026
1 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved