Gandum dominasi impor di Sulsel

Senin, 03 Maret 2014 - 15:34 WIB
Gandum dominasi impor...
Gandum dominasi impor di Sulsel
A A A
Sindonews.com - Gandum masih mendominasi impor di Sulawesi Selatan (Sulsel). Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis, pada Januari 2014, besaran nilai impor komoditas ini mencapai USD18,85 juta dari total impor sebesar USD51,60 juta.

"Untuk gandum persentasenya cukup besar, yakni sebesar 36,53 persen dari total impor daerah ini. Impor di Januari cukup tinggi kalau dibandingkan Desember tahun lalu yang hanya USD6,94 Juta," kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, Senin (3/3/2014).

Selain nikel, kata dia, komoditas penyumbang impor terbesar lainnya yakni bahan bakar mineral dengan nilai USD11,57 juta, disusul ampas/sisa industri makanan dengan nilai impor sebesar USD7,05 juta.

Komoditas-komoditas tersebut didatangkan dari lima negara pemasok utama. Yaitu Australia, Singapura, Argentina, Thailand, dan China.

Menurut Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel, sampai 2011, potensi lahan gandum di daerah ini sebenarnya cukup besar mencapai 10.000 hektare.

Namun, yang tergarap baru mencapai 160 hektare dengan pesebaran Toraja Utara 100 hektare, Luwu Timur 10 hektare, Luwu Utara 10 hektare, Luwu 10 hektare, Enrekang 10 hektare, Tator 10 hektare, dan Kabupaten Gowa 10.

Sementara, produksi per hektare mencapai 2-3 ton. Sulsel dinilai sangat berpotensi. Gandum cocok diketinggian 600 meter sampai 800 meter di atas permukaan laut. Sementara, daerah pegunungan dan perbukitan cukup banyak di wilayah ini.

Industrial Relation Manager PT Eastern Pearl Flour Mills (EPFM), Muammar Muhayyang mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan produksi terigu di EPFM, pihaknya harus mengimpor 100 persen bahan baku.

"Besarannya berapa banyak gandum yang diimpor, kalkulasi semuanya ada di kantor pusat. Tapi gandum-gandum itu kami datangkan dari beberapa negara seperti Kanada, Australia, dan Rusia," ungkapnya.

Hasil produksi pabrikan salah satu produsen terigu nasional ini, sebagian besar atau sekitar 60 persen disuplai untuk kebutuhan Indonesia Timur sedang 40 persen sisanya untuk Indonesia barat.

Khusus untuk kebutuhan tepung terigu di Makassar rata-rata 12 ribu MT per bulan dan 15 ribu MT per bulan di Sulsel.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sistem SP2KP untuk Pengendalian...
Sistem SP2KP untuk Pengendalian Harga Pangan
Swasembada Beras 3 Tahun...
Swasembada Beras 3 Tahun Berturut-turut, Indonesia Raih Penghargaan
Bibit Ayam Broiler PPG...
Bibit Ayam Broiler PPG Siap Dukung Kedaulatan Pangan Nasional
Dukung Ketahanan Pangan...
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Syngenta Luncurkan Jagung Hibrida NK Perkasa Sakti
Biaya Tersembunyi Sistem...
Biaya Tersembunyi Sistem Pangan RI Setara Hampir Separuh PDB
Pengamat Ekonomi : Kenaikan...
Pengamat Ekonomi : Kenaikan Harga Pangan Masih Wajar di Bulan Ramadan 2026
Berita Terkini
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
1 jam yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
2 jam yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
2 jam yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
2 jam yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
2 jam yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
2 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved