Pemerintah pastikan 2018 Jawa-Bali krisis listrik
Rabu, 05 Maret 2014 - 19:06 WIB
Pemerintah pastikan 2018 Jawa-Bali krisis listrik
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah memastikan Jawa-Bali akan mengalami krisis pasokan listrik pada 2018, jika tingginya pertumbuhan beban listrik tidak dibarengi dengan penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan yang memadai.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik mengatakan, dalam mengatasi krisis listrik di Jawa-Bali harus ada tambahan sebesar 5.000 mega watt atau 4.000 mw setiap tahun. Jika tidak, maka itulah yang memungkinkan terjadinya krisis listrik di Pulau Jawa.
"Ekonomi membaik, pabrik makin banyak, mall makin banyak, hotel makin banyak tapi jumlah penyediaannya kurang," kata dia di Jakarta, Rabu (5/3/2014).
Kendala lainnya adalah proyek transmisi kabel bawah laut Jawa-Sumatera yang telat terealisasi melebihi target pada 2017, juga menjadi faktor Jawa-Bali terancam kekurangan pasokan listrik.
Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan PLN, Nasri Sebayang mengatakan, proyek kabel tranmisi tersebut masih menunggu kepastian pendanaan dari pemerinah yakni penerusan pinjaman luar negeri (Sub Loan Agreement/SLA).
Menurut dia, sampai saat ini baru Japan International Cooperation Agency (JICA) yang sudah menyatakan kesiapan mendanai proyek pipa sepanjang 700 km tersebut. Jika kabel listrik ini tuntas, diperkirakan bisa mengalisrkan listrik dari Sumatera ke Jawa sebesar 3.000 mw.
"Ini segera mungkin harus tuntas kalau mundur terus akan terjadi krisis listrik pada 2017," ujarnya.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman mengatakan, proyek ketenagalistrikan kabel transmisi Jawa-Sumatera diharapkan mampu menambah pasokan listrik di sistem Jawa-Bali.
Pemerintah menargetkan mampu menambah pasokan listrik pembangkit listrik 10.000 mw tahap 2 (FTP2) sebesar 7000 mw dari PLTU juga akan beroprasi pada 2017-2018. Sehingga tambahan pasokan listrik dari PLTU akan memenuhi kebutuhan listrik di Jawa-Bali.
Jarman mengatakan, meski kebutuhan tiap tahun meningkat di pulau Jawa tapi pertumbuhan listrik di Jawa akan lebih rendah di bandingkan luar Jawa. Dengan demikian, tambahan pasokan listrik dari berbagai sumber akan tetap mencukupi kebutuhan listrik di Jawa Bali.
"Pertumbuhan konsumsi listrik di Jawa masih di bawah 9 persen lebih rendah dibanding di luar Jawa," kata dia.
Berdasarkan data rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN kebutuhan listrikdi Indoneisa pada 2014 mencapai 225,4 tera watt hour (Twh) terdiri dari Jawa Bali 174,9 Twh dan luar Jawa Bali sebesar 50.5 Twh.
Sementara, pada 2018 permintaan listrik nasional diperkirakan mencapai 325,2 Twh terdiri dari Jawa Bali 250,9 Twh dan luar Jawa-Bali 74,3 persen.
Pertumbuhan listrik nasional pada 2014 diperkirakan mencapai 9,8 persen, namun untuk Jawa-Bali diperkirakan mencapai 9,7 p-ersen dan luar Jawa-Bali sebesar 10,2 persen.
Pada 2018 pertumbuhan kebutuhan listrik nasional diperkirakan mencapai 9,4 persen, untuk di Jawa-Bali sebesar 9,2 persen dan luar Jawa-Bali mencapai 10 persen.
Adapun target rasio elektrifikasi nasional pada 2014 diperkirakan mencapai 80,4 persen, teridiri dari di Jawa-Bali mencapai 84,2 persen dan luar Jawa-Bali sebesar 74,2 persen.
Pada 2018, target rasio elektrifikasi nasional meningkat menjadi 95,5 persen, di Jawa-Bali sebesar 97,3 persen dan luar Jawa-Bali mencapai 92,7 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik mengatakan, dalam mengatasi krisis listrik di Jawa-Bali harus ada tambahan sebesar 5.000 mega watt atau 4.000 mw setiap tahun. Jika tidak, maka itulah yang memungkinkan terjadinya krisis listrik di Pulau Jawa.
"Ekonomi membaik, pabrik makin banyak, mall makin banyak, hotel makin banyak tapi jumlah penyediaannya kurang," kata dia di Jakarta, Rabu (5/3/2014).
Kendala lainnya adalah proyek transmisi kabel bawah laut Jawa-Sumatera yang telat terealisasi melebihi target pada 2017, juga menjadi faktor Jawa-Bali terancam kekurangan pasokan listrik.
Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan PLN, Nasri Sebayang mengatakan, proyek kabel tranmisi tersebut masih menunggu kepastian pendanaan dari pemerinah yakni penerusan pinjaman luar negeri (Sub Loan Agreement/SLA).
Menurut dia, sampai saat ini baru Japan International Cooperation Agency (JICA) yang sudah menyatakan kesiapan mendanai proyek pipa sepanjang 700 km tersebut. Jika kabel listrik ini tuntas, diperkirakan bisa mengalisrkan listrik dari Sumatera ke Jawa sebesar 3.000 mw.
"Ini segera mungkin harus tuntas kalau mundur terus akan terjadi krisis listrik pada 2017," ujarnya.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman mengatakan, proyek ketenagalistrikan kabel transmisi Jawa-Sumatera diharapkan mampu menambah pasokan listrik di sistem Jawa-Bali.
Pemerintah menargetkan mampu menambah pasokan listrik pembangkit listrik 10.000 mw tahap 2 (FTP2) sebesar 7000 mw dari PLTU juga akan beroprasi pada 2017-2018. Sehingga tambahan pasokan listrik dari PLTU akan memenuhi kebutuhan listrik di Jawa-Bali.
Jarman mengatakan, meski kebutuhan tiap tahun meningkat di pulau Jawa tapi pertumbuhan listrik di Jawa akan lebih rendah di bandingkan luar Jawa. Dengan demikian, tambahan pasokan listrik dari berbagai sumber akan tetap mencukupi kebutuhan listrik di Jawa Bali.
"Pertumbuhan konsumsi listrik di Jawa masih di bawah 9 persen lebih rendah dibanding di luar Jawa," kata dia.
Berdasarkan data rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN kebutuhan listrikdi Indoneisa pada 2014 mencapai 225,4 tera watt hour (Twh) terdiri dari Jawa Bali 174,9 Twh dan luar Jawa Bali sebesar 50.5 Twh.
Sementara, pada 2018 permintaan listrik nasional diperkirakan mencapai 325,2 Twh terdiri dari Jawa Bali 250,9 Twh dan luar Jawa-Bali 74,3 persen.
Pertumbuhan listrik nasional pada 2014 diperkirakan mencapai 9,8 persen, namun untuk Jawa-Bali diperkirakan mencapai 9,7 p-ersen dan luar Jawa-Bali sebesar 10,2 persen.
Pada 2018 pertumbuhan kebutuhan listrik nasional diperkirakan mencapai 9,4 persen, untuk di Jawa-Bali sebesar 9,2 persen dan luar Jawa-Bali mencapai 10 persen.
Adapun target rasio elektrifikasi nasional pada 2014 diperkirakan mencapai 80,4 persen, teridiri dari di Jawa-Bali mencapai 84,2 persen dan luar Jawa-Bali sebesar 74,2 persen.
Pada 2018, target rasio elektrifikasi nasional meningkat menjadi 95,5 persen, di Jawa-Bali sebesar 97,3 persen dan luar Jawa-Bali mencapai 92,7 persen.
(izz)
Lihat Juga :