PLN catat rugi bersih Rp29,6 T
Rabu, 05 Maret 2014 - 19:33 WIB
PLN catat rugi bersih Rp29,6 T
A
A
A
Sindonews.com - PT PLN (Persero) mencatat rugi bersih pada 2013 menjadi Rp29,6 triiliun. Padahal pada 2012 perseroan mempu membukukan laba bersih sebesar Rp3,2 triliun.
Demikian terungkap dalam laporan keuangan perseroan di Jakarta, Rabu (5/3/2014). Penurunan ini terutama disebabkan oleh peningkatan rugi selisih kurs atas penjabaran liabilitas moneter dalam mata uang asing yang bersifat non cash sebesar Rp42,2 triliun dan peningkatan beban bunga sebesar Rp5,5 triliun.
Sementara, laba usaha perseroan naik sebesar Rp7,0 triliun atau 23,5 persen dari Rp29,5 triliun menjadi Rp36,5 triliun. Peningkatan rugi selisih kurs sebesar Rp42,2 triliun tersebut diatas disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD sebesar 20,7 persen dan 3,6 persen terhadap Yen.
Hal tersebut menyebabkan nilai utang PLN dan utang sewa pembiayaan atas penerapan ISAK 8 terhadap transaksi dengan Independent Power Producer (IPP) yang didominasi oleh pinjaman valas meningkat secara tajam.
EBITDA perseroan meningkat 16,9 persen dari Rp52,1 triliun pada 2012 menjadi Rp60,9 triliun pada 2013. Dari laporan posisi keuangan, tercatat jumlah aset tidak lancar mengalami peningkatan 8,3 persen menjadi Rp511,0 triliun pada 2013 dari Rp472,1 triliun pada 31 Desember 2012.
Peningkatan aset ini karena investasi pada perseroan atas proyek kelistrikan berupa pembangkit dan transmisi. Adapun aset lancar naik 9,7 persen menjadi Rp84,8 triliun pada 2013 dari Rp77,3 triliun pada 2012. Sehingga total jumlah aset perseroan pada akhir 2013 sebesar Rp595,9 triliun atau naik 8,5 persen dari Rp549,4 triliun pada 31 Desember 2012.
Dalam laporan keuangan tersebut, terlihat bahwa pertumbuhan pendapatan usaha PLN pada 2013 lebih tinggi dibanding kenaikan biaya. Pendapatan usaha perseroan mengalami peningkatan sebesar 10,6 persen menjadi Rp257,4 triliun dibandingkan Rp232,7 triliun pada 2012.
Sementara, beban usaha naik 8,8 persen, yakni sebesar Rp220,9 triliun dibdandingkan Rp203,1 triliun pada 2012. Kenaikan biaya operasi tersebut menunjukkan bahwa perseroan telah melakukan kontrol terhadap biaya operasi.
Biaya administrasi dan umum yang merupakan controllable cost bagi perseroan hanya naik 5,7 persen dari Rp5,2 triliun pada 2012 menjadi Rp5,5 triliun pada 2013. Selebihnya, dikontribusi oleh peningkatan konsumsi dan harga bahan bakar dan pelumas yang berada di luar kontrol perseroan.
Meningkatnya pendapatan usaha 2013 ini berasal dari perpaduan antara kenaikan volume penjualan tenaga listrik dan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) yang diberlakukan bertahap setiap triwulan mulai pemakaian Januari 2013.
Demikian terungkap dalam laporan keuangan perseroan di Jakarta, Rabu (5/3/2014). Penurunan ini terutama disebabkan oleh peningkatan rugi selisih kurs atas penjabaran liabilitas moneter dalam mata uang asing yang bersifat non cash sebesar Rp42,2 triliun dan peningkatan beban bunga sebesar Rp5,5 triliun.
Sementara, laba usaha perseroan naik sebesar Rp7,0 triliun atau 23,5 persen dari Rp29,5 triliun menjadi Rp36,5 triliun. Peningkatan rugi selisih kurs sebesar Rp42,2 triliun tersebut diatas disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD sebesar 20,7 persen dan 3,6 persen terhadap Yen.
Hal tersebut menyebabkan nilai utang PLN dan utang sewa pembiayaan atas penerapan ISAK 8 terhadap transaksi dengan Independent Power Producer (IPP) yang didominasi oleh pinjaman valas meningkat secara tajam.
EBITDA perseroan meningkat 16,9 persen dari Rp52,1 triliun pada 2012 menjadi Rp60,9 triliun pada 2013. Dari laporan posisi keuangan, tercatat jumlah aset tidak lancar mengalami peningkatan 8,3 persen menjadi Rp511,0 triliun pada 2013 dari Rp472,1 triliun pada 31 Desember 2012.
Peningkatan aset ini karena investasi pada perseroan atas proyek kelistrikan berupa pembangkit dan transmisi. Adapun aset lancar naik 9,7 persen menjadi Rp84,8 triliun pada 2013 dari Rp77,3 triliun pada 2012. Sehingga total jumlah aset perseroan pada akhir 2013 sebesar Rp595,9 triliun atau naik 8,5 persen dari Rp549,4 triliun pada 31 Desember 2012.
Dalam laporan keuangan tersebut, terlihat bahwa pertumbuhan pendapatan usaha PLN pada 2013 lebih tinggi dibanding kenaikan biaya. Pendapatan usaha perseroan mengalami peningkatan sebesar 10,6 persen menjadi Rp257,4 triliun dibandingkan Rp232,7 triliun pada 2012.
Sementara, beban usaha naik 8,8 persen, yakni sebesar Rp220,9 triliun dibdandingkan Rp203,1 triliun pada 2012. Kenaikan biaya operasi tersebut menunjukkan bahwa perseroan telah melakukan kontrol terhadap biaya operasi.
Biaya administrasi dan umum yang merupakan controllable cost bagi perseroan hanya naik 5,7 persen dari Rp5,2 triliun pada 2012 menjadi Rp5,5 triliun pada 2013. Selebihnya, dikontribusi oleh peningkatan konsumsi dan harga bahan bakar dan pelumas yang berada di luar kontrol perseroan.
Meningkatnya pendapatan usaha 2013 ini berasal dari perpaduan antara kenaikan volume penjualan tenaga listrik dan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) yang diberlakukan bertahap setiap triwulan mulai pemakaian Januari 2013.
(izz)
Lihat Juga :