Defisit perdagangan China Februari USD22,98 M
Sabtu, 08 Maret 2014 - 12:53 WIB
Defisit perdagangan China Februari USD22,98 M
A
A
A
Sindonews.com - China mencatat defisit perdagangan yang tak terduga sebesar USD22,98 miliar pada Februari. Musim liburan dijadikan penyebab kinerja di negara ini lemah.
Seperti dikutip dari AFP, Sabtu (8/3/2014), angka tersebut jauh berbeda dibandingkan pada bulan tahun lalu yang surplus USD14,8 miliar, dan perkiraan median dari surplus USD11,9 miliar dalam jajak pendapat dari 13 ekonom oleh Dow Jones Newswires.
Administrasi Umum Bea Cukai China mengatakan, nilai ekspor turun 18,1 persen menjadi USD114,10 miliar, sementara impor naik 10,1 persen menjadi USD137.08 miliar, yang termasuk sebagian besar liburan Tahun Baru Imlek.
"Festival musim semi jadi faktor yang menyebabkan fluktuasi cukup tajam dalam tingkat pertumbuhan bulanan serta defisit bulanan," kata Bea Cukai dalam sebuah pernyataan.
Pedagang Cina terbiasa mengedepankan ekspor menjelang liburan, dan fokus pada impor. Analis mengecilkan defisit China pertama dalam 11 bulan. Peningkatan permintaan luar negeri menjadi pertanda baik bagi perdagangan China tahun ini.
"Umumnya kita agak optimis tentang prospek perdagangan tahun ini," kata Zhou Hao, seorang ekonom ANZ Bank yang berbasis di Shanghai kepada AFP.
Menurutnya, defisit ini mungkin hasil dari upaya pemerintah untuk mengekang arus masuk modal spekulatif yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari apresiasi mata uang yuan China.
Dalam dua bulan pertama tahun ini, ekspor China turun 1,6 persen dari tahun ke tahun menjadi USD321,23 miliar dan impor naik 10 persen menjadi USD312,34 miliar.
Surplus perdagangan pada periode dua bulan menyempit sebersa 79,1 persen ke USD8,89 miliar. Impor komoditas utama seperti bijih besi, minyak mentah dan kacang-kacangan semua terlihat tumbuh hingg dua digit dalam dua bulan pertama tahun ini.
Sementara, aluminimun menunjukkan kenaikan terbesar atau naik 78,8 persen secara year on year. Impor kendaraan melonjak 50,3 persen menjadi 197.000 unit pada periode tersebut.
Seperti dikutip dari AFP, Sabtu (8/3/2014), angka tersebut jauh berbeda dibandingkan pada bulan tahun lalu yang surplus USD14,8 miliar, dan perkiraan median dari surplus USD11,9 miliar dalam jajak pendapat dari 13 ekonom oleh Dow Jones Newswires.
Administrasi Umum Bea Cukai China mengatakan, nilai ekspor turun 18,1 persen menjadi USD114,10 miliar, sementara impor naik 10,1 persen menjadi USD137.08 miliar, yang termasuk sebagian besar liburan Tahun Baru Imlek.
"Festival musim semi jadi faktor yang menyebabkan fluktuasi cukup tajam dalam tingkat pertumbuhan bulanan serta defisit bulanan," kata Bea Cukai dalam sebuah pernyataan.
Pedagang Cina terbiasa mengedepankan ekspor menjelang liburan, dan fokus pada impor. Analis mengecilkan defisit China pertama dalam 11 bulan. Peningkatan permintaan luar negeri menjadi pertanda baik bagi perdagangan China tahun ini.
"Umumnya kita agak optimis tentang prospek perdagangan tahun ini," kata Zhou Hao, seorang ekonom ANZ Bank yang berbasis di Shanghai kepada AFP.
Menurutnya, defisit ini mungkin hasil dari upaya pemerintah untuk mengekang arus masuk modal spekulatif yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari apresiasi mata uang yuan China.
Dalam dua bulan pertama tahun ini, ekspor China turun 1,6 persen dari tahun ke tahun menjadi USD321,23 miliar dan impor naik 10 persen menjadi USD312,34 miliar.
Surplus perdagangan pada periode dua bulan menyempit sebersa 79,1 persen ke USD8,89 miliar. Impor komoditas utama seperti bijih besi, minyak mentah dan kacang-kacangan semua terlihat tumbuh hingg dua digit dalam dua bulan pertama tahun ini.
Sementara, aluminimun menunjukkan kenaikan terbesar atau naik 78,8 persen secara year on year. Impor kendaraan melonjak 50,3 persen menjadi 197.000 unit pada periode tersebut.
(izz)
Lihat Juga :