Pertamina bangun pabrik pelumas termodern di ASEAN
Minggu, 09 Maret 2014 - 15:04 WIB
Pertamina bangun pabrik pelumas termodern di ASEAN
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina Lubricants, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) akan membangun pabrik termodern di Asia Tenggara (ASEAN) dengan nilai investasi sebesar Rp1,3 triliun di Tanjung Priok, Jakarta dengan rincian pembangunan Lube Oil Blending Plant (LOBP) senilai Rp800 miliar dan pembangunan Grease Plant senilai Rp500 miliar.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, target pembangunan pabrik pelumas ini diperkirakan rampung pada 2015 dengan kapasitas 8.000 Metrik Ton (MT). Sedangkan untuk kapasitas yang tersedia saat ini sebesar 3000 MT.
“Kalau ini selesai, kita akan jadi salah satu produsen dengan kapasitas tertinggi dan termodern di Asia Tenggara,” kata Hanung, di Jakarta akhir pekan ini.
Menurut Hanung, pembangunan LOPB dilakukan untuk yang ketiga kalinya dengan kapasitas 350 ribu ton per tahun. Apabila pembangunan ini selesai, maka kapasitasnya diperkirakan akan mencapai hampir 600 ribu ton per tahun.
Selain itu, Pertamina Lubricants juga semakin giat melakukan ekspansi bisnis pelumas ke mancanegara. Saat ini, pelumas Pertamina sudah dipasarkan di 25 negara, diantaranya Jepang, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Myanmar, Singapore, Taiwan, Filipina, Timor Leste, Australia, Afrika Selatan, China dan Amerika.
Dengan pangsa pasar yang diraih saat ini, Pertamina telah menempatkan diri sebagai salah satu pemain kelas dunia di bisnis pelumas. Bahkan sekarang proses akusisi fasilitas produksi pelumas di Thailand mendekati final.
“Ini akan jadi basis produksi untuk pemasaran IndoChina. Kita akan agresif pemasrannya ke China dengan bekerja sama dengan perusahaan pelumas di sana,” kata dia.
Direktur Utama Pertamina Lubricants Supriyanto DH menambahkan, LOPB Tanjung Priok yang baru ini teknologinya terbaik se-Asia Tenggara. “LPOB ini begitu blending, run hasilnya langsung on spec, dibandingkan dengan manual yang berulang kali proses,” jelasnya.
Pembangunan LOPB ini juga untuk mendukung ekspanasi dan penetrasi ke pasar yang baru maupun pasar eksisting, seperti Australia, Singapura, Jepang, Timur Tengah, Eropa, IndoChina, Afrika dan China. Dengan target keuntungan dari bisnis ini sebesar Rp2,4 triliun dengan pendapatan Rp12 triliun.
Dia mengatakan, terdapat dua potensi untuk memasarkan produk ini, diantaranya pasar domestik dan overseas. Pertamina sendiri, lanjutnya, tidak ingin membandingkan dengan kompetitor domestik karena kompetitor domestik terbesar hanya mampu menguasai sekitar 10 persen.
“Kita nggak bisa bandingkan dengan perusahaan lain di Indonesia,” kata dia.
Dia optimis market share penjualan pelumas akan lebih tinggi sekita 60-62 persen dari sekarang. China dipandang sebagai pasar yang menarik untuk dituju karena lebih dari 10 kali lipat jika dibanding di dalam negeri.
“Kita sudah masuk sekitar dua tahun lalu menjelajahi China. Kita sudah punya fasilitas di sana dan sekarang kita ingin penetrasi karena dengan fasilitas itu kita bisa akuisisi saham di sana,” kata dia.
Sebagai market leader dalam bisnis pelumas dan pelumasan di Indonesia Pertamina Lubricants diharapkan mampu menjadi market education. Dengan begitu, dapat memberi kontribusi bagi kemajuan teknologi pelumas dan pelumasan.
“Kemajuan ini akan membawa kepada masa depan yang lebih baik,” katanya.
Terlebih Pertamina juga sudah mempunyai produksi yang memang di desain untuk memenuhi spesifikasi mesin-mesin terkini, seperti Fastron, Techno, Enduro Racing, Enduro Matic dan lain-lain. Maka tak heran jika selain menduduki sebagai market leader Pertamina juga menjadi acuan bagi perkembangan pelumas di Indonesia.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, target pembangunan pabrik pelumas ini diperkirakan rampung pada 2015 dengan kapasitas 8.000 Metrik Ton (MT). Sedangkan untuk kapasitas yang tersedia saat ini sebesar 3000 MT.
“Kalau ini selesai, kita akan jadi salah satu produsen dengan kapasitas tertinggi dan termodern di Asia Tenggara,” kata Hanung, di Jakarta akhir pekan ini.
Menurut Hanung, pembangunan LOPB dilakukan untuk yang ketiga kalinya dengan kapasitas 350 ribu ton per tahun. Apabila pembangunan ini selesai, maka kapasitasnya diperkirakan akan mencapai hampir 600 ribu ton per tahun.
Selain itu, Pertamina Lubricants juga semakin giat melakukan ekspansi bisnis pelumas ke mancanegara. Saat ini, pelumas Pertamina sudah dipasarkan di 25 negara, diantaranya Jepang, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Myanmar, Singapore, Taiwan, Filipina, Timor Leste, Australia, Afrika Selatan, China dan Amerika.
Dengan pangsa pasar yang diraih saat ini, Pertamina telah menempatkan diri sebagai salah satu pemain kelas dunia di bisnis pelumas. Bahkan sekarang proses akusisi fasilitas produksi pelumas di Thailand mendekati final.
“Ini akan jadi basis produksi untuk pemasaran IndoChina. Kita akan agresif pemasrannya ke China dengan bekerja sama dengan perusahaan pelumas di sana,” kata dia.
Direktur Utama Pertamina Lubricants Supriyanto DH menambahkan, LOPB Tanjung Priok yang baru ini teknologinya terbaik se-Asia Tenggara. “LPOB ini begitu blending, run hasilnya langsung on spec, dibandingkan dengan manual yang berulang kali proses,” jelasnya.
Pembangunan LOPB ini juga untuk mendukung ekspanasi dan penetrasi ke pasar yang baru maupun pasar eksisting, seperti Australia, Singapura, Jepang, Timur Tengah, Eropa, IndoChina, Afrika dan China. Dengan target keuntungan dari bisnis ini sebesar Rp2,4 triliun dengan pendapatan Rp12 triliun.
Dia mengatakan, terdapat dua potensi untuk memasarkan produk ini, diantaranya pasar domestik dan overseas. Pertamina sendiri, lanjutnya, tidak ingin membandingkan dengan kompetitor domestik karena kompetitor domestik terbesar hanya mampu menguasai sekitar 10 persen.
“Kita nggak bisa bandingkan dengan perusahaan lain di Indonesia,” kata dia.
Dia optimis market share penjualan pelumas akan lebih tinggi sekita 60-62 persen dari sekarang. China dipandang sebagai pasar yang menarik untuk dituju karena lebih dari 10 kali lipat jika dibanding di dalam negeri.
“Kita sudah masuk sekitar dua tahun lalu menjelajahi China. Kita sudah punya fasilitas di sana dan sekarang kita ingin penetrasi karena dengan fasilitas itu kita bisa akuisisi saham di sana,” kata dia.
Sebagai market leader dalam bisnis pelumas dan pelumasan di Indonesia Pertamina Lubricants diharapkan mampu menjadi market education. Dengan begitu, dapat memberi kontribusi bagi kemajuan teknologi pelumas dan pelumasan.
“Kemajuan ini akan membawa kepada masa depan yang lebih baik,” katanya.
Terlebih Pertamina juga sudah mempunyai produksi yang memang di desain untuk memenuhi spesifikasi mesin-mesin terkini, seperti Fastron, Techno, Enduro Racing, Enduro Matic dan lain-lain. Maka tak heran jika selain menduduki sebagai market leader Pertamina juga menjadi acuan bagi perkembangan pelumas di Indonesia.
(rna)
Lihat Juga :