Ekspor China anjlok akibat liburan Imlek
Senin, 10 Maret 2014 - 13:31 WIB
Ekspor China anjlok akibat liburan Imlek
A
A
A
Sindonews.com - Ekspor China menurun paling dalam sejak 2009 menjadi tantangan bagi Perdana Menteri Li Keqiang dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 7,5 persen.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/3/2014), pengiriman ke luar negeri tiba-tiba menurun 18,1 persen pada Februari dari tahun sebelumnya. Angka ini berbeda dengan estimasi rata-rata analis yang naik 7,5 persen.
Harga produsen turun 2 persen, terbesar sejak Juli, menurut laporan biro statistik, ini memperpanjang penurunan terpanjang sejak 1999. Saham Asia jatuh dan logam termasuk tembaga turun karena data telah memicu kekhawatiran atas prospek ekonomi terbesar kedua di dunia ini. Sementara, suku bunga melemah terbesar sejak 2012.
Penuruna ini terdistorsi akibat liburan Tahun Baru Imlek dan faktur yang meningkat angka perdagangan tahun lalu, seiring dengan meningkatkan impor yang lebih besar dari yang diproyeksikan, membuat lebih sulit untuk menilai gambaran sebenarnya.
"Ada inkonsistensi intrinsik dalam target kebijakan mereka dan realitas ekonomi," kata Liu Li Gang, kepala ekonomi Greater China di Australia & New Zealand Banking Group Ltd di Hong Kong.
Pertumbuhan di bawah 7,5 persen pada semester pertama dapat memacu pemerintah untuk menggunakan stimulus fiskal. "Dan mereka memiliki ruang untuk melakukan itu, tetapi dengan melakukan hal itu akan membahayakan agenda reformasi ekonomi China," ujarnya.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/3/2014), pengiriman ke luar negeri tiba-tiba menurun 18,1 persen pada Februari dari tahun sebelumnya. Angka ini berbeda dengan estimasi rata-rata analis yang naik 7,5 persen.
Harga produsen turun 2 persen, terbesar sejak Juli, menurut laporan biro statistik, ini memperpanjang penurunan terpanjang sejak 1999. Saham Asia jatuh dan logam termasuk tembaga turun karena data telah memicu kekhawatiran atas prospek ekonomi terbesar kedua di dunia ini. Sementara, suku bunga melemah terbesar sejak 2012.
Penuruna ini terdistorsi akibat liburan Tahun Baru Imlek dan faktur yang meningkat angka perdagangan tahun lalu, seiring dengan meningkatkan impor yang lebih besar dari yang diproyeksikan, membuat lebih sulit untuk menilai gambaran sebenarnya.
"Ada inkonsistensi intrinsik dalam target kebijakan mereka dan realitas ekonomi," kata Liu Li Gang, kepala ekonomi Greater China di Australia & New Zealand Banking Group Ltd di Hong Kong.
Pertumbuhan di bawah 7,5 persen pada semester pertama dapat memacu pemerintah untuk menggunakan stimulus fiskal. "Dan mereka memiliki ruang untuk melakukan itu, tetapi dengan melakukan hal itu akan membahayakan agenda reformasi ekonomi China," ujarnya.
(izz)
Lihat Juga :