Ekspor China susut, harga minyak WTI dan Brent jatuh
Senin, 10 Maret 2014 - 17:21 WIB
Ekspor China susut, harga minyak WTI dan Brent jatuh
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent jatuh untuk pertama kalinya dalam tiga hari setelah ekspor dari China tiba-tiba menyusut, memicu spekulasi konsumen minyak terbesar kedua di dunia kehilangan target pertumbuhan ekonomi.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/3/2014), futures turun sebanyak 1,5 persen di New York. Pengiriman luar negeri China turun 18,1 persen pada Februari dari tahun sebelumnya, penurunan terbesar sejak Agustus 2009.
Harga minyak WTI pada 7 Maret naik 1 persen, dan tertinggi dalam empat hari, seperti hedge fund meningkatkan taruhan bullish. "Jatuhnya ekspor China bisa dilihat sebagai tanda melambatnya ekonomi global," kata Carsten Fritsch, analis di Commerzbank AG di Frankfurt.
Sementara, data menunjukkan adanya ketakutan pasar minyak, dan menyebabkan ekonomi China masih diperkirakan akan tumbuh sebesar 7,3 persen tahun ini.
Harga minyak WTI untuk pengiriman April turun sebanyak USD1,53 ke USD101,05 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange dan berada di USD101,29 pada 09:16 waktu London.
Harga yang stabil pekan lalu, mengakhiri tujuh pekan sebelumnya. Sedangkan semua volume berjangka yang diperdagangkan sebesar 18 persen lebih dari rata-rata 100 hari.
Brent untuk pengiriman April turun sebanyak USD1,25 menjadi USD107,75 per barel di bursa ICE Futures Europe. Minyak mentah patokan Eropa dengan premi sebesar USD6,75 untuk WTI pada ICE, dibandingkan dengan USD6,42 pada 7 Maret.
Ekonomi China
Penurunan ekspor China menjadi yang terbesar sejak krisis keuangan global lima tahun yang lalu, menghadapi pukulan terhadap kepercayaan diri setelah pertemuan para pemimpin Partai Komunis di Beijing menetapkan target pertumbuhan ekonomi 7,5 persen untuk tahun ini.
Bangsa ini mengimpor 23.050.000 metrik ton minyak mentah pada Februari, turun 18 persen dari rekor tinggi pada Januari, hal ini sudah terbiasa tiap tahun.
Menurut perkiraan dari Badan Energi Internasional di Paris, China akan mencapai sekitar 11 persen dari permintaan minyak global pada 2014, dibandingkan dengan 21 persen untuk AS.
"Statistik hari ini telah merusak harga komoditas bergantung pada permintaan China," kata Christopher Bellew, broker Jefferies senior di Bache Ltd di London.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/3/2014), futures turun sebanyak 1,5 persen di New York. Pengiriman luar negeri China turun 18,1 persen pada Februari dari tahun sebelumnya, penurunan terbesar sejak Agustus 2009.
Harga minyak WTI pada 7 Maret naik 1 persen, dan tertinggi dalam empat hari, seperti hedge fund meningkatkan taruhan bullish. "Jatuhnya ekspor China bisa dilihat sebagai tanda melambatnya ekonomi global," kata Carsten Fritsch, analis di Commerzbank AG di Frankfurt.
Sementara, data menunjukkan adanya ketakutan pasar minyak, dan menyebabkan ekonomi China masih diperkirakan akan tumbuh sebesar 7,3 persen tahun ini.
Harga minyak WTI untuk pengiriman April turun sebanyak USD1,53 ke USD101,05 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange dan berada di USD101,29 pada 09:16 waktu London.
Harga yang stabil pekan lalu, mengakhiri tujuh pekan sebelumnya. Sedangkan semua volume berjangka yang diperdagangkan sebesar 18 persen lebih dari rata-rata 100 hari.
Brent untuk pengiriman April turun sebanyak USD1,25 menjadi USD107,75 per barel di bursa ICE Futures Europe. Minyak mentah patokan Eropa dengan premi sebesar USD6,75 untuk WTI pada ICE, dibandingkan dengan USD6,42 pada 7 Maret.
Ekonomi China
Penurunan ekspor China menjadi yang terbesar sejak krisis keuangan global lima tahun yang lalu, menghadapi pukulan terhadap kepercayaan diri setelah pertemuan para pemimpin Partai Komunis di Beijing menetapkan target pertumbuhan ekonomi 7,5 persen untuk tahun ini.
Bangsa ini mengimpor 23.050.000 metrik ton minyak mentah pada Februari, turun 18 persen dari rekor tinggi pada Januari, hal ini sudah terbiasa tiap tahun.
Menurut perkiraan dari Badan Energi Internasional di Paris, China akan mencapai sekitar 11 persen dari permintaan minyak global pada 2014, dibandingkan dengan 21 persen untuk AS.
"Statistik hari ini telah merusak harga komoditas bergantung pada permintaan China," kata Christopher Bellew, broker Jefferies senior di Bache Ltd di London.
(izz)
Lihat Juga :