Utang bersih Adaro berkurang 21% di 2013
Selasa, 11 Maret 2014 - 11:16 WIB
Utang bersih Adaro berkurang 21% di 2013
A
A
A
Sindonews.com - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) pada tahun lalu berhasil mengurangi utangnya sebesar 21 persen menjadi USD1,54 miliar dari posisi utang 2012 mencapai USD1,95 miliar.
Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan, perseroan terus menurunkan posisi utang dan mengurangi utang berbunga sebesar 9 persen menjadi USD2,22 miliar dari tahun sebelumnya USD2,45 miliar.
"Sehingga rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi 1,87 kali dan rasio utang bersih terhadap ekuitas menjadi 0,48 kali per akhir tahun 2013," kata dia dalam keterangannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/3/2014).
Di samping itu, dia menuturkan, perseroan juga terus menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan memperpanjang profil masa jatuh tempo pinjamannya.
Adapun, kas perseroan per akhir tahun lalu tercatat meningkat 36 persen menjadi USD681 juta dibanding tahun sebelumnya USD500 juta. Sementara belanja modal perusahaan pada tahun lalu diturunkan mencapai 66 persen menjadi USD165 juta dibanding tahun sebelumnya USD485 juta.
"Kami menurunkan belanja modal, menghasilkan arus kas positif dan akan terus membayar cicilan utang. Kami memiliki likuiditas sekitar USD1 miliar serta fasilitas kredit dengan masa jatuh tempo yang panjang, sehingga memberikan ruang sifgnifikan untuk mengatasi masa sulit," tutur dia.
Sepanjang tahun lalu, Adaro tercatat mengalami penurunan laba bersih sebesar 40 persen dari USD385,35 juta menjadi USD231,23 juta akibat tertekannnya harga batu bara. Kendati demikian, dia optimis kinerja ke depan akan membaik karena batu bara Indonesia diyakini akan tetap kompetitif lantaran produksinya berbiaya rendah dan jarak yang dekat dengan tujuan ekspor utama.
Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan, perseroan terus menurunkan posisi utang dan mengurangi utang berbunga sebesar 9 persen menjadi USD2,22 miliar dari tahun sebelumnya USD2,45 miliar.
"Sehingga rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi 1,87 kali dan rasio utang bersih terhadap ekuitas menjadi 0,48 kali per akhir tahun 2013," kata dia dalam keterangannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/3/2014).
Di samping itu, dia menuturkan, perseroan juga terus menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan memperpanjang profil masa jatuh tempo pinjamannya.
Adapun, kas perseroan per akhir tahun lalu tercatat meningkat 36 persen menjadi USD681 juta dibanding tahun sebelumnya USD500 juta. Sementara belanja modal perusahaan pada tahun lalu diturunkan mencapai 66 persen menjadi USD165 juta dibanding tahun sebelumnya USD485 juta.
"Kami menurunkan belanja modal, menghasilkan arus kas positif dan akan terus membayar cicilan utang. Kami memiliki likuiditas sekitar USD1 miliar serta fasilitas kredit dengan masa jatuh tempo yang panjang, sehingga memberikan ruang sifgnifikan untuk mengatasi masa sulit," tutur dia.
Sepanjang tahun lalu, Adaro tercatat mengalami penurunan laba bersih sebesar 40 persen dari USD385,35 juta menjadi USD231,23 juta akibat tertekannnya harga batu bara. Kendati demikian, dia optimis kinerja ke depan akan membaik karena batu bara Indonesia diyakini akan tetap kompetitif lantaran produksinya berbiaya rendah dan jarak yang dekat dengan tujuan ekspor utama.
(rna)
Lihat Juga :