Timah lanjutkan eksplorasi dengan tujuh kapal bor
Rabu, 12 Maret 2014 - 15:09 WIB
Timah lanjutkan eksplorasi dengan tujuh kapal bor
A
A
A
Sindonews.com - PT Timah Tbk (TINS) berencana melakukan kegiatan eksplorasi pada bulan ini di beberapa tempat dengan menggunakan tujuh kapal bor, diantaranya tiga kapal bor di perairan Bangka, satu kapal di perairan Belitung Timur, tiga kapal bor di perairan Kundur, serta untuk pemboran darat tetap difokuskan ke daerah Belitung, Bangka Selatan dan Bangka Utara.
Sekretaris Perusahaan TINS Agung Nugroho mengatakan, pada Februari 2014 perseroan telah melakukan eksplorasi di tiga tempat di Sumatera. Rinciannya, eksplorasi bijih timah, eksplorasi nikel dan eksplorasi batu bara.
Menurut Agung, eksplorasi bijih timah membutuhkan dana sebesar Rp10,7 miliar. “Dana tersebut digunakan untuk biaya operasional dan investasi,” ujar Agung di Jakarta, Rabu (12/3/2014).
Dia melanjutkan, untuk eksplorasi bijih timah dilakukan di darat dan laut. Untuk eksplorasi di laut, dilakukan kegiatan pemboran prospeksi dan pemboran rinci yang berada di perairan Kundur dan Bangka.
Sementara untuk di perairan Belitung Timur dilakukan eksplorasi pemboran propeksi. Adapun kegiatan eksplorasi di darat, yakni melakukan penelitian dan melakukan kegiatan pemboran alluvial sebagai pendukung dan evaluasi penambangan timah.
Agung mengungkapkan, hasil kegiatan eksplorasi laut sampai dengan Februari 2014 memperoleh penemuan sumber daya 849 ton untuk inferred, 436 ton indicated serta 2.143 ton measured.
“Pada eksplorasi nikel, PT Timah Eksplomin dalam rentang waktu bulan Desember 2013 sampai Februari 2014 tidak melaksanakan kegiatan eksplorasi, baik untuk internal ataupun jasa eksternal,” terang dia.
Selama rentang waktu tersebut, dia menjelaskan, PT Timah Eksplomin hanya fokus untuk melakukan produksi dan penjualan bijih nikel. Dia menuturkan, kegiatan eksplorasi ini berupa survei geofisika mineralisasi bijih besi.
Sedangkan pada eksplorasi batu bara, pada tahun 2013 hingga Februari 2014 juga ditiadakan karena telah memasuki fase rencana penutupan tambang. “Kondisi penambangan sudah memasuki proses finalisasi dan melakukan kegiatan penataan lahan dengan metode backfiling pada lokasi yang sudah selesai di tambang,” pungkas dia.
Dia menjelaskan, untuk mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan tahun ini, emiten tambang pelat merah tersebut menetapkan sasaran produksi bijih timah sebanyak 28,3 ribu ton Sn dan produksi logam sebanyak 27,7 ribu ton.
Perseroan optimis target tersebut dapat tercapai dengan dioperasikannya unit-unit PIP berbasis kemitraan serta diterapkannya teknologi pengolahan dan penggalian yang terutama ditujukan untuk meningkatkan recovery rate.
Sampai akhir tahun ini, perseroan memproyeksikan perolehan pendapatan minimal Rp7,7 triliun. Sedangkan laba bersih sebesar Rp697 miliar. Perseroan juga menargetkan angka volume penjualan logam timah dan biji timah sebesar 30 ribu metrik ton (MT) hingga akhir tahun 2014.
Direktur Utama Timah Sukrisno menambahkan, volume penjualan tersebut meningkat 20 persen dibandingkan target penjualan pada tahun lalu sebesar 25 ribu MT. Sedangkan rata-rata harga jual timah yang dibidik perseroan pada tahun 2014 berkisar USD30 ribu per MT.
“Harga rata-rata penjualan logam timah tahun ini kami perkirakan mencapai USD25 ribu hingga USD30 ribu per metrik ton,” ujar Sukrisno.
Dia menjelaskan, untuk mencapai target penjualan tahun ini TINS siap menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp150 miliar. Belanja modal akan digunakan untuk kegiatan produksi, yakni untuk memperkuat industri hilir.
Sampai dengan akhir tahun 2013, emiten tambang batubara ini membukukan pendapatan total senilai Rp5,8 triliun atau 21 persen dari pendapatan usaha tahun 2012 sebesar Rp7,3 triliun. Kontribusi terbesar pendapatan pada tahun lalu paling besar dikontribusikan dari logam timah dan tin solder sebesar Rp5,6 triliun atau turun 21 persen dari Rp7,2 triliun di tahun 2012.
Sekretaris Perusahaan TINS Agung Nugroho mengatakan, pada Februari 2014 perseroan telah melakukan eksplorasi di tiga tempat di Sumatera. Rinciannya, eksplorasi bijih timah, eksplorasi nikel dan eksplorasi batu bara.
Menurut Agung, eksplorasi bijih timah membutuhkan dana sebesar Rp10,7 miliar. “Dana tersebut digunakan untuk biaya operasional dan investasi,” ujar Agung di Jakarta, Rabu (12/3/2014).
Dia melanjutkan, untuk eksplorasi bijih timah dilakukan di darat dan laut. Untuk eksplorasi di laut, dilakukan kegiatan pemboran prospeksi dan pemboran rinci yang berada di perairan Kundur dan Bangka.
Sementara untuk di perairan Belitung Timur dilakukan eksplorasi pemboran propeksi. Adapun kegiatan eksplorasi di darat, yakni melakukan penelitian dan melakukan kegiatan pemboran alluvial sebagai pendukung dan evaluasi penambangan timah.
Agung mengungkapkan, hasil kegiatan eksplorasi laut sampai dengan Februari 2014 memperoleh penemuan sumber daya 849 ton untuk inferred, 436 ton indicated serta 2.143 ton measured.
“Pada eksplorasi nikel, PT Timah Eksplomin dalam rentang waktu bulan Desember 2013 sampai Februari 2014 tidak melaksanakan kegiatan eksplorasi, baik untuk internal ataupun jasa eksternal,” terang dia.
Selama rentang waktu tersebut, dia menjelaskan, PT Timah Eksplomin hanya fokus untuk melakukan produksi dan penjualan bijih nikel. Dia menuturkan, kegiatan eksplorasi ini berupa survei geofisika mineralisasi bijih besi.
Sedangkan pada eksplorasi batu bara, pada tahun 2013 hingga Februari 2014 juga ditiadakan karena telah memasuki fase rencana penutupan tambang. “Kondisi penambangan sudah memasuki proses finalisasi dan melakukan kegiatan penataan lahan dengan metode backfiling pada lokasi yang sudah selesai di tambang,” pungkas dia.
Dia menjelaskan, untuk mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan tahun ini, emiten tambang pelat merah tersebut menetapkan sasaran produksi bijih timah sebanyak 28,3 ribu ton Sn dan produksi logam sebanyak 27,7 ribu ton.
Perseroan optimis target tersebut dapat tercapai dengan dioperasikannya unit-unit PIP berbasis kemitraan serta diterapkannya teknologi pengolahan dan penggalian yang terutama ditujukan untuk meningkatkan recovery rate.
Sampai akhir tahun ini, perseroan memproyeksikan perolehan pendapatan minimal Rp7,7 triliun. Sedangkan laba bersih sebesar Rp697 miliar. Perseroan juga menargetkan angka volume penjualan logam timah dan biji timah sebesar 30 ribu metrik ton (MT) hingga akhir tahun 2014.
Direktur Utama Timah Sukrisno menambahkan, volume penjualan tersebut meningkat 20 persen dibandingkan target penjualan pada tahun lalu sebesar 25 ribu MT. Sedangkan rata-rata harga jual timah yang dibidik perseroan pada tahun 2014 berkisar USD30 ribu per MT.
“Harga rata-rata penjualan logam timah tahun ini kami perkirakan mencapai USD25 ribu hingga USD30 ribu per metrik ton,” ujar Sukrisno.
Dia menjelaskan, untuk mencapai target penjualan tahun ini TINS siap menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp150 miliar. Belanja modal akan digunakan untuk kegiatan produksi, yakni untuk memperkuat industri hilir.
Sampai dengan akhir tahun 2013, emiten tambang batubara ini membukukan pendapatan total senilai Rp5,8 triliun atau 21 persen dari pendapatan usaha tahun 2012 sebesar Rp7,3 triliun. Kontribusi terbesar pendapatan pada tahun lalu paling besar dikontribusikan dari logam timah dan tin solder sebesar Rp5,6 triliun atau turun 21 persen dari Rp7,2 triliun di tahun 2012.
(rna)
Lihat Juga :