Tak ada rotan, mendong dan eceng gondok pun jadi
Kamis, 13 Maret 2014 - 11:04 WIB
Tak ada rotan, mendong dan eceng gondok pun jadi
A
A
A
SUASANA terlihat lengang ketika memasuki kawasan sentra kerjainan rotan di kelurahan Balearjosari, Kota malang, Jawa Timur (Jatim). Suasana itu tepatnya di jalanan, warga sekitar sibuk berkutat dengan pekerjaannya masing-masing di ruang-ruang samping rumah atau bangunan untuk membuat kerajinan aneka olahan dari rotan.
Salah satunya di Tiban Jaya Rotan, yang dikelola Imam Budiono. Di depan rumahnya tidak banyak aktivitas yang mencolok, kesibukan justru berada di samping rumahnya yang berdiri bangunan yang luasnya sekitar 7x4 meter.
Puluhan pekerja atau perajin rotan tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang membuat kursi, menganyam, membuat sketsel atau penyekat ruangan, craft, hiasan interior, dan lain-lain. "Saya buka usaha ini sejak enam tahun lalu," kata Imam, Rabu (12/3/2014).
Meski menjadi pemimpin di bawah usaha yang digelutinya ini, dia mengaku tidak bisa memproduksi sendiri, menganyam atau membuat kursi sendiri juga tidak bisa. Namun, ide dan gagasan semua desain dan corak berasal dari pemikirannya.
Sehingga, produksinya kini menjadi salah satu yang paling digemari pembeli yang berasal dari seluruh Indonesia. Ulet, kreatif, dan selalu memproduksi desain yang baru menjadi andalannya dalam menggeluti usaha ini.
Meski bahan baku rotan yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, Imam tak kehilangan akal. Bahan-bahan lokal yang mudah di dapat di sekitar Malang pun dia olah. Mendong dari wajak, serta eceng gondok, pun menjadi salah satu pelengkap produknya di tengah pasokan rotan yang tidak menentu.
Produknya juga mengolah bahan sintetis dengan desain yang diinginkan pembeli. Berkat kreativitas dan tidak bergantung dengan bahan utama rotan, membuat usahanya tetap bertahan hingga kini.
Imam menceritakan, awalnya membuka usaha hanya mempunyai empat pekerja. Namun, kini sudah berkembang dan memiliki 30 karyawan yang setiap hari memproduksi pesanan dari pelanggannya, mulai dari kafe, restoran, rumah makan, hotel, dan toko-toko furniture.
Selain melayani pesanan dari berbagai daerah, Imam juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan mengirimi beberapa produknya untuk didisplay di gerai-gerai yang banyak berdiri di pinggir jalan pintu masuk Kota Malang. Ada sekitar 20 toko yang dia suplai.
"Kalau laku baru dibayar, kita saling percaya saja, apa yang laku dan produknya apa yang dijual saya malah tidak tahu," ujarnya.
Meski bisa dibilang cukup besar, namun Imam mengaku tak pernah mempunyai pembukuan yang baik. Selama ini, dia hanya mengatur usahanya dengan santai dan saling percaya baik dengan karyawan maupun pelanggan.
"Alhamdulillah, sejak awal buka hingga sekarang tidak pernah sepi, saya juga tidak pernah punya stok, semua yang anda lihat (sambil menunjuk tumpukan produksi berbagai bentuk) adalah pesanan orang," tuturnya.
![Tak ada rotan, mendong dan eceng gondok pun jadi]()
Di showroom yang luasnya sekitar 5x4 meter dan bersebelahan dengan ruang produksi, memang menumpuk berbagai hasil kerajinan rotan, baik furniture, craft, hiasan dinding, penyekat ruangan, dan lain-lain.
Hampir tidak ada ruang kosong untuk tempatnya menerima tamu.
Hanya ada satu stel kursi dan meja untuk menerima pemesan di pojok depan denga luas sekitar 2 meter persegi.
Dia bahkan selalu kebanjiran order dari pembeli lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesai, seperti Kalimantan, Bali, Surabaya, dan beberapa daerah lain.
Imam meyakini jika pasar kerajinan rotan di dalam negeri masih berpeluang bagus. Sehingga tidak pernah berpikir untuk mengekspor. "Melayani pesanan dalam negeri saja masih banyak, ada produk saya memang yang diekspor, tapi tidak melalui saya," ujarnya.
Menurutnya, melayani pemesan dalam negeri saja, penghasilan bersih yang diperoleh mencapai Rp15 juta hingga Rp30 juta per bulan. Jumlah itu sudah dipotong untuk membayar 30 karyawan, angsuran bank, kebutuhan rumah tangga, dan keperluan lainnya.
Produksinya dalam sepekan untuk penyekat ruangan bisa mencapai 200 unit, dengan harga per pintu rata-rata Rp100 ribu. Produk sketsel atau penyekat ruangan ini juga terbuat dari berbagai bahan, seperti kayu, rotan, mendong, atau eceng gondok.
"Harus kreatif, tidak melulu rotan, bahan-bahan lokal pun bisa menjadi produk berkualitas ekspor degan desain yang menarik," ujarnya.
Kelurahan Balearjosari, Kota Malang memang menjadi sentra perajin rotan sejak puluhan tahun lalu. Ada yang gulung tikar, ada yang bertahan, ada juga yang beralih ke usaha lain.
Ada sekitar 23 unit usaha rumahan yang berkembang di kelurahan ini. Bahkan pada 1990-an terkenal sebagai pengekspor mebel rotan yang cukup populer. Namun, kini banyak perajin yang menggunakan anyaman dari bahan sintetis, mendong, serta eceng gondok untuk produk furniture.
Bahan rotan juga tetap digunakan meski tidak semua produk menggunakan bahan rotan. Namun, ada juga yang menggunakan rotan untuk jenis tertentu atau sesuai pesanan.
Salah satunya di Tiban Jaya Rotan, yang dikelola Imam Budiono. Di depan rumahnya tidak banyak aktivitas yang mencolok, kesibukan justru berada di samping rumahnya yang berdiri bangunan yang luasnya sekitar 7x4 meter.
Puluhan pekerja atau perajin rotan tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang membuat kursi, menganyam, membuat sketsel atau penyekat ruangan, craft, hiasan interior, dan lain-lain. "Saya buka usaha ini sejak enam tahun lalu," kata Imam, Rabu (12/3/2014).
Meski menjadi pemimpin di bawah usaha yang digelutinya ini, dia mengaku tidak bisa memproduksi sendiri, menganyam atau membuat kursi sendiri juga tidak bisa. Namun, ide dan gagasan semua desain dan corak berasal dari pemikirannya.
Sehingga, produksinya kini menjadi salah satu yang paling digemari pembeli yang berasal dari seluruh Indonesia. Ulet, kreatif, dan selalu memproduksi desain yang baru menjadi andalannya dalam menggeluti usaha ini.
Meski bahan baku rotan yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, Imam tak kehilangan akal. Bahan-bahan lokal yang mudah di dapat di sekitar Malang pun dia olah. Mendong dari wajak, serta eceng gondok, pun menjadi salah satu pelengkap produknya di tengah pasokan rotan yang tidak menentu.
Produknya juga mengolah bahan sintetis dengan desain yang diinginkan pembeli. Berkat kreativitas dan tidak bergantung dengan bahan utama rotan, membuat usahanya tetap bertahan hingga kini.
Imam menceritakan, awalnya membuka usaha hanya mempunyai empat pekerja. Namun, kini sudah berkembang dan memiliki 30 karyawan yang setiap hari memproduksi pesanan dari pelanggannya, mulai dari kafe, restoran, rumah makan, hotel, dan toko-toko furniture.
Selain melayani pesanan dari berbagai daerah, Imam juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan mengirimi beberapa produknya untuk didisplay di gerai-gerai yang banyak berdiri di pinggir jalan pintu masuk Kota Malang. Ada sekitar 20 toko yang dia suplai.
"Kalau laku baru dibayar, kita saling percaya saja, apa yang laku dan produknya apa yang dijual saya malah tidak tahu," ujarnya.
Meski bisa dibilang cukup besar, namun Imam mengaku tak pernah mempunyai pembukuan yang baik. Selama ini, dia hanya mengatur usahanya dengan santai dan saling percaya baik dengan karyawan maupun pelanggan.
"Alhamdulillah, sejak awal buka hingga sekarang tidak pernah sepi, saya juga tidak pernah punya stok, semua yang anda lihat (sambil menunjuk tumpukan produksi berbagai bentuk) adalah pesanan orang," tuturnya.
Di showroom yang luasnya sekitar 5x4 meter dan bersebelahan dengan ruang produksi, memang menumpuk berbagai hasil kerajinan rotan, baik furniture, craft, hiasan dinding, penyekat ruangan, dan lain-lain.
Hampir tidak ada ruang kosong untuk tempatnya menerima tamu.
Hanya ada satu stel kursi dan meja untuk menerima pemesan di pojok depan denga luas sekitar 2 meter persegi.
Dia bahkan selalu kebanjiran order dari pembeli lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesai, seperti Kalimantan, Bali, Surabaya, dan beberapa daerah lain.
Imam meyakini jika pasar kerajinan rotan di dalam negeri masih berpeluang bagus. Sehingga tidak pernah berpikir untuk mengekspor. "Melayani pesanan dalam negeri saja masih banyak, ada produk saya memang yang diekspor, tapi tidak melalui saya," ujarnya.
Menurutnya, melayani pemesan dalam negeri saja, penghasilan bersih yang diperoleh mencapai Rp15 juta hingga Rp30 juta per bulan. Jumlah itu sudah dipotong untuk membayar 30 karyawan, angsuran bank, kebutuhan rumah tangga, dan keperluan lainnya.
Produksinya dalam sepekan untuk penyekat ruangan bisa mencapai 200 unit, dengan harga per pintu rata-rata Rp100 ribu. Produk sketsel atau penyekat ruangan ini juga terbuat dari berbagai bahan, seperti kayu, rotan, mendong, atau eceng gondok.
"Harus kreatif, tidak melulu rotan, bahan-bahan lokal pun bisa menjadi produk berkualitas ekspor degan desain yang menarik," ujarnya.
Kelurahan Balearjosari, Kota Malang memang menjadi sentra perajin rotan sejak puluhan tahun lalu. Ada yang gulung tikar, ada yang bertahan, ada juga yang beralih ke usaha lain.
Ada sekitar 23 unit usaha rumahan yang berkembang di kelurahan ini. Bahkan pada 1990-an terkenal sebagai pengekspor mebel rotan yang cukup populer. Namun, kini banyak perajin yang menggunakan anyaman dari bahan sintetis, mendong, serta eceng gondok untuk produk furniture.
Bahan rotan juga tetap digunakan meski tidak semua produk menggunakan bahan rotan. Namun, ada juga yang menggunakan rotan untuk jenis tertentu atau sesuai pesanan.
(izz)
Lihat Juga :