Rupiah dibuka kembali ke kisaran Rp11.400/USD
Jum'at, 14 Maret 2014 - 10:14 WIB
Rupiah dibuka kembali ke kisaran Rp11.400/USD
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini dibuka melemah seiring tergelincirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah pada awal perdagangan.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg dibuka pada level Rp11.407 per USD. Posisi ini melemah 21 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.386 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari ini berada di level Rp11.421 per USD atau terdepresiasi 34 poin dibanding penutupan Kamis (13/3/2014) di level Rp11.387 per USD.
Data yahoofinance mencatat mata uang domestik hari ini pada level Rp11.425 per USD. Posisi ini memburukk 21 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp11.404 per USD.
Sementara data Sindonews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah perdagangan hari ini pada level Rp11.428 per USD. Posisi ini melemah 41 poin dibanding penutupan hari kemarin di level Rp11.387 per USD.
Analis pasar uang Bank Mandiri Renny Eka Putri mengatakan, meski rupiah awal pekan ini dibuka merosot, namun dengan banyaknya sentimen positif yang beredar, maka bukan hal yang mustahil bagi rupiah untuk menguat lagi di akhir pekan ini.
Namun demikian, menurut Renny, rentang rupiah pada perdagangan hari ini tidak akan setinggi perdagangan sebelum-sebelumnya lantaran pada perdagangan sehari kemarin dianggap sebagai penguatan kumulatif yang memang telah terjadi sejak awal pekan ini.
"Untuk perdagangan Jumat, trennya masih cenderung menguat, tapi mungkin tidak terlalu jauh penguatannya karena penguatan yang terjadi hari Kamis itu sudah akumulasi penguatan yang terjadi sejak awal pekan. Range-nya kita perkirakan di angka 11.325-11.420," kata Renny, Jumat (14/3/2014).
Sementara, bila menilik lajunya pada perdagangan kemarin, tetapnya besaran BI Rate disambut positif oleh pelaku pasar yang berbuah pada penguatan mata uang Indonesia.
"Penguatan rupiah dua hari terakhir ini memang karena fundamental ekonomi kita yang cenderung masih postif. Itu tercermin dari BI Rate kemarin yang masih di posisi 7,5 persen. Artinya Bank Sentral masih confidance dengan kondisi ekonomi saat ini," kata Renny.
Sementara sentimen lain berupa bilateral swap yang dilakukan Bank Indonesia bersama sejumlah Bank Sentral di negara lain, seperti China, Jepang dan Korea Selatan cukup memberi imbas positif terhadap laju rupiah. Faktor domestik lain yang mempengaruhi rupiah datang dari rilis yang menyebutkan bahwa cadangan devisa per Februari 2014 Indonesia masih tinggi. "Itu juga jadi sentimen positif," imbuhnya.
Dari luar negeri, sentimen positif datang dari zona Eropa, di mana prospek ekonomi negara-negara di zona itu menunjukkan kecenderungan membaik.
"Kalau dari Eropa, pengutan euro itu kan biasanya berbarengan dengan penguatan rupiah. Memang euro sudah beberapa kali menguat karena Eropa itu prospek ekonominya akan lebih baik dari tahun lalu. Contohnya, seperti Jerman yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Eropa yang sedang menunjukkan pemulihan ekonomi di negaranya," papar Renny.
Sementara dari Amerika Serikat, katalis yang ada tidak cukup mendukung USD untuk merangkak naik dan justru bergerak cenderung datar.
"Tidak banyak data yang menguntungkan bagi pergerakan USD. Tingkat pengagguran juga masih tinggi di Amerika serikat, pertumbuhan ekonomi di negara tersebut pun belum sesuai harapan, sehingga USD bergerak cenderung datar," tandasnya.
Adapun IHSG pagi ini dibuka langsung memerah, terseret terkoreksinya Wall Street pada perdagangan semalam dan bursa Asia pagi tadi. IHSG merosot 42,87 poin atau 0,91 persen ke level 4.683,30.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg dibuka pada level Rp11.407 per USD. Posisi ini melemah 21 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.386 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari ini berada di level Rp11.421 per USD atau terdepresiasi 34 poin dibanding penutupan Kamis (13/3/2014) di level Rp11.387 per USD.
Data yahoofinance mencatat mata uang domestik hari ini pada level Rp11.425 per USD. Posisi ini memburukk 21 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp11.404 per USD.
Sementara data Sindonews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah perdagangan hari ini pada level Rp11.428 per USD. Posisi ini melemah 41 poin dibanding penutupan hari kemarin di level Rp11.387 per USD.
Analis pasar uang Bank Mandiri Renny Eka Putri mengatakan, meski rupiah awal pekan ini dibuka merosot, namun dengan banyaknya sentimen positif yang beredar, maka bukan hal yang mustahil bagi rupiah untuk menguat lagi di akhir pekan ini.
Namun demikian, menurut Renny, rentang rupiah pada perdagangan hari ini tidak akan setinggi perdagangan sebelum-sebelumnya lantaran pada perdagangan sehari kemarin dianggap sebagai penguatan kumulatif yang memang telah terjadi sejak awal pekan ini.
"Untuk perdagangan Jumat, trennya masih cenderung menguat, tapi mungkin tidak terlalu jauh penguatannya karena penguatan yang terjadi hari Kamis itu sudah akumulasi penguatan yang terjadi sejak awal pekan. Range-nya kita perkirakan di angka 11.325-11.420," kata Renny, Jumat (14/3/2014).
Sementara, bila menilik lajunya pada perdagangan kemarin, tetapnya besaran BI Rate disambut positif oleh pelaku pasar yang berbuah pada penguatan mata uang Indonesia.
"Penguatan rupiah dua hari terakhir ini memang karena fundamental ekonomi kita yang cenderung masih postif. Itu tercermin dari BI Rate kemarin yang masih di posisi 7,5 persen. Artinya Bank Sentral masih confidance dengan kondisi ekonomi saat ini," kata Renny.
Sementara sentimen lain berupa bilateral swap yang dilakukan Bank Indonesia bersama sejumlah Bank Sentral di negara lain, seperti China, Jepang dan Korea Selatan cukup memberi imbas positif terhadap laju rupiah. Faktor domestik lain yang mempengaruhi rupiah datang dari rilis yang menyebutkan bahwa cadangan devisa per Februari 2014 Indonesia masih tinggi. "Itu juga jadi sentimen positif," imbuhnya.
Dari luar negeri, sentimen positif datang dari zona Eropa, di mana prospek ekonomi negara-negara di zona itu menunjukkan kecenderungan membaik.
"Kalau dari Eropa, pengutan euro itu kan biasanya berbarengan dengan penguatan rupiah. Memang euro sudah beberapa kali menguat karena Eropa itu prospek ekonominya akan lebih baik dari tahun lalu. Contohnya, seperti Jerman yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Eropa yang sedang menunjukkan pemulihan ekonomi di negaranya," papar Renny.
Sementara dari Amerika Serikat, katalis yang ada tidak cukup mendukung USD untuk merangkak naik dan justru bergerak cenderung datar.
"Tidak banyak data yang menguntungkan bagi pergerakan USD. Tingkat pengagguran juga masih tinggi di Amerika serikat, pertumbuhan ekonomi di negara tersebut pun belum sesuai harapan, sehingga USD bergerak cenderung datar," tandasnya.
Adapun IHSG pagi ini dibuka langsung memerah, terseret terkoreksinya Wall Street pada perdagangan semalam dan bursa Asia pagi tadi. IHSG merosot 42,87 poin atau 0,91 persen ke level 4.683,30.
(rna)
Lihat Juga :