Penukaran uang meningkat rawan peredaran upal
Minggu, 16 Maret 2014 - 18:14 WIB
Penukaran uang meningkat rawan peredaran upal
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah V Jateng dan DIY memprediksi, selama triwulan pertama atau menjelang Pemilu Legislatif 9 April mendatang, jumlah uang yang keluar/dibayarkan akan meningkat sekitar 35 persen dan jumlah penukaran uang meningkat 40 persen.
Dengan meningkatnya peredaran uang masyarakat diharapkan mewaspadai peredaran uang palsu (upal).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah V Jateng dan DIY Sutikno mengatakan, tanda-tanda peningkatan tersebut sudah terlihat sejak dua bulan terkahir, dimana dari outflow atau jumlah uang yang keluar/dibayarkan dari BI mengalami peningkatan cukup signifikan.
Tercatat outflow BI pada Januari-Februari 2014 ini sebesar Rp1.658 Juta. Sedangkan di periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar Rp1.216 Juta. Hal ini berarti jumlah uang yang bereda mulai Januari–Februari meningkat sekitar 36 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Kenaikan ini tidak lepas dari persiapan pemilu dimana perputaran uang juga mengalami peningkatan,” katanya, Minggu (16/3/2014).
Tidak hanya perputaran uang yang mengalami peningkatan, tingkat penukaran uang di BI juga mengalami kenaikan. Penukaran rata-rata pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu dan Rp10 ribu.
Dia jelaskan, selama Januari-Februari 2014, jumlah penukaran uang sebesar Rp68.058 juta. Jumlah ini meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Januari-Februari 2013) yang tercatat sebesar Rp48.588 juta.
“Menjelang Pileg 9 April 2014 perputaran uang diprediksi akan meningkat sekitar 35 persen dan jumlah penukaran uang meningkat 40 persen,” katanya.
Dengan meningkatnya perputaran uang menjelang pemilu ini, masyarkat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap beredarnya uang palsu.
Ketua Lembaga Pendidikan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jateng Ngargono mengatakan, dengan meningkatnya peredaran uang menjelang pemilu hal ini menjadi celah bagi oknum-oknum tertentu untuk memalsukan uang.
”Semakin banyak uang yang bereda maka akan semakin mudah untuk dipalsukan, oleh sebab itu masyarkat harus berhati-hati,” katanya.
Dia mengatakan, kewaspadaan harus ditingkatkan terutama ketika melakukan transaksi di pasar-pasar tradisional. Pasalnya di pasar tradisional menjadi tempat paling rawan beredarnya upal.
Masyarakat diharapkan benar-benar teliti menerima uang hasil transaksi dengan melihat, meraba dan menerawang dengan benar, untuk menghindari mendapatkan uang palsu.
”Di pasar tradisional masih jarang yang memiliki alat deteksi upal. Kalau memang ragu dengan uang yang diterima sebaiknya dikembalikan atau segera lapor ke pihak berwajib,” ujarnya.
Dengan meningkatnya peredaran uang masyarakat diharapkan mewaspadai peredaran uang palsu (upal).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah V Jateng dan DIY Sutikno mengatakan, tanda-tanda peningkatan tersebut sudah terlihat sejak dua bulan terkahir, dimana dari outflow atau jumlah uang yang keluar/dibayarkan dari BI mengalami peningkatan cukup signifikan.
Tercatat outflow BI pada Januari-Februari 2014 ini sebesar Rp1.658 Juta. Sedangkan di periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar Rp1.216 Juta. Hal ini berarti jumlah uang yang bereda mulai Januari–Februari meningkat sekitar 36 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Kenaikan ini tidak lepas dari persiapan pemilu dimana perputaran uang juga mengalami peningkatan,” katanya, Minggu (16/3/2014).
Tidak hanya perputaran uang yang mengalami peningkatan, tingkat penukaran uang di BI juga mengalami kenaikan. Penukaran rata-rata pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu dan Rp10 ribu.
Dia jelaskan, selama Januari-Februari 2014, jumlah penukaran uang sebesar Rp68.058 juta. Jumlah ini meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Januari-Februari 2013) yang tercatat sebesar Rp48.588 juta.
“Menjelang Pileg 9 April 2014 perputaran uang diprediksi akan meningkat sekitar 35 persen dan jumlah penukaran uang meningkat 40 persen,” katanya.
Dengan meningkatnya perputaran uang menjelang pemilu ini, masyarkat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap beredarnya uang palsu.
Ketua Lembaga Pendidikan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jateng Ngargono mengatakan, dengan meningkatnya peredaran uang menjelang pemilu hal ini menjadi celah bagi oknum-oknum tertentu untuk memalsukan uang.
”Semakin banyak uang yang bereda maka akan semakin mudah untuk dipalsukan, oleh sebab itu masyarkat harus berhati-hati,” katanya.
Dia mengatakan, kewaspadaan harus ditingkatkan terutama ketika melakukan transaksi di pasar-pasar tradisional. Pasalnya di pasar tradisional menjadi tempat paling rawan beredarnya upal.
Masyarakat diharapkan benar-benar teliti menerima uang hasil transaksi dengan melihat, meraba dan menerawang dengan benar, untuk menghindari mendapatkan uang palsu.
”Di pasar tradisional masih jarang yang memiliki alat deteksi upal. Kalau memang ragu dengan uang yang diterima sebaiknya dikembalikan atau segera lapor ke pihak berwajib,” ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :