Harga minyak Asia naik setelah referendum Crimea
Senin, 17 Maret 2014 - 12:23 WIB
Harga minyak Asia naik setelah referendum Crimea
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak di perdagangan Asia hari ini naik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, seperti Amerika Serikat yang mengisyaratkan sanksi baru terhadap Moskow setelah Crimea memberikan suara dalam referendum untuk memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia.
Amerika Serikat sangat menolak pemungutan suara yang dilakukan pada Minggu, dan hal itu melanggar konstitusi Ukraina dan dilakukan di bawah tekanan intervensi militer Rusia.
Seperti dikutip dari AFP, Senin (17/3/2014), kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik 23 sen menjadi USD99,12 pada pertengahan perdagangan Asia pagi ini, dan minyak mentah Brent North Sea untuk Mei naik 11 sen menjadi USD108,32.
Tan Chee Tat, analis investasi pada Phillip Futures di Singapura mengatakan, negara-negara barat pimpinan AS cenderung untuk menjatuhkan sanksi tambahan pada Rusia, yang dinilai telah diatur memisahkan Crimea setelah pemerintah pro-barat mengambil alih di Kiev.
Sebuah pernyataan dari Gedung Putih mengatakan bahwa referendum tidak akan pernah diakui Amerika Serikat dan masyarakat internasional.
Presiden Barack Obama memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan mitra di Eropa siap untuk membebankan biaya tambahan pada Rusia atas tindakannya.
Pemungutan suara menunjukkan 95,5 persen suara mendukung Semenanjung Krimea meninggalkan Ukraina untuk bergabung dengan Rusia. Investor khawatir sanksi potensial terhadap Rusia dapat mengganggu gas dan minyak pasokan dari negara itu.
Lebih dari 70 persen gas dan minyak ekspor Rusia ke Eropa melalui Ukraina. Pedagang juga mengawasi pertemuan kebijakan yang dilakukan Federal Reserve (The Fed) baru berikutnya pada Selasa dan Rabu.
Bank Sentral AS diperkirakan untuk lebih memotong program stimulus ekonomi, karena tanda-tanda ekonomi menunjukkan pemulihan lebih lanjut. Kesehatan ekonomi AS adalah pengaruh utama terhadap harga minyak karena Amerika Serikat sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia.
Amerika Serikat sangat menolak pemungutan suara yang dilakukan pada Minggu, dan hal itu melanggar konstitusi Ukraina dan dilakukan di bawah tekanan intervensi militer Rusia.
Seperti dikutip dari AFP, Senin (17/3/2014), kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik 23 sen menjadi USD99,12 pada pertengahan perdagangan Asia pagi ini, dan minyak mentah Brent North Sea untuk Mei naik 11 sen menjadi USD108,32.
Tan Chee Tat, analis investasi pada Phillip Futures di Singapura mengatakan, negara-negara barat pimpinan AS cenderung untuk menjatuhkan sanksi tambahan pada Rusia, yang dinilai telah diatur memisahkan Crimea setelah pemerintah pro-barat mengambil alih di Kiev.
Sebuah pernyataan dari Gedung Putih mengatakan bahwa referendum tidak akan pernah diakui Amerika Serikat dan masyarakat internasional.
Presiden Barack Obama memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan mitra di Eropa siap untuk membebankan biaya tambahan pada Rusia atas tindakannya.
Pemungutan suara menunjukkan 95,5 persen suara mendukung Semenanjung Krimea meninggalkan Ukraina untuk bergabung dengan Rusia. Investor khawatir sanksi potensial terhadap Rusia dapat mengganggu gas dan minyak pasokan dari negara itu.
Lebih dari 70 persen gas dan minyak ekspor Rusia ke Eropa melalui Ukraina. Pedagang juga mengawasi pertemuan kebijakan yang dilakukan Federal Reserve (The Fed) baru berikutnya pada Selasa dan Rabu.
Bank Sentral AS diperkirakan untuk lebih memotong program stimulus ekonomi, karena tanda-tanda ekonomi menunjukkan pemulihan lebih lanjut. Kesehatan ekonomi AS adalah pengaruh utama terhadap harga minyak karena Amerika Serikat sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia.
(izz)
Lihat Juga :