Listrik di Jateng diambang kritis
Rabu, 19 Maret 2014 - 20:18 WIB
Listrik di Jateng diambang kritis
A
A
A
Sindonews.com - Deputy Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jateng dan DIY, Supriyono menjelaskan, kondisi kelistrikan di Jawa Tengah diambang kritis.
Menurutnya, kebutuhan listrik di Jateng-DIY mencapai 3.200 Megawatt (MW). Namun, kapasitas kelistrikan di Jateng dan DIY hanya mencapai 2.500 MW. Karena itu, Jateng masih kekurangan listrik.
Untuk memenuhi kekurangan ini, PLN hanya bisa mengandalkan sistem interkoneksi Jawa-Bali. "Tanpa ada penambahan pembangkit, (PLTU Batang) pada 2017 Jateng akan terjadi "nyala bergilir" karena kapasitas tidak mencukupi," katanya, Rabu (19/3/2014).
Supriyono mengatakan, sampai saat ini progres pembangunan PLTU Batang masih berkutat pada pembebasan lahan. Dari kebutuhan lahan seluas 200 hektare masih kurang sekitar 16 persen, yakni yang ada di desa Karanggeneng, Ponowareng dan Ujungnegoro.
"Seharusnya pada tahun ini sudah pembangunan, dan pada 2016 sudah beroperasi. Tetapi dengan kondisi yang berlarut-larut seperti ini tidak mungkin bisa," jelasnya.
Dia mengaku, PLN Distribusi Jateng dan DIY sangat bergantung pada pembangunan PLTU Batang. Pasalnya, jika sudah bisa direalisasikan, Jateng-DIY akan mendapatkan tambahan pasokan listrik mencapai 2x1.000 MW.
"Itupun sebenarnya belum aman untuk menopang kelistrikan di Jateng-DIY, karena idealnya harus memiliki cadangan 30 persen dari total penggunaan," pungkasnya.
Menurutnya, kebutuhan listrik di Jateng-DIY mencapai 3.200 Megawatt (MW). Namun, kapasitas kelistrikan di Jateng dan DIY hanya mencapai 2.500 MW. Karena itu, Jateng masih kekurangan listrik.
Untuk memenuhi kekurangan ini, PLN hanya bisa mengandalkan sistem interkoneksi Jawa-Bali. "Tanpa ada penambahan pembangkit, (PLTU Batang) pada 2017 Jateng akan terjadi "nyala bergilir" karena kapasitas tidak mencukupi," katanya, Rabu (19/3/2014).
Supriyono mengatakan, sampai saat ini progres pembangunan PLTU Batang masih berkutat pada pembebasan lahan. Dari kebutuhan lahan seluas 200 hektare masih kurang sekitar 16 persen, yakni yang ada di desa Karanggeneng, Ponowareng dan Ujungnegoro.
"Seharusnya pada tahun ini sudah pembangunan, dan pada 2016 sudah beroperasi. Tetapi dengan kondisi yang berlarut-larut seperti ini tidak mungkin bisa," jelasnya.
Dia mengaku, PLN Distribusi Jateng dan DIY sangat bergantung pada pembangunan PLTU Batang. Pasalnya, jika sudah bisa direalisasikan, Jateng-DIY akan mendapatkan tambahan pasokan listrik mencapai 2x1.000 MW.
"Itupun sebenarnya belum aman untuk menopang kelistrikan di Jateng-DIY, karena idealnya harus memiliki cadangan 30 persen dari total penggunaan," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :