Harga minyak Asia turun dipicu penguatan dolar AS
Jum'at, 21 Maret 2014 - 11:31 WIB
Harga minyak Asia turun dipicu penguatan dolar AS
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak di Asia hari ini turun, karena dolar yang lebih kuat setelah kepala Federal Reserve AS (The Fed) mengisyaratkan suku bunga naik awal tahun depan, namun terjadi kekhawatiran tentang krisis Crimea.
Seperti dikutip dari AFP, Jumat (21/3/2014), kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei jatuh 33 sen menjadi USD98,57 per barel dan minyak mentah Brent merosot 18 sen menjadi USD106,27.
Nilai tukar dolar AS pada Rabu (19/3/2014) melonjak, setelah Janet Yellen mengatakan kenaikan suku bunga akan terjadi sekitar enam bulan setelah program stimulus Fed berakhir.
Para ekonom menganggap itu akan terjadi peningkatan biaya pinjaman pada semester pertama 2015, terhadap perkiraan sebelumnya atas kenaikan di bagian akhir tahun ini. Dengan minyak mentah yang dihargai dalam dolar, membuat komoditas lebih mahal dan meredam permintaan.
"Kekuatan dolar AS menjadi hal yang paling berat pada patokan West Texas karena pasar memperpanjang reaksi atas pengumuman Fed," kata ANZ Bank, menurut Dow Jones Newswires.
Pedagang juga memantau peristiwa di Eropa Timur setelah semenanjung Krimea diserap Rusia setelah terjadi referendum kontroversial. Presiden AS Barack Obama kemarin mengumumkan akan memperluas sanksi terhadap para pejabat Rusia dan beberapa menit kemudian Kremlin memukul balik dengan larangan perjalanan terhadap para pejabat AS dan anggota parlemen, termasuk para pemimpin dari Kongres.
Analis menilai, Rusia menyediakan sekitar seperempat dari pasokan gas alam di Eropa, dengan sekitar 80 persen mereka ekspor melalui jaringan pipa di Ukraina. Pedagang merasa takut bahwa eskalasi krisis akan mengganggu persediaan tersebut.
Seperti dikutip dari AFP, Jumat (21/3/2014), kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei jatuh 33 sen menjadi USD98,57 per barel dan minyak mentah Brent merosot 18 sen menjadi USD106,27.
Nilai tukar dolar AS pada Rabu (19/3/2014) melonjak, setelah Janet Yellen mengatakan kenaikan suku bunga akan terjadi sekitar enam bulan setelah program stimulus Fed berakhir.
Para ekonom menganggap itu akan terjadi peningkatan biaya pinjaman pada semester pertama 2015, terhadap perkiraan sebelumnya atas kenaikan di bagian akhir tahun ini. Dengan minyak mentah yang dihargai dalam dolar, membuat komoditas lebih mahal dan meredam permintaan.
"Kekuatan dolar AS menjadi hal yang paling berat pada patokan West Texas karena pasar memperpanjang reaksi atas pengumuman Fed," kata ANZ Bank, menurut Dow Jones Newswires.
Pedagang juga memantau peristiwa di Eropa Timur setelah semenanjung Krimea diserap Rusia setelah terjadi referendum kontroversial. Presiden AS Barack Obama kemarin mengumumkan akan memperluas sanksi terhadap para pejabat Rusia dan beberapa menit kemudian Kremlin memukul balik dengan larangan perjalanan terhadap para pejabat AS dan anggota parlemen, termasuk para pemimpin dari Kongres.
Analis menilai, Rusia menyediakan sekitar seperempat dari pasokan gas alam di Eropa, dengan sekitar 80 persen mereka ekspor melalui jaringan pipa di Ukraina. Pedagang merasa takut bahwa eskalasi krisis akan mengganggu persediaan tersebut.
(izz)