BI: Banyak warga belum bisa bedakan uang palsu
Minggu, 23 Maret 2014 - 17:38 WIB
BI: Banyak warga belum bisa bedakan uang palsu
A
A
A
Sindoews.com - Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah V Jateng-DIY, melakukan sosialisasi pengenalan uang asli di halaman Ace Hardware Jalan Pahlawan, Semarang di sela-sela agenda car free day, Minggu (23/3/2014).
Sosialisasi tersebut untuk semakin meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap peredaran uang palsu menjelang pemilu. Sebelum memberikan sosialisasi, BI mengajak warga yang sedang menikmati car free day melakukan senam aerobic. Selain itu, BI juga memberikan doorprize untuk semakin menarik minat warga.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V, Marlison Hakim mengatakan, sosialisasi dilakukan di sela-sela car free day ini sengaja dilakukan supaya semakin banyak warga yang mengetahui keaslian uang.
Dia menjelaskan, berdasarkan data BI, dari satu juta lembar uang, paling banyak hanya ada delapan lembar uang palsu. Meski cukup kecil, namun warga masyarkat harus tetapi mewaspadai. Terlebih pelaku pemalsuan uang semakin lihai dalam mencetak uang palsu, sehingga sangat mirip.
Menurutnya, sosialisasi keaslian uang harus dilakukan secara berkala, dan terus menerus. Terlebih saat ini mendekat pemilu di mana peredaran uang mengalami kenaikan yang cukup besar.
"Yang perlu diketahui warga bukan ciri-ciri uang palsu tetapi ciri-ciri uang asli. Kita ingin masyarakat lebih tahu bagimana melakukan 3D (diraba, diliat dan diterawang), karena selama ini meskipun sudah sering disosialisasikan masih banyak warga yang belum tahu," ujarnya.
Menjelang pemilu atau dalam dua bulan terakhir ini, Kata Marlison, tingkat peredaran uang naik 35 persen dibandingkan periode yang sama pada 2013. Sementara, tingkat penukaran uang naik hampir dua kali lipat yakni mencapai 40 persen dan akan terus naik sampai mendekati hari H pemilu. Penukaran uang saat ini didominasi pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu.
"Untuk melakukan sosialisasi, selain melalui acara ini kita juga memiliki kendaraan penukaran uang yang akan terus berkeliling ke daerah-daerah. Kendaraan ini tidak hanya menerima penukaran uang tetapi juga dilengkapi peralatan untuk memberikan pengetahuan kepada warga terkait dengan keaslian uang," ujarnya.
Pihaknya mengaku kenaikan peredaran uang dan penukaran uang memang karena momen pemilu. Di mana banyak masyarkat sering melakukan transaksi melalui cash. Meski terjadi kenaikan, BI tidak akan melakukan pembatasan untuk melakukan penukaran uang. Siapapun termasuk calon legislatif akan dilayani. "Berapapun akan kita layani," ucapnya.
Salah seorang warga Heni mengaku, meskipun sudah mengetahui cara mendeteksi uang palsu, namun tetap saja dirinya pernah kecolongan, meskipun sudah di teliti. "Pernah waktu di pasar mendapatkan kembalian Rp50 ribu palsu, baru tahu kalau itu uang palsu saat akan di bawa ke bank," katanya.
Sosialisasi tersebut untuk semakin meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap peredaran uang palsu menjelang pemilu. Sebelum memberikan sosialisasi, BI mengajak warga yang sedang menikmati car free day melakukan senam aerobic. Selain itu, BI juga memberikan doorprize untuk semakin menarik minat warga.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V, Marlison Hakim mengatakan, sosialisasi dilakukan di sela-sela car free day ini sengaja dilakukan supaya semakin banyak warga yang mengetahui keaslian uang.
Dia menjelaskan, berdasarkan data BI, dari satu juta lembar uang, paling banyak hanya ada delapan lembar uang palsu. Meski cukup kecil, namun warga masyarkat harus tetapi mewaspadai. Terlebih pelaku pemalsuan uang semakin lihai dalam mencetak uang palsu, sehingga sangat mirip.
Menurutnya, sosialisasi keaslian uang harus dilakukan secara berkala, dan terus menerus. Terlebih saat ini mendekat pemilu di mana peredaran uang mengalami kenaikan yang cukup besar.
"Yang perlu diketahui warga bukan ciri-ciri uang palsu tetapi ciri-ciri uang asli. Kita ingin masyarakat lebih tahu bagimana melakukan 3D (diraba, diliat dan diterawang), karena selama ini meskipun sudah sering disosialisasikan masih banyak warga yang belum tahu," ujarnya.
Menjelang pemilu atau dalam dua bulan terakhir ini, Kata Marlison, tingkat peredaran uang naik 35 persen dibandingkan periode yang sama pada 2013. Sementara, tingkat penukaran uang naik hampir dua kali lipat yakni mencapai 40 persen dan akan terus naik sampai mendekati hari H pemilu. Penukaran uang saat ini didominasi pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu.
"Untuk melakukan sosialisasi, selain melalui acara ini kita juga memiliki kendaraan penukaran uang yang akan terus berkeliling ke daerah-daerah. Kendaraan ini tidak hanya menerima penukaran uang tetapi juga dilengkapi peralatan untuk memberikan pengetahuan kepada warga terkait dengan keaslian uang," ujarnya.
Pihaknya mengaku kenaikan peredaran uang dan penukaran uang memang karena momen pemilu. Di mana banyak masyarkat sering melakukan transaksi melalui cash. Meski terjadi kenaikan, BI tidak akan melakukan pembatasan untuk melakukan penukaran uang. Siapapun termasuk calon legislatif akan dilayani. "Berapapun akan kita layani," ucapnya.
Salah seorang warga Heni mengaku, meskipun sudah mengetahui cara mendeteksi uang palsu, namun tetap saja dirinya pernah kecolongan, meskipun sudah di teliti. "Pernah waktu di pasar mendapatkan kembalian Rp50 ribu palsu, baru tahu kalau itu uang palsu saat akan di bawa ke bank," katanya.
(izz)
Lihat Juga :