RI perlu waspadai dua tantangan baru ekonomi dunia
Senin, 24 Maret 2014 - 14:00 WIB
RI perlu waspadai dua tantangan baru ekonomi dunia
A
A
A
Sindonews.com - Meskipun situasi dan fundamental ekonomi saat ini relatif baik, namun Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah mengemukakan, Indonesia mewaspadai dua tantangan baru ekonomi dunia.
Dua tantangan yaitu jelang berakhirnya suku bunga murah negara maju, dan dampak pelemahan ekonomi Asia utamanya Tiongkok, Jepang, dan India.
Menurutnya, pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Janet Yallen yang memangkas kembali stimulus sebesar USD10 miliar dan menjadi USD55 miliar tiap bula, serta rencana menaikkan suku bunga dari 0,25 persen menjadi 1 persen pada akhir 2015 dan 2,25 persen pada 2016 telah menciptakan kepanikan di pasar keuangan global.
"Kondisi ini telah memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan Asia kembali ke Amerika Serikat," papar Firmanzah seperti dikutip dari situs resmi Setkab, Senin (24/3/2014).
Sebenarnya, kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, awal Maret 2014, seiring dengan semakin membaiknya fundamental ekonomi dan stabilnya situasi politik di Asia Tenggara, kepercayaan investor global semakin tinggi.
Dia menunjuk data dari Bloomberg sepanjang dua pekan awal Maret. Di mana, investor asing mencatatkan pembelian saham di Indonesia, Thailand dan Filipina mencapai USD1,6 miliar. "Inilah yang berkontribusi pada peningkatan IHSG dan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap USD," terangnya.
Namun, pasca pengumuman hasil rapat FOMC The Fed terakhir, telah membuat pasar keuangan panik. Sejumlah mata uang seperti baht Thailand, peso Filipina, yuan Tiongkok, ringgit Malaysia dan won Korea Selatan terdepresiasi cukup tajam terhadap USD.
Sementara, Rupiah, pada penutupan perdagangan Kamis (20/3) terdepresiasi sebesar 1,16 persen menjadi Rp11.446,3 per USD. Pada penutupan perdagangan Jumat (21/3/14) rupiah kembali ditutup menguat 0,18 persen menjadi Rp11.425 per USD.
Firmanzah menuturkan, efek kepanikan pasar juga tercermin pada IHSG, yang pada penutupan Kamis sempat turun 122,48 poin atau 2,54 persen dan menyentuh 4.698,97. Sebelum kemudian ditutup menguat tipis 1,24 poin pada perdagangan Jumat (21/3) berada di level 4.700,21.
Dia menjelaskan, dalam jangka pendek ekonomi Indonesia 2014-2016 akan disibukkan dengan perumusan kebijakan antisipasi pengurangan dan penghentian Quantitative Easing (QE) III, dan dinaikkannya suku bunga acuan The Fed.
"Pembalikan modal ke negara maju perlu kita antisipasi bersama karena berdampak kepada nilai tukar rupiah, IHSG, inflasi, cadangan devisa, neraca perdagagan dan neraca pembayaran," tuturnya.
Selain harus fokus mengantisipasi arus pembalikan modal, Indonesia juga harus memberikan perhatian serius terhadap pelemahan ekonomi negara-negara utama Asia, seperti Tiongkok, Jepang, dan India.
Sepanjang 2013 hingga triwulan 1-2014, ekonomi tiga negara tersebut terus melemah, serta mengalami perlambatan di luar perkiraan banyak kalangan. Antisipasi pembalikan arah pertumbuhan negara-negara besar Asia membutuhkan perhatian khusus mengingat dampaknya berpeluang besar menekan ekonomi Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Firmanzah menjelaskan, ekonomi Jepang yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia semakin tertekan akibat melebarnya defisit transaksi berjalan periode Januari 2014 yang mencapai 1,59 triliun yen atau sekitar USD15,4 miliar.
"Pertumbuhan ekonomi Jepang di kuartal terakhir 2013 juga hanya mampu menyentuh angka 0,7 persen atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yakni 1,0 persen," ujarnya.
Sementara, Tiongkok beberapa waktu lalu menurunkan proyeksi pertumbuhan 2014 ke level 7,5 persen atau lebih rendah dari target sebelumnya 7,7 persen. Sama halnya dengan India yang sepanjang 2012-2013 mencatatkan pertumbuhan di bawah 5 persen atau terendah dalam 10 tahun terakhir.
Pada kuartal terkahir 2013, pertumbuhan ekonomi India tercatat 4,7 persen atau melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 4.8 persen. Dengan kedua tantangan itu, kata Firmanzah, potensi terganggunya pertumbuhan di emerging countries akan semakin besar.
Hal ini tercermin dari kepanikan beberapa bank sentral di negara berkembang seperti Afrika Selatan, Brasil, dan Turki yang menaikkan suku bunganya secara ekstrem setelah menghadapi lonjakan inflasi dan pelarian modal.
"Ini juga mulai dirasakan di negara-negara seperti Malaysia dan Thailand paska melemahnya ekonomi utama Asia seperti Tiongkok dan Jepang," imbuhnya.
Terkait kedua tekanan tersebut, yang mendorong restrukturisasi arus modal keluar dan upaya stabilisasi melalui sejumlah instrument kebijakan, Bank Dunia memproyeksikan aliran modal masuk (capital inflow) ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia pada 2014 hanya di angka USD818,1 miliar atau menurun 21,2 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai USD1,038,5.
"Arus modal cenderung tertarik ke negara-negara yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi tinggi," jelas dia.
Dua tantangan yaitu jelang berakhirnya suku bunga murah negara maju, dan dampak pelemahan ekonomi Asia utamanya Tiongkok, Jepang, dan India.
Menurutnya, pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Janet Yallen yang memangkas kembali stimulus sebesar USD10 miliar dan menjadi USD55 miliar tiap bula, serta rencana menaikkan suku bunga dari 0,25 persen menjadi 1 persen pada akhir 2015 dan 2,25 persen pada 2016 telah menciptakan kepanikan di pasar keuangan global.
"Kondisi ini telah memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan Asia kembali ke Amerika Serikat," papar Firmanzah seperti dikutip dari situs resmi Setkab, Senin (24/3/2014).
Sebenarnya, kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, awal Maret 2014, seiring dengan semakin membaiknya fundamental ekonomi dan stabilnya situasi politik di Asia Tenggara, kepercayaan investor global semakin tinggi.
Dia menunjuk data dari Bloomberg sepanjang dua pekan awal Maret. Di mana, investor asing mencatatkan pembelian saham di Indonesia, Thailand dan Filipina mencapai USD1,6 miliar. "Inilah yang berkontribusi pada peningkatan IHSG dan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap USD," terangnya.
Namun, pasca pengumuman hasil rapat FOMC The Fed terakhir, telah membuat pasar keuangan panik. Sejumlah mata uang seperti baht Thailand, peso Filipina, yuan Tiongkok, ringgit Malaysia dan won Korea Selatan terdepresiasi cukup tajam terhadap USD.
Sementara, Rupiah, pada penutupan perdagangan Kamis (20/3) terdepresiasi sebesar 1,16 persen menjadi Rp11.446,3 per USD. Pada penutupan perdagangan Jumat (21/3/14) rupiah kembali ditutup menguat 0,18 persen menjadi Rp11.425 per USD.
Firmanzah menuturkan, efek kepanikan pasar juga tercermin pada IHSG, yang pada penutupan Kamis sempat turun 122,48 poin atau 2,54 persen dan menyentuh 4.698,97. Sebelum kemudian ditutup menguat tipis 1,24 poin pada perdagangan Jumat (21/3) berada di level 4.700,21.
Dia menjelaskan, dalam jangka pendek ekonomi Indonesia 2014-2016 akan disibukkan dengan perumusan kebijakan antisipasi pengurangan dan penghentian Quantitative Easing (QE) III, dan dinaikkannya suku bunga acuan The Fed.
"Pembalikan modal ke negara maju perlu kita antisipasi bersama karena berdampak kepada nilai tukar rupiah, IHSG, inflasi, cadangan devisa, neraca perdagagan dan neraca pembayaran," tuturnya.
Selain harus fokus mengantisipasi arus pembalikan modal, Indonesia juga harus memberikan perhatian serius terhadap pelemahan ekonomi negara-negara utama Asia, seperti Tiongkok, Jepang, dan India.
Sepanjang 2013 hingga triwulan 1-2014, ekonomi tiga negara tersebut terus melemah, serta mengalami perlambatan di luar perkiraan banyak kalangan. Antisipasi pembalikan arah pertumbuhan negara-negara besar Asia membutuhkan perhatian khusus mengingat dampaknya berpeluang besar menekan ekonomi Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Firmanzah menjelaskan, ekonomi Jepang yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia semakin tertekan akibat melebarnya defisit transaksi berjalan periode Januari 2014 yang mencapai 1,59 triliun yen atau sekitar USD15,4 miliar.
"Pertumbuhan ekonomi Jepang di kuartal terakhir 2013 juga hanya mampu menyentuh angka 0,7 persen atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yakni 1,0 persen," ujarnya.
Sementara, Tiongkok beberapa waktu lalu menurunkan proyeksi pertumbuhan 2014 ke level 7,5 persen atau lebih rendah dari target sebelumnya 7,7 persen. Sama halnya dengan India yang sepanjang 2012-2013 mencatatkan pertumbuhan di bawah 5 persen atau terendah dalam 10 tahun terakhir.
Pada kuartal terkahir 2013, pertumbuhan ekonomi India tercatat 4,7 persen atau melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 4.8 persen. Dengan kedua tantangan itu, kata Firmanzah, potensi terganggunya pertumbuhan di emerging countries akan semakin besar.
Hal ini tercermin dari kepanikan beberapa bank sentral di negara berkembang seperti Afrika Selatan, Brasil, dan Turki yang menaikkan suku bunganya secara ekstrem setelah menghadapi lonjakan inflasi dan pelarian modal.
"Ini juga mulai dirasakan di negara-negara seperti Malaysia dan Thailand paska melemahnya ekonomi utama Asia seperti Tiongkok dan Jepang," imbuhnya.
Terkait kedua tekanan tersebut, yang mendorong restrukturisasi arus modal keluar dan upaya stabilisasi melalui sejumlah instrument kebijakan, Bank Dunia memproyeksikan aliran modal masuk (capital inflow) ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia pada 2014 hanya di angka USD818,1 miliar atau menurun 21,2 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai USD1,038,5.
"Arus modal cenderung tertarik ke negara-negara yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi tinggi," jelas dia.
(izz)
Lihat Juga :